<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ahlan Wa sahlan di blognya ikhwan muwahid - insya Alloh</title>
	<atom:link href="http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ikhwanmuwahid.wordpress.com</link>
	<description>hanya menukil perkataan ulama</description>
	<lastBuildDate>Thu, 28 Jul 2011 16:15:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ikhwanmuwahid.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ahlan Wa sahlan di blognya ikhwan muwahid - insya Alloh</title>
		<link>http://ikhwanmuwahid.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/osd.xml" title="Ahlan Wa sahlan di blognya ikhwan muwahid - insya Alloh" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>YUSUF QARDHOWI, SANG PEMBELA LIBERALISME DEMOKRASI</title>
		<link>http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/2010/02/01/yusuf-qardhowi-sang-pembela-liberalisme-demokrasi/</link>
		<comments>http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/2010/02/01/yusuf-qardhowi-sang-pembela-liberalisme-demokrasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 16:50:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ikhwanbiasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/?p=194</guid>
		<description><![CDATA[Dr. Yusuf al-Qaradhawi mendukung demokrasi seraya berpendapat bahwa demokrasi merupakan alternatif terbaik untuk diktatorisme dan pemerintahan tirani. Berikut ini ringkasan pendapat Dr. Yusuf al-Qaradhawi mengenai demokrasi disertai dengan komentar terhadapnya. Dr. Yusuf al-Qaradhawi mengatakan: &#8220;Sesungguhnya sisi liberalisme demokrasi yang paling baik menurut saya adalah sisi politiknya, yang tercermin dalam penegakan kehidupan perwakilan, di dalamnya rakyat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikhwanmuwahid.wordpress.com&amp;blog=7017694&amp;post=194&amp;subd=ikhwanmuwahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dr. Yusuf al-Qaradhawi mendukung demokrasi seraya berpendapat bahwa demokrasi merupakan alternatif terbaik untuk diktatorisme dan pemerintahan tirani. Berikut ini ringkasan pendapat Dr. Yusuf al-Qaradhawi mengenai demokrasi disertai dengan komentar terhadapnya.</p>
<p>Dr. Yusuf al-Qaradhawi        mengatakan:</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya sisi liberalisme demokrasi yang paling baik menurut saya adalah sisi politiknya, yang tercermin dalam penegakan kehidupan perwakilan, di dalamnya rakyat dapat memilih wakil-wakil mereka yang akan memerankan kekuasaan legislatif di parlemen, dan di dalam satu majelis atau dua majelis.<br />
Pemilihan ini hanya bisa ditempuh melalui pemilihan umum yang bebas dan umum, dan yang berhak menerima adalah yang mendapat suara paling banyak dari para calon yang berafiliasi ke partai politik atau non-partai.<span id="more-194"></span></p>
<p>&#8220;Kekuasaan yang terpilih&#8221; inilah yang akan memiliki otoritas legislatif untuk rakyat, sebagaimana ia juga mempunyai kekuasaan untuk mengawasi kekuasaan eksekutif atau &#8220;pemerintah&#8221;, menilai, mengkritik, atau menjatuhkan mosi tidak percaya, sehingga dengan demikian, kekuasaan eksekutif tidak lagi layak untuk dipertahankan.</p>
<p>Dengan kekuasaan yang terpilih, maka semua urusan rakyat berada di tangannya, dan dengan demikian, rakyat menjadi sumber kekuasaan.<br />
Bentuk ini secara teoritis cukup baik dan dapat diterima, menurut kaca mata Islam secara garis besar, jika dapat diterapkan secara benar dan tepat, serta dapat dihindari berbagai keburukan dan hal-hal negatif yang terdapat padanya.<br />
Saya katakan &#8220;secara garis besar&#8221;, karena pemikiran Islam memiliki beberapa kewaspadaan terhadap beberapa bagian tertentu dari bentuk di atas.<br />
Kekuasaan terpilih itu tidak memiliki penetapan hukum untuk hal-hal yang tidak diizinkan oleh Allah Ta&#8217;ala. Kekuasaan ini juga tidak boleh menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal atau menggugurkan suatu kewajiban. Sebab, yang mem­punyai kekuasaan menetapkan hukum satu-satunya hanyalah Allah jalla Sya&#8217;nuhu.<br />
Manusia hanya boleh membuat hukum untuk diri mereka sendiri dalam hal yang diizinkan Allah Ta&#8217;ala saja. Artinya, hukum yang mengatur kepentingan dunia mereka yang tidak dimuat di dalam suatu nash tertentu, atau nash yang mengandung beberapa makna kemudian mereka memilih salah satu makna dan meng­gunakannya dengan memperhatikan kaidah-kaidah syari&#8217;at. Dalam hal itu terdapat medan yang sangat luas sekali bagi para pembuat undang-undang.<br />
Oleh karena itu, harus dikatakan: &#8220;Sesungguhnya rakyat merupakan sumber kekuasaan dalam batas-batas syari&#8217;at Islam.&#8221; Sebagaimana dalam Majelis Tasyri&#8217; (Badan Legislatif) harus ada komisi khusus yang dipegang oleh para ahli fiqih yang mampu mengambil kesimpulan dan melakukan ijtihad. Juga menilai ber­bagai ketetapan undang-undang, untuk mengetahui sejauh mana kesesuaiannya dan penyimpangannya dari syar&#8217;iat, walaupun sistem demokrasi sendiri tidak mensyaratkan hal tersebut, meski dalam undang-undang dinyatakan bahwa agama negara yang dianut adalah Islam.<br />
Kemudian, para calon wakil rakyat juga harus benar-benar memenuhi atau memiliki bekal yang kuat dalam agama dan akhlak serta beberapa ketentuan lainnya, misalnya keahlilan dalam bidang kepentingan umum dan lain sebagainya. Jadi, calon wakil rakyat tidak boleh dari seorang penjahat atau pemabuk atau suka mening­galkan shalat atau orang yang menganggap enteng agama.<br />
Di sana terdapat dua sifat yang        disyaratkan Islam bagi setiap orang yang akan mengemban suatu        pekerjaan.<br />
Pertama, mampu mengemban pekerjaan        ini dan mempunyai pengalaman di bidangnya.<br />
Kedua, amanah. Dengan sifat amanah inilah suatu pekerjaan akan terpelihara dan pelakunya akan takut kepada Allah Ta&#8217;ala. Itulah yang diungkapkan oleh al-Qur&#8217;an melalui lisan Yusuf as , di mana dia mengatakan (yang artinya) : &#8220;Berkata Yusuf, jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi ber­pengetahuan. &#8220;&#8216; (QS. Yusuf: 55).</p>
<p>Juga dalam kisah Musa as, melalui lisan puteri seorang yang sudah tua renta(yang artinya) : &#8220;Karena sesungguhnya, orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya. &#8221; (QS. Al-Qashash: 26).</p>
<p>Dengan demikian, kekuatan dan ilmu memerankan sisi intelektual dan profesional yang menjadi syarat suatu pekerjaan, sedangkan kemampuan menjaga dan amanat mencerminkan sisi moral dan mental yang memang dituntut pula untuk keberhasilan­nya.[1]</p>
<p>Dr. Yusuf al-Qaradhawi mengungkapkan: &#8220;Anehnya, se­bagian orang memvonis demokrasi sebagai suatu yang jelas-jelas merupakan bentuk kemungkaran atau bahkan kekufuran yang nyata, sedang mereka belum memahaminya secara baik dan benar sampai kepada substansinya tanpa memandang kepada bentuk dan cirinya.<br />
Di antara kaidah yang ditetapkan oleh para ulama terdahulu adalah, bahwa keputusan (hukum) terhadap sesuatu merupakan bagian dari pemahamannya. Oleh karena itu, barangsiapa meng­hukumi sesuatu yang tidak diketahuinya, maka hukumnya adalah salah, meskipun secara kebetulan bisa benar. Sebab, ibaratnya ia merupakan lemparan yang tidak disengaja. Oleh karena itu, di dalam hadits ditetapkan bahwa seorang hakim yang memberi ke­putusan dengan didasarkan pada ketidaktahuan, maka dia berada di neraka, sebagaimana orang yang mengetahui yang benar, tetapi dia menetapkan atau menghukumi dengan yang lain.<br />
Lalu apakah demokrasi yang didengung-dengungkan oleh berbagai bangsa di dunia, dan diperjuangkan oleh banyak orang, baik di dunia belahan barat maupun timur, di mana ada sebagian bangsa bisa sampai kepadanya setelah melalui berbagai pertempuran sengit dengan penguasa tirani, yang menelan banyak darah dan menjatuhkan ribuan bahkan jutaan korban manusia. Sebagaimana yang terjadi di Eropa timur dan lain-lainnya, dan yang banyak dari pemerhati Islam menganggapnya sebagai sarana yang bisa diterima untuk meruntuhkan kekuasaan monarki, serta memotong kuku­kuku politik campur tangan, yang telah banyak menimpa masyarakat muslim. Apakah demokrasi ini mungkar atau kafir, sebagaimana yang didengungkan oleh beberapa orang yang tidak memahami sepenuhnya lagi tergesa-gesa!!?!&#8221;<br />
Sesungguhnya substansi demokrasi -tanpa definisi dan istilah akademis- adalah memberikan kesempatan kepada rakyat untuk memilih orang yang akan mengurus dan mengendalikan urusan mereka, sehingga mereka tidak dipimpin oleh penguasa yang tidak mereka sukai, atau diatur oleh sistem yang mereka benci. Selain itu, mereka juga harus mempunyai hak menilai dan mengkritik<br />
jika penguasa melakukan kesalahan, juga hak opsi jika penguasa melakukan penyimpangan, dan rakyat tidak boleh digiring kepada aliran atau sistem ekonomi, sosial, kebudayaan, atau politik yang tidak mereka kenal dan tidak pula mereka setujui. Jika sebagian mereka menghalanginya, maka balasannya adalah pemecatan atau bahkan penyiksaan dan pembunuhan.&#8221;[2]</p>
<p>Sesungguhnya Islam telah mendahului sistem demokrasi dengan menetapkan beberapa kaidah yang menjadi pijakan substansi­nya, tetapi Islam menyerahkan berbagai rinciannya kepada ijtihad kaum muslimin sesuai dengan pokok-pokok agama mereka, ke­pentingan dunia mereka, serta perkembangan kehidupan mereka sesuai dengan zaman dan tempat, dan juga pembaharuan keadaan manusia.</p>
<p>Kelebihan demokrasi adalah, bahwa ia mengarahkan di sela­-sela perjuangannya yang panjang melawan kezhaliman dan kaum tirani serta para raja kepada beberapa bentuk dan sarana, yang sampai sekarang dianggap sebagai jaminan yang paling baik untuk menjaga rakyat dari penindasan kaum tirani.</p>
<p>Tidak ada larangan bagi umat manusia, para pemikir dan pemimpin mereka untuk memikirkan bentuk dan cara lain, barang­kali cara baru itu akan mengantarkan kepada yang lebih baik dan ideal. Tetapi, untuk mempermudah kepada hal tersebut dan me­realisasikannya ke dalam realitas manusia, kita melihat bahwa kita harus mengambil beberapa hal dari cara-cara demokrasi guna me­wujudkan keadilan, permusyawaratan, penghormatan hak-hak asasi manusia, serta berdiri melawan kesewenangan para penguasa yang angkuh di muka bumi ini.</p>
<p>Di antara kaidah syari&#8217;at yang ditetapkan adalah, bahwa sesuatu yang menjadikan hal yang wajib tidak sempurna kecuali dengannya, maka ia itu menjadi wajib, dan bahwasanya tujuan­tujuan syari&#8217;at yang diharapkan adalah jika tujuan-tujuan itu mem­punyai sarana pencapaiannya, maka sarana ini boleh diambil sebagai alat menggapai tujuan tersebut.</p>
<p>Tidak ada satu syari&#8217;at pun yang melarang penyerapan pe­mikiran teori atau praktek empiris dari kalangan non-muslim. Karena, Nabi saw sendiri pada perang Ahzab telah mengambil pemikiran &#8220;penggalian parit&#8221;, padahal strategi tersebut berasal dari strategi bangsa Parsi.</p>
<p>Selain itu, Rasulullah saw pernah juga mengambil manfaat dari tawanan musyrikin dalam perang Badar &#8220;dari orang-orang yang mampu membaca dan menulis&#8221; untuk mengajarkan baca tulis anak-anak kaum muslim.in, meski mereka itu musyrik. Dengan demikian, hikmah itu adalah barang temuan orang mukmin, di mana saja dia menemukannya, maka dia yang paling berhak atasnya.</p>
<p>Dalam beberapa buku, saya telah mengisyaratkan bahwa merupakan hak kita untuk mengambil manfaat dari pemikiran, strategi dan sistem yang bisa memberikan manfaat kepada kita, selama tidak bertentangan dengan nash muhkam (yang jelas) dan tidak juga kaidah syari&#8217;at yang sudah baku, dan kita harus memilih dari apa yang kita ambil untuk selanjutnya menambahkannya dan melengkapinya dengan bagian ruh kita serta hal-hal yang dapat menjadikannya sebagai bagian dari kita dapat dan menghilangkan identitas pertamanya.&#8221;3[3]<br />
Ungkapan seseorang yang mengatakan, bahwa demokrasi berarti kekuasaan rakyat oleh rakyat dan karenanya, harus ditolak prinsip yang menyatakan, bahwa kekuasaan itu hanya milik Allah semata, maka ungkapan semacam itu sama sekali tidak dapat di­terima.</p>
<p>Bagi para penyeru demokrasi tidak perlu harus menolak kekuasaan Allah atas manusia. Hal seperti itu tidak pernah terbersit di dalam hati mayoritas penyeru demokrasi. Tetapi yang menjadi konsentrasi mereka adalah menolak kediktatoran yang sewenang-­wenang, serta menolak pemerintahan otoriter terhadap rakyat.</p>
<p>Benar, setiap yang dimaksudkan dengan demokrasi oleh me­reka adalah memilih pemerintah oleh rakyat sesuai dengan hati nurani mereka, serta memantau tindakan dan kebijakan mereka, serta menolak berbagai perintah mereka jika bertentangan dengan undang undang rakyat, atau dengan ungkapan Islam: &#8220;Jika mereka memerintahkan untuk berbuat maksiat,&#8221; dan mereka juga mem­punyai hak untuk menurtmkan penguasa jika melakukan penyim­pangan dan berbuat zhalim serta tidak mau menerima nasihat atau peringatan. &#8220;[4]</p>
<p>Sesungguhnya undang-undang menetapkan, di samping ber­pegang pada demokrasi, bahwa agama negara adalah Islam dan bahwasanya syari&#8217;at Islam adalah sumber hukum dan undang­undang, dan yang demikian itu merupakan penegasan akan ke­kuasaan Allah atau kekuasaan syari&#8217;at-Nya, dan kekuasaan itulah yang memiliki kalimat tertinggi.</p>
<p>Dimungkinkan juga untuk menambahkan pada undang-g­undang materi yang secara tegas dan lantang menetapkan, bahwa setiap undang-undang atau sistem yang bertentangan dengan syari&#8217;at yang baku dan permanen, maka undang-undang itu adalah bathil.&#8221;[5]</p>
<p>Tidak ada ruang untuk pemberian suara dalam berbagai hukum pasti dari syari&#8217;at dan juga pokok-pokok agama serta hal­-hal yang wajib dilakukan dalam agama, tetapi pemberian suara itu pada masalah-masalah ijtihadiyah yang mencakup lebih dari satu pendapat. Sudah menjadi kebiasaan manusia untuk berbeda pendapat dalam hal tersebut, misalnya pemilihan salah satu calon yang akan menempati suatu jabatan, meskipun itu jabatan kepala negara, dan seperti juga pengeluaran undang-undang untuk me­ngatur lalu lintas jalan raya atau untuk mengatur bangunan tempat perdagangan atau industri atau rumah sakit, atau yang lainnya yang oleh para ahli fiqih disebut sebagai &#8220;mashalihul mursalah.&#8221; Atau seperti juga pengambilan keputusan untuk mengumumkan perang atau tidak, mengharuskan pembayaran pajak tertentu atau tidak, atau mengumumkan keadaan darurat atau tidak, atau mem­batasi jabatan Presiden, dan pembolehan membatasi masa pemilihan atau tidak, demikian seterusnya.</p>
<p>Jika banyak pendapat yang berbeda dalam masalah ini, maka apakah pendapat itu akan ditinggal menggantung begitu saja, apa­kah ada tarjih tanpa murajjah (yang diunggulkan)? Ataukah harus ada murajjah?<br />
Sesungguhnya logika akal, syari&#8217;at dan realitas menyatakan harus ada murajjah (yang diunggulkan), dan yang diunggulkan pada saat terjadi perbedaan pendapat adalah jumlah terbanyak. Sebab, pendapat dua orang itu lebih mendekati kebenaran daripada pen­dapat satu orang, dan dalam hadits disebutkan (yang artinya) : &#8220;Sesungguhnya, syaitan itu bersama satu orang dan dia (syaitan) lebih jauh dari dua orang.&#8221;,[7]</p>
<p>Ungkapan orang yang menyatakan, bahwa tarjih (pengung­gulan satu pendapat) itu adalah untuk yang benar meskipun tidak ada seorang pun pendukungnya. Adapun yang salah harus ditolak meskipun didukung oleh 99 dari 100. Ungkapan ini hanyalah tepat pada hal-hal yang ditetapkan oleh syari&#8217;at secara gamblang, tegas dan terang yang menyingkirkan perselisihan dan tidak mengandung perbedaan atau menerima pertentangan, dan hal itu hanya sedikit sekali. Itulah yang dikatakan: â€œJama&#8217;ah itu adalah yang sejalan dengan kebenaran meski engkau hanya sendirian.&#8221;&#8216;[8]</p>
<p>Sesungguhnya petaka pertama yang menimpa umat Islam dalam perjalanan sejarahnya adalah sikap mengabaikan terhadap kaidah musyawarah, dan perubahan &#8220;Khilafah Rasyidah&#8221; menjadi &#8220;kerajaan penindas&#8221; yang oleh sebagian sahabat disebut &#8220;kekaisaran&#8221;. Artinya, kekuasaan absolut Kaisar telah berpindah kepada kaum muslimin dari berbagai kerajaan yang telah diwariskan Allah ke­padanya. Padahal semestinya mereka mengambil pelajaran dari mereka dan menghindari berbagai kemaksiatan dan perbuatan hina yang menjadi sebab musnahnya negara mereka.</p>
<p>Apa yang menimpa Islam, umatnya, serta dakwahnya di zaman modern ini tidak lain adalah akibat dari pemberlakuan pemerintahan otoriter yang bertindak sewenang wenang terhadap umat manusia dengan menggunakan pedang kekuasaan dan emas­nya, dan tidaklah syari&#8217;at dihapuskan, skularisme diterapkan, serta umat manusia diharuskan berkiblat ke barat melainkan dengan paksaan, memakai besi dan api. Tidaklah dakwah Islam dan ge­rakannya dipukul habis-habisan serta tidak juga para penganut dan penyerunya dihajar dan dikejar-kejar melainkan oleh kekuasaan otoriter yang terkadang tanpa kedok dan terkadang dengan meng­gunakan kedok demokrasi palsu yang diperintahkan oleh kekuatan yang memusuhi lslam secara terang-terangan atau diarahkan dari balik layar.&#8221;[9]<br />
Di sini saya (Dr. Yusuf al-Qaradhawi) perlu menekankan, bahwa saya bukan termasuk orang yang suka menggunakan kata-­kata asing, seperti misalnya; demokrasi dan lain-lainnya untuk mengungkapkan pengertian-pengertian Islam.</p>
<p>Tetapi, jika suatu istilah telah menyebar luas di tengah-tengah umat manusia dan telah dipergunakan oleh banyak orang, maka kita tidak perlu menutup pendengaran kita darinya, tetapi kita harus mengetahui maksud istilah tersebut, sehingga kita tidak me­mahaminya secara keliru, atau mengartikannya secara tidak benar atau yang tidak dikehendaki oleh orang-orang yang membicarakannya, dengan begitu hukum kita terhadapnya adalah hukum yang benar dan seimbang. Meski istilah itu datang dari luar kalangan kita, hal itu tidak menjadi masalah. Sebab, poros hukum itu tidak pada nama dan sebutan, tetapi pada kandungan dan substansinya.&#8221;[10]</p>
<p>Saya (Dr. Yusuf al-Qaradhawi) termasuk orang yang me­nuntut demokrasi dalam posisinya sebagai sarana yang sangat mudah dan teratur untuk merealisasikan tujuan kita dalam kehidupan yang mulia, yang di dalamnya kita bisa berdakwah kepada Allah dan juga kepada Islam, sebagaimana kita telah beriman kepadanya, tanpa harus dijebloskan ke dalam penjara yang gelap atau dihukum di atas tiang gantungan.&#8221;[11]</p>
<p>Berkenaan dengan hal tersebut, dapat penulis katakan: &#8220;Dr. Yusuf al-Qaradhawi telah dengan sekuat tenaga membela demokrasi dalam menghadapi pemerintahan otokrasi atau pemerintahan tirani yang berbagai keburukan dan kesialannya telah dirasakan oleh Dr. Yusuf al-Qaradhawi dan Jama&#8217;ah Ikhwanul Muslimin. Oleh karena itu, Dr. Yusuf al-Qaradhawi berusaha keras mempertahankan demokrasi dengan segenap daya dan upaya.</p>
<p>Yang lebih baik dilakukan oleh Dr. Yusuf al-Qaradhawi adalah, menegakkan hukum Islam yang di dalamnya terdapat konsep musyawarah Islami yang sudah cukup bagi kita dan tidak lagi memerlukan demokrasi ala Barat meskipun kita memolesnya dengan berbagai kebaikan dan keindahan.</p>
<p>Jika kita menyaring demokrasi ini, lalu menambahkan bebe­rapa hal yang sesuai dengan agama kita atau mengurangi beberapa hal darinya yang memang bertentangan dengan agama, lalu mengapa kita harus menyebutnya demokrasi? Mengapa tidak menyebutnya syura (permusyawaratan) misalnya.</p>
<p>Dengan demikian, demokrasi Barat tidak disebut demikian kecuali diambil dengan seluruh kandungannya. Tetapi, jika diambil dengan melakukan penyesuaian, perubahan dan penyimpangan, maka hal itu secara otomatis menjadi sesuatu yang lain yang tidak mungkin kita sebut lagi sebagai demokrasi. Dalam hal ini, perum­pamaannya adalah sama dengan khamr jika rusak dengan sendirinya atau tindakan seseorang, maka pada saat itu tidak lagi disebut se­bagai khamr, tapi disebut cuka. Demikian pula demokrasi.<br />
Jadi, yang harus dilakukan oleh Dr. Yusuf al-Qaradhawi adalah menyeru kepada penegakan hukum Islam dengan menerap­kan sistem syura (permusyawaratan) yang adil, daripada mengobati suatu penyakit dengan penyakit lain, yang bisa jadi lebih berbahaya lagi bagi umat.[12]</p>
<p>A. KOMENTAR        JAMAL SULTHAN ATAS FATWA DR. YUSUF AL-QARADHAWI.</p>
<p>Ustadz Jamal Sulthan hafizhahullah mempunyai komentar yang sangat baik terhadap fatwa Dr. Yusuf al-Qaradhawi dalam hal demokrasi. Di sini saya bermaksud untuk menukilnya agar bisa diambil manfaat oleh para pembaca, dan agar para pembaca mengetahui titik-titik ketidakbenaran dari ucapan Dr. Yusuf al­Qaradhawi.</p>
<p>Jamal Sulthan mengatakan: &#8220;Masalah ini sangat penting sekali, dan ketika yang mengungkapkannya adalah seorang pakar fiqih sekaliber Dr. Yusuf al-Qaradhawi, maka masalahnya semakin bertambah penting, belum lagi mimbar yang menjadi tempat penyebaran fatwa yang dibaca tidak kurang dari satu juta orang berbahasa Arab. Maka pada saat itu, tidak diragukan lagi bahayanya akan lebih besar, dan dia mempromosikan dirinya kepada setiap penulis dan pemilik pemikiran.</p>
<p>Fatwa dalam format yang disebarluaskan tidak mempunyai tema sama sekali dan hampir tidak mempunyai nilai sama sekali, cukuplah bagi anda ketika anda dihadapkan suatu ungkapan yang anda bisa mengatakan: &#8220;itu benar,&#8221; bersikap sama seperti halnya ketika anda tidak bisa mengatakan: &#8220;Itu salah!&#8221; Namun, sesung­guhnya di sana ada suatu kerancuan yang aneh, dan beberapa hakikat obyektif dan histroris yang tidak diketahui Dr. Yusuf al-Qaradhawi, menyebabkan pembicaraannya terjadi kekeliruan, yang menuntut saya mengkaji cukup lama untuk mendiskusikan &#8220;segi dan pertim­bangan&#8221; fatwa dengan mengharapkan keluasan hati pemberi fatwa tersebut, dan kita tahu kesungguhan beliau untuk memperoleh kejelasan kebenaran, dimana pun berada serta perhatiannya yang tulus insya Allah terhadap berbagai masalah besar yang membuat sibuk generasi muslim pada zaman sekarang ini.</p>
<p>Dalam fatwa tersebut ditanyakan,        sebagaimana yang ditegas­kan oleh Ustadz Fahmi: &#8220;Apakah demokrasi itu        kufur?&#8221;<br />
Maka, Dr. Yusuf al-Qaradhawi membuka pembicaraannya dengan mengatakan: &#8220;Sesungguhnya substansi demokrasi adalah memberi­kan kesempatan kepada rakyat untuk memilih orang yang akan mengurus dan mengendalikan urusan mereka, sehingga mereka tidak dipimpin oleh penguasa yang tidak mereka sukai, atau diatur oleh sistem yang mereka benci. Selain itu, mereka juga harus mem­punyai hak menilai dan mengkritik jika penguasa melakukan ke­salahan, juga hak opsi jika penguasa melakukan penyimpangan. Rakyat tidak boleh digiring kepada aliran atau sistem ekonomi, sosial, kebudayaan, atau politik yang tidak mereka kenal dan tidak pula mereka setujui, dan itulah substansi demokrasi.&#8221;</p>
<p>Kemudian Dr. Yusuf al-Qaradhawi menambahkan seraya mengomentari: &#8220;Realitas menunjukkan, bahwa orang yang mem­perhatikan secara seksama substansi demokrasi, maka dia akan mendapatkan bahwa ia termasuk dari konsep Islam.&#8221;</p>
<p>Pendahuluan inilah yang menjadi kesalahan pertama dan substansial yang mengakibatkan fatwanya salah secara keseluruhan. Dr. Yusuf al-Qaradhawi telah menetapkan, bahwa substansi demokrasi adalah pemberian kesempatan kepada rakyat untuk memilih pemimpin mereka&#8230; dan seterusnya. Inilah salah satu produk pokok dari berbagai produk demokrasi atau salah satu tampilan dari berbagai penampilan demokrasi, tetapi itu bukan substansi demokrasi, sebagaimana yang dianggap oleh Dr. Yusuf al-Qaradhawi.<br />
Namun, demokrasi secara substansial adalah pe­nolakan terhadap teokrasi, yaitu sistem pemerintahan berdasarkan kekuasaan agama dan menjalankan pemerintahan atas nama Allah di muka bumi. Kelahiran demokrasi itu menurut perjalanan se­jarahnya adalah sebagai akibat dari pertikaian negara melawan gereja, hukum buatan manusia melawan hukum agama, hukum atas nama rakyat dan manusia melawan hukum atas nama Allah dan agama.</p>
<p>Dengan kata lain, kita bisa katakan bahwa demokrasi itu ada­lah sisi lain dari sekularisme, dan di antara dampaknya demokrasi adalah meniadakan perwalian masing-masing individu umat manusia dari pundak masyarakat. Sebab, jika kita menolak perwalian agama dan Tuhan untuk kepentingan rakyat, maka semua perwalian di bawahnya sudah pasti akan tertolak. Dari sini lahirlah berbagai sarana dan sistem yang mengatur seluk beluk masyarakat, yang mencegah munculnya kekerasan, penindasan dan kesewenangan dalam bentuk apa pun, dan itu berlangsung setelah negara sipil dengan para pemikir dan pendukungnya berhasil merealisasikan kemenangan akhir atas gereja dan para tokoh agama serta berhasil mencopot kekuasaan dari mereka, seperti yang diketahui oleh setiap pengkaji sejarah Eropa modern.</p>
<p>Di antara dampak dari kemenangan akhir bagi gerakan demokrasi ini adalah terhapusnya sifat kesucian dari semua posisi, masalah dan makna, selama tidak ditetapkan oleh rakyat sebagai sesuatu yang suci. Yang haram adalah apa yang menurut pendapat mayoritas orang sebagai haram, sedangkan yang halal adalah apa yang menurut pendapat mayoritas orang sebagai halal, dengan menutup mata dari setiap referensi yang lain, baik yang bersifat religius maupun yang lainnya. Sebab, jika anda menetapkan bahwa di sana terdapat referensi syari&#8217;at yang berada di atas manusia atau harus didahulukan sebelum pendapat rakyat, maka dengan demikian anda telah menggugurkan dasar demokrasi. Karena, jika anda mengatakan, misalnya &#8220;Sesungguhnya masalah ini berdasarkan nash al-Qur&#8217;an, tidak boleh dilakukan oleh manusia, maka dengan demikian, anda telah menjadikan hukum hanya pada Allah Ta&#8217;ala semata, bukan ada pada rakyat. Selama kekuasaan dan hukum ditarik dari rakyat, maka berakhirlah kisah demokrasi itu.</p>
<p>Demikian itulah kisah demokrasi secara ringkas dan ini pula yang menjadi substansinya, yang diketahui secara pasti oleh Ustadz Fahmi Huwaidi dan aliran pemikirannya. Dengan demikian, apa­kah kita bisa mengatakan seperti yang dikatakan oleh Dr. Yusuf al-Qaradhawi: &#8220;Barangsiapa yang memperhatikan secara seksama terhadap substansi demokrasi, niscaya dia akan mendapatkan bahwa demokrasi termasuk dari konsep Islam&#8221;. Atau kita akan mengata­kan seperti yang dikatakannya pula: &#8220;Islam telah mendahului demokrasi dengan menetapkan kaidah-kaidah yang menjadi dasar pijakan bagi substansinya, hanya saja Islam menyerahkan rincian­nya pada ijtihad kaum muslimin sesuai dengan ajaran agama mereka, kepentingan dunia mereka, serta perkembangan kehidupan mereka.&#8221;<br />
Yang tampak jelas sekali dari fatwa Dr. Yusuf al-Qaradhawi adalah, bahwa dia menggambarkan demokrasi dengan gambaran tertentu yang dia angan-angankan dan impikan, lalu dia mengeluar­kan fatwanya berdasarkan pada khayalan yang mempermainkan angan-angannya, bukan pada hakikat sejarah demokrasi dan obyek­tivitas yang membentuk istilah demokrasi dalam pemikiran manusia modern.<br />
Barangkali hal yang sangat jelas menunjukkan hal tersebut adalah ungkapan Dr. Yusuf al-Qaradhawi dalam fatwanya: &#8220;Dan ungkapan orang yang mengatakan bahwa demokrasi berarti pe­merintahan yang kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat, sehingga ada keharusan menolak prinsip yang menyatakan bahwa kekuasaan tertinggi berada di tangan Allah, adalah ungkapan yang sama sekali tidak dapat diterima, karena menyuarakan demokrasi tidak harus menolak kekuasaan tertinggi berada di tangan Allah atas semua umat manusia. Saya yakin hal seperti itu tidak pernah terbersit di dalam hati mayoritas penyeru demokrasi. Tetapi yang menjadi konsentrasi mereka adalah menolak kediktatoran yang sewenang-wenang, serta menolak pemerintahan yang menindas rakyat, baik itu penguasa zhalim maupun diktator.&#8221;<br />
Sebenarnya, saya (Jamal Sulthan) belum memahami benar ungkapan Dr. Yusuf al-Qaradhawi yang menyatakan: &#8220;Hal seperti itu tidak pernah terbersit di dalam hati mayoritas penyeru demo­krasi. Tetapi, yang menjadi konsentrasi mereka adalah menolak kediktatoran yang sewenang-wenang, serta menolak pemerintahan otoriter terhadap rakyat.&#8221; Apakah dia pernah melakukan penelitian yang menghasilkan hakikat tersebut? Jika lawannya mengatakan: &#8220;Sesungguhnya hal itu selalu terbersit di dalam hati mayoritas penyeru demokrasi,&#8221; lalu siapa yang akan menilai dan membenar­kan salah satu dari kedua ungkapan tersebut ?</p>
<p>Sesungguhnya fatwa syari&#8217;at memerlukan adanya ketelitian dan keakuratan dalam ucapan, lebih dari sekedar ungkapan yang hanya dilandasi perasaan (misalnya : â€œ Saya yakin hal seperti itu tidak pernah terbersit â€¦â€ dst â€“ed). Saya sangat memaklumi Dr. Yusuf al­Qaradhawi dalam hal kesungguhannya mempertahankan nilai­-nilai keadilan, kebebasan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia serta kehormatan mereka. Dalam hal itu, orang seperti dia dan saya mengetahui betapa kejam cambuk-cambuk para algojo, dan betapa menyeramkannya pula penjara para penindas. Namun demikian, pembicaraan masalah keadilan, kebebasan dan hak-hak asasi manusia merupakan suatu hal, sedangkan pengaturan istilah pemikiran politik untuk memberlakukan hukum syari&#8217;at terhadap­nya merupakan hal lain. Sebagaimana realitas terus berada seperti sediakala tidak berubah seperti yang saya duga. Kita perlu juga merenungi ucapan Dr. Yusuf al-Qaradhawi: &#8220;Orang muslim yang menyerukan demokrasi pada hakikatnya menyeru kepada­nya sebagai satu bentuk pemerintahan, yang dapat mewujudkan prinsip-prinsip politik Islam dalam pemilihan pemimpin, penetapan musyawarah dan loyalitas, serta penegakan amar ma&#8217;ruf nahi munkar, melawan kezhaliman, menolak kemaksiatan, khususnya jika sampai pada kekufuran yang jelas yang telah ada bukti dari Allah.&#8221;<br />
Di sini, saya setuju sekali dengan Dr. Yusuf al-Qara­dhawi mengenai kriteria yang dikemukakannya mengenai manhaj bagi pemerintahan Islam. Tetapi, apakah yang mendorong anda untuk meletakkan stempel demokrasi pada perbincangan ini dan manhaj tersebut? Apakah sebenarnya kesucian yang dikandung oleh istilah &#8220;buatan Barat, perkembangan, sejarah dan pertikaian­nya&#8221; untuk anda pertahankan dengan mati-matian dan memperindah penampilannya di hadapan kaum muslimin? Hal itu mengingatkan kita terhadap apa yang meliputi akal pikiran kaum muslimin pada tahun lima puluhan dan enam puluhan sekitar istilah &#8220;sosialisme &#8220;, sehingga mereka menjadikan sosialisme dan Islam dua sisi satu mata uang. Pengalaman yang sama juga kembali terjadi sekali lagi pada istilah demokrasi.</p>
<p>Sesungguhnya, demokrasi bukan apa yang anda rinci ber­dasarkan analogi Anda sendiri, atau dirinci oleh orang lain. Tetapi demokrasi merupakan satu kesatuan sistem untuk memelihara bangunan sosial. Terserah anda mau menerimanya atau menolak­nya, lalu mencari manhaj lain yang melahirkan bagi anda satu istilah lain yang orisinil yang sesuai dengan `aqidah, agama, sejarah dan kemanusiaan anda.</p>
<p>Jika kita boleh menerima istilah tersebut disertai dengan beberapa penyesuaian terhadapnya agar sejalan dengan lingkungan kita, lalu bagaimana pendapat anda mengenai istilah teokrasi, atau yang disebut dengan &#8220;pemerintahan berdasarkan ketuhanan&#8221;. Kita hanya akan menjauhkan diri dari monopoli para tokoh agama terhadap kekuasaan atas nama perwakilan langit sebagaimana yang diketahui oleh sejarah gereja Eropa, dan tinggallah bagi kita, yaitu menjadikan hukum Allah yang berkuasa atas umat manusia dan membatasi perundang-ungangan masyarakat. Pada saat itu, apakah kita bisa mengatakan bahwa substansi teokrasi yaitu &#8220;hukum Allah&#8221; adalah Islam?!</p>
<p>Dengan tolok ukur yang sama, jika anda mengatakan: &#8220;Se­sungguhnya demokrasi itu dari Islam,&#8221; maka dibenarkan pula untuk mengatakan: &#8220;Sesungguhnya teokrasi itu dari Islam !!!&#8221;<br />
Sedangkan kita akan mengatakan: &#8220;Sesungguhnya demokrasi dan teokrasi, keduanya adalah istilah Eropa yang lahir dan terbentuk serta menunjukkan (budaya) Barat, hal itu tidak memberikan man­faat bagi kita sebagai kaum muslimin. Sebab, Islam tidak mengenal pemerintahan pemuka agama, sebagaimana Islam juga tidak me­ngenal istilah &#8220;surat penebus dosa&#8221;, dan tidak pula mengenal istilah pertikaian antara negara sipil dan gereja, atau antara agama dan negara. Karena, Islam sebagai agama, sejarah, dan kebudayaan ber­beda dari Kristen sebagai agama, sejarah, dan kebudayaan. Hal itu memperlihatkan kepada kita secara pasti perbedaan berbagai istilah pemikiran, politik, dan metodologi antara keduanya (Islam dan Kristen).</p>
<p>Permasalahannya di sini adalah, bahwa sebagian kaum mus­limin berkhayal bahwa hak-hak asasi manusia, keadilan, kebebasan, hak suksesi kekuasaan dan larangan melakukan penindasan di muka bumi merupakan hal-hal yang diperjuangkan oleh sistem demokrasi bagi masyarakat, di mana tidak mungkin bagi mereka untuk meng­gambarkan prinsip-prinsip ini dapat terealisasi di bawah payung istilah lain dalam Islam. Yang demikian itu merupakan satu ke­salahan yang sangat berbahaya. Sesungguhnya hak-hak dan prinsip-­prinsip kemanusiaan itu hanya sekedar dampak dari kelahiran sekularisme atau demokrasi di masyarakat Eropa. Bersamaan dengan itu mungkin juga memproduksinya, memeliharanya, dan mem­berlakukannya di masyarakat lain tanpa melalui jalan sekularisme atau demokrasi.</p>
<p>Tetapi, dominasi pemikiran Barat atas berbagai aliran pe­mikiran dan politik dalam masyarakat kontemporer, dan tirani yang ditanamkan oleh Eropa ke dalam akal dan jiwa masyarakat dunia ketiga yang di antara mereka adalah sebagian kaum muslimin, tidak meninggalkan sedikit kesempatan pun bagi akal non-Eropa untuk memikirkan orisinalitas atau mengkhayalkan karya pe­mikiran atau metodologis yang tidak terpengaruh oleh &#8220;kutub Eropa&#8221;, serta berbagai manhaj dan istilahnya. Maka sebagian besar usaha-usaha &#8220;dunia ketiga&#8221; dalam bidang pemikiran, metodologi dan istilah -yang di antaranya adalah fatwa ini-, hanyalah sekedar catatan kaki atau catatan akhir atas matan (isi) yang berasal dari Eropa. Padahal kita -di lingkungan Islam-, hati nurani Islami me­nolak kecuali mencatat sikap kehati-hatiannya yang malu-malu itu terhadap demokrasi, sedangkan berpura-pura tidak mengetahui bahwa sikap kehati-hatian itu bermakna pada kenyataan obyektifnya sebagai penolakan terhadap demokrasi, tetapi kita masih terus ngotot untuk mempertahankan istilah tersebut, meskipun pada hakikatnya, secara obyektif, telah meninggalkannya.</p>
<p>Sesungguhnya Partai Kupu-Kupu Itali -Partai para pelacur- ­memaksakan dirinya masuk ke dunia partai, dan sebagian anggo­tanya masuk parlemen Itali, agar &#8220;suara pelacur&#8221; cukup untuk membuat berbagai ketetapan undang-undang baru di dalam masya­rakat, jika semua suara sama.</p>
<p>Yang tidak mau diakui oleh Dr. Yusuf al-Qaradhawi adalah, bahwa Partai Kupu-Kupu ini mengaspirasikan hak demokrasinya. Jika anda menolak keberadaannya atau menolak masuknya ke parlemen atau menolak keikutsertaannya dalam penghitungan dengan suara anggotanya, maka anda tidak demokratis, dan tin­dakan ini melawan demokrasi. Itulah hakikat obyektif, yang tidak ada alasan bagi anda terhadapnya, serta tidak ada tempat melarikan diri dari mengakuinya.</p>
<p>Benar bahwa anda menolak hal tersebut, dan saya pun demi­kian. Tetapi, makna hal itu adalah bahwa kita menolak demokrasi sebagai bingkai sistem bagi pemerintahan di suatu negara Islam. Tinggallah bagi saya dan anda mencarikan istilah baru dan sistem baru, yang menyatukan antara agama dan dunia, syari&#8217;at dan ma­syarakat, keadilan dan moral, kebebasan dan nilai-nilai, hak Allah dan hak hamba, dan semuanya itu adalah aspek-aspek yang tidak mempunyai hubungan dengan demokrasi.</p>
<p>Jangan anda merasa kesal tuanku (Dr. Yusuf al-Qaradhawi), jika masyarakat Barat menolak mengakui istilah dan sistem baru anda. Karena mereka memang menolak agama anda pada dasarnya, sebagaimana logika subyektif dari sistem demokrasi yang mengatur kehidupannya, mengharuskannya menerima pluralisme. Yang demikian itu, jika kita berhusnuzhzhan (berprasangka baik) ter­hadap kesungguhan mereka dalam memegang segala macam prinsip, apalagi yang menyangkut masalah hubungan antar negara.</p>
<p>Dalam fatwa Dr. Yusuf al-Qaradhawi tentang de­mokrasi, masih terdapat kerancuan lain, yaitu dalam usahanya melegitimasi beberapa sisi kekuasaan eksekutif dalam menerapkan demokrasi, di mana sang Doktor mempromosikannya kepada pemahaman beberapa pemerintah Islam. Lebih baiknya, kita simak apa yang dikatakan Doktor, kemudian simak juga komentar kami setelah itu.</p>
<p>Dr. Yusuf al-Qaradhawi mengatakan: &#8220;Di antara dalil-dalil menurut kelompok pemerhati Islam yang menunjukkan demokrasi adalah prinsip hasil import dan tidak ada hubungannya dengan Islam, adalah bahwa ia berdasarkan pada suara mayoritas, serta menganggap suara terbanyak merupakan pemegang kekuasaan dalam menjalankan pemerintahan dan mengendalikan berbagai permasalahan, dan dalam menilai serta memutuskan benar terhadap salah satu dari berbagai masalah yang berbeda-beda dengan meng­gunakan pemungutan suara terbanyak dalam demokrasi sebagai pemutus dan referensi. Maka, pendapat mana pun yang memenang­kan suara terbanyak secara absolut, atau terbatas pada beberapa kesempatan, itulah pendapat yang diberlakukan, meskipun ter­kadang pendapat itu salah dan bathil.</p>
<p>Padahal Islam tidak menggunakan sarana seperti itu dan tidak mentarjih (mengunggulkan) suatu pendapat atas pendapat yang Iain karena adanya kesepakatan pihak mayoritas, tetapi Islam melihat pada pokok permasalahan tersebut; Apakah ia salah atau benar? Jika benar, maka ia akan memberlakukannya, meskipun bersamanya hanya ada satu suara, atau bahkan sama sekali tidak ada seorang pun yang menganutnya. Jika salah,. maka ia akan me­nolaknya, meskipun bersamanya terdapat 99 orang dari 100 orang yang ikut.</p>
<p>Bahkan, nash-nash al-Qur&#8217;an menunjukkan bahwa suara mayoritas selalu berada dalam kebathilan dan selalu mengiringi para Thaghut, sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah Ta&#8217;ala ini(yang artinya) : &#8220;Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di­muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya.&#8221;(QS. Al-An&#8217;aam: 116).</p>
<p>Juga        firman-Nya(yang artinya) :<br />
&#8220;Dan sebahagian        besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya.&#8221;        (QS. Yusuf: 103).</p>
<p>Di dalam al-Qur&#8217;an, dilakukan pengulangan berkali-kali ter­hadap firman-Nya berikut ini(yang artinya) : &#8220;Tetapi kebanyakan manusza tidak mengetahui. &#8221; (QS. AI­A&#8217;raaf: 187).</p>
<p>Selanjutnya, Dr. Yusuf al-Qaradhawi menambahkan seraya mengomentari hal tersebut dengan mengatakan: &#8220;Ungkapan tersebut sama sekali tidak dapat diterima, sebab didasarkan pada suatu hal yang salah.â€</p>
<p>Seharusnya kita perlu membicarakan tentang demokrasi di dalam masyarakat muslim; yang mayoritas mereka dari kalangan orang orang yang berpengetahuan, berakal, beriman lagi bersyukur. Kita tidak hendak membicarakan tentang masyarakat kaum atheis atau kaum yang sesat dari jalan Allah:<br />
Kemudian, sesungguhnya terdapat beberapa hal yang tidak masuk ke dalam kategori voting dan tidak dapat diambil suaranya, karena ia termasuk bagian dari hal yang sudah tetap dan permanen yang tidak dapat diubah kecuali jika masyarakat itu berubah sendiri dan tidak menjadi muslim lagi.<br />
Jadi, tidak ada tempat bagi voting dalam berbagai ketetapan syariat yang sudah pasti dan juga pokok-pokok agama. Voting itu hanya pada masalah-masalah ijtihad saja yang bisa mencakup lebih dari satu pendapat. Sudah menjadi kebiasaan manusia untuk berbeda pendapat mengenai hal tersebut, jika terdapat berbagai pendapat yang berbeda-beda mengenai beberapa masalah. Lalu, apakah masalah-masalah itu akan dibiarkan bergantung begitu saja? Dan apakah ada pemilihan pendapat tanpa adanya yang diunggul­kan? Ataukah perlu adanya yang diunggulkan?</p>
<p>Logika akal, syari&#8217;at dan realitas menyatakan perlu adanya (orang) yang dimenangkan. Yang diutamakan pada saat terjadi perbedaan pendapat adalah jumlah mayoritas. Sebab, pendapat dua orang itu lebih mendekati kebenaran daripada pendapat satu orang. Dalam hadits pun sudah ditegaskan(yang artinya) :<br />
&#8220;Sesungguhnya,        syaitan itu bexsama satu orang dan dia (syaitan) lebih jauh dari dua        orang.&#8221;</p>
<p>Ditegaskan pula, bahwa Nabi saw pernah bersabda kepada Abu Bakar dan `Umar radhiallahu `anhuma(yang artinya) : &#8220;Jika kalian bersatu dalam suatu musyawarah, niscaya aku tidak akan menentang kalian berdua.&#8221;</p>
<p>Demikian yang diungkapkan oleh Dr. Yusuf al-Qaradhawi. Ungkapan Dr. Yusuf al-Qaradhawi di atas memerlukan ada­nya perincian, karena di dalamnya terdapat kerancuan dan beberapa hal yang membingungkan.</p>
<p>Pertama-tama, saya merasa heran karena Dr. Yusuf al-Qara­dhawi menempatkan pendapat lawan-lawannya yang menurutnya tidak benar dengan membuka ucapannya bahwa mereka berpen­dapat &#8220;Demokrasi adalah ajaran yang diimport dari Barat dan tidak mempunyai hubungan dengan Islam&#8221;.<br />
-        Apakah Dr. Yusuf al-Qara­dhawi mengetahui bahwa demokrasi merupakan        ajaran yang tidak diimport?<br />
- Dan bahwasanya demokrasi merupakan prinsip dasar yang lahir dan tumbuh di dalam buaian sejarah Islam disertai ber­bagai perubahan peradaban, manhaj, agama dan politik?<br />
- Lalu kapan hal itu terjadi?<br />
- Di zaman apa, jika dihitung dari sejak diutusnya Nabi ~ sampai pertengahan abad ke-19? Kapan Eropa mengimport demokrasi dari kaum muslimin?<br />
- Serta apakah rahasia-rahasia yang terdapat dalam peristiwa bersejarah dan menghebohkan itu yang tidak diketahui oleh seantero bumi selama kurun waktu yang begitu panjang?</p>
<p>Saya kira, Dr. Yusuf al-Qaradhawi tidak seharusnya mem­buka ucapannya dengan kalimat tersebut. Sebab, siapa pun dari kaum muslimin tidak akan dapat mengaklaim bahwa demokrasi itu merupakan ajaran yang tidak diimport dari sistem Eropa. Se­sungguhnya yang menjadi perbedaan pendapat adalah sikap Islam terhadap demokrasi itu. Ini yang pertama!<br />
Adapun ungkapan Dr. Yusuf al-Qaradhawi: &#8220;Se­harusnya kita perlu membicarakan tentang demokrasi di dalam masyarakat muslim, yang mayoritas mereka dari kalangan orang­orang yang berpengetahuan, berakal, beriman lagi bersyukur. Kita tidak hendak membicarakan tentang masyarakat kaum atheis atau kaum yang sesat dari jalan Allah.&#8221;</p>
<p>Yang demikian itu secara obyektif adalah kesalahan yang jelas. Sebab, demokrasi tidak mempersoalkan identitas, keimanan, kekufuran dan jenis nilai yang dibawa oleh seseorang, karena semuanya itu sama, baik itu orang alim yang bertindak sewenang-­wenang, Muslim dan Nasrani. Jika saya katakan: &#8220;Bahwa hak menerapkan demokrasi di masyarakat muslim tergantung pada orang muslim yang taat beragama, dan tidak masuk di dalamnya orang yang tidak taat beragama atau yang mempunyai identitas tidak jelas atau pemeluk Nasrani, Yahudi atau Atheis. Maka, artinya anda telah berbicara tentang sistem lain dan manhaj yang lain pula. Jelas, itu bukan lagi demokrasi.&#8221;</p>
<p>Demikian juga dengan ungkapan Dr. Yusuf ai-Qara­dhawi: &#8220;Kemudian, di sana terdapat beberapa masalah yang tidak masuk ke dalam voting dan tidak pula diperlukan pemungutan suara terhadapnya, karena semua itu merupakan bagian dari hal­-hal yang sudah baku dan tidak dapat dilakukan perubahan, kecuali jika masyarakat itu mengalami perubahan sendiri dan tidak menjadi muslim lagi.&#8221;</p>
<p>Perbedaan yang dianggap aneh oleh Dr. Yusuf al­Qaradhawi di sini adalah bahwa suatu masyarakat, jika mengalami perubahan dan tidak menjadi muslim lagi, maka dimungkinkan menjadi masyarakat yang demokratis. Tetapi, jika masih tetap menjadi masyarakat muslim, maka dapat dipastikan ia tidak akan demokratis, karena mempunyai sistem lain berupa hal-hal yang sudah baku, `aqidah dan nilai-nilai yang tidak mungkin untuk di­tundukkan pada pendapat manusia.<br />
Di sini, kita kembali lagi kepada pokok kesalahan pada kon­sepsi Dr. Yusuf al-Qaradhawi terhadap wujud dan substansi demokrasi. Di dalam demokrasi, rakyat merupakan tempat kembali sekaligus penguasa, pembuat ketetapan, dan penentu satu-satunya. Jika anda mengatakan, bahwa di sana terdapat beberapa hal yang tidak akan dapat ditundukkan pada voting atau tidak masuk pada ruang voting, maka dengan demikian anda tidak demokratis. Jika anda mengatakan, bahwa di sana terdapat beberapa hal pasti dan permanen, baik yang menyangkut masalah pemikiran, agama, moral, ekonomi atau politik yang tidak akan dapat diubah, maka pada saat itu anda juga tidak demokratis.</p>
<p>Demikian juga ungkapan Dr. Yusuf al-Qaradhawi: &#8220;Jadi , tidak ada ruang voting dalam berbagai ketetapan syari&#8217;at yang sudah pasti,&#8221; maka ungkapan itu pun sama sekali tidak demokratis. Sebab, pengakuan anda bahwa di sana terdapat syari&#8217;at yang me­merintah di atas kehendak dan kemauan manusia, maka yang demikian itu sebagai pukulan telak terhadap isi dan substansi demokrasi.</p>
<p>Apakah sekarang gambarannya sudah menjadi jelas dalam pandangan Dr. Yusuf al-Qaradhawi, Fahmi Huwaidi dan alirannya? Saya sependapat dengan mereka dalam setiap ketentuan, batasan dan bingkai yang diberikan oleh Dr. Yusuf al-Qaradhawi bagi politik masyarakat muslim, tetapi kesalahan mendasar adalah mereka menolak -dan saya tidak tahu mengapa- kecuali dengan meletakkan simbol demokrasi pada manhaj Allah dan sistem politik Islam. Apakah mereka menyangka, bahwa mereka telah memper­indah Islam dan manhajnya dengan tindakannya meletakkan slogan hasil impor dari Barat ini?</p>
<p>Sesungguhnya Islam, wahai para sahabatku, lebih baik, lebih tinggi, suci dan lebih lurus dari demokrasi dan dari segala konsep buatan manusia untuk mengatur politik masyarakat. Demi Allah, saya katakan itu tidak hanya sekedar untuk membela agama, atau sekedar militansi iman, tetapi yang demikian itu merupakan ke­yakinan yang teguh dari perjalanan panjang selama melakukan kajian, pertimbangan dan perenungan perhatian terhadap ber­bagai perubahan sejarah kemanusiaan terdahulu maupun modern sekarang ini.</p>
<p>Saudaraku sekalian, sesungguhnya dengan demikian itu kalian telah menimbulkan kegoncangan, keraguan dan kerancuan berpikir dalam otak dan hati nurani generasi muda pemegang panji kebang­kitan Islam yang diharapkan umat.</p>
<p>Mengapa kalian tidak mencari suatu pemikiran orisinil kon­struktif (yang berasal dari Islam), yang dengannya kalian membina proyek Islam yang fundamental untuk kebangkitan dan untuk mengatur aktivitas sosial Islami yang baru? Apakah tugas seorang ahli fiqih atau pemikir muslim sekarang ini harus menunggu produk dari Barat, baik pemikiran maupun materi, untuk ditempelinya dengan label tradisional: &#8220;Disembelih dengan cara Islami?&#8221;</p>
<p>Wahai saudaraku, apakah Islam tidak mengenal sistem, ma­syarakat, peradaban, teori-teori politik dan pola-pola manajemen sebelum munculnya demokrasi? Dan apakah Islam serta masyarakat­nya tidak mengetahui keadilan, kasih sayang, kebebasan, pencerahan, peradaban, permusyawaratan, pluralitas pemikiran dan paham, dan lain-lainnya, sebelum menculnya demokrasi?<br />
Jika Islam mengetahui semuanya itu, maka beritahukan hal itu kepada kami, lalu kembalikan bentuk dan formatnya, lalu kembangkanlah sistem dan kelembagaan, telitilah aturan-aturan dan sarana untuk merealisasikannya, serta lahirkanlah apa yang kalian butuhkan darinya berupa istilah-istilah orisinil dan simbol-­simbol Islami, yang mengekspresikan keistimewaan manhaj Islam dalam pemerintahan, daripada melakukan penjiplakan pemikiran, paham, dan istilah yang hina dan memalukan di hadapan kancah pemikiran Eropa modern.</p>
<p>Wahai Dr. Yusuf al-Qaradhawi, demokrasi dan sekularisme merupakan dua sisi mata uang Eropa. Orang yang mengatakan selain itu kepada Anda, berarti dia telah membohongi Anda. Dalam pandangan Islam, kedua hal tersebut (demokrasi dan sekularisme) ditolak. Tetapi penolakan terhadap keduanya tidak berarti kita menolak sebagian dari produknya yang hampir menyerupai nilai-nila.i Islam. Merupakan hak rakyat untuk memilih pemimpin atau penguasa dan hak mereka pula untuk melengser­kannya jika menyimpang, atau mempertanyakan kepadanya jika melakukan kesalahan, juga mempunyai kebebasan berpendapat, hak berbeda pendapat, menjaga kehormatan manusia, hak per­putaran kekuasaan, dan lain-lainnya. Semuanya itu merupakan pilar pilar pokok manhaj Islam dalam pemerintahan yang ditetapkan melalui nash Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, akan tetapi semua­nya itu merupakan pilar-pilar yang berdiri di atas dasar-dasar idealis dan `aqidah, yang diatur oleh ketentuan-ketentuan dan bingkai-­bingkai sistematis, yang berbeda total dari dasar-dasar dan ketentuan-­ketentuan yang dimainkan oleh demokrasi sebagai sistem bagi politik masyarakat manusia.</p>
<p>Wahai Dr. Yusuf al-Qaradhawi, bukan itu peranan Anda dan bukan itu pula problema Anda, semuanya itu merupakan tindakan ninabobo yang dimunculkan oleh para propagandis pen­cerahan yang mempunyai pemikiran berlebihan, yang mereka tidak mengemban tanggung jawab dan kebangkitan umat, mereka tidak mengetahui nilai agama mereka, juga tidak memahami bahwa mereka mengemban risalah Islam bagi seluruh alam semesta.</p>
<p>Wahai Dr. Yusuf al-Qaradhawi, fatwa Anda telah menyebar ke seluruh belahan bumi, yang telah dibaca dan diketahui oleh sebagian besar kaum terpelajar. Saya meminta kepada Anda dengan penuh kesungguhan, &#8220;agar Anda menjelaskannya bagi umat manusia dan tidak menyembunyikannya,&#8221; supaya mencermati kembali apa yang telah Anda tetapkan dalam masalah ini. Jika Anda mendapatkan kesalahan pada fatwa Anda, maka jelaskan kesalahan itu kepada umat manusia. Anda mestinya lebih adil daripada sekedar menolak kebenaran jika Anda mengetahuinya. Jika apa yang saya katakan itu salah atau menyimpang, Jelaskanlah kepada saya dan kepada umat manusia, mudah-mudahan Allah memberikan kita petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini. Segala puji bagi Allah pada permulaan dan akhirnya, dan tidak ada daya dan upaya melainkan dari Allah semata.&#8221;&#8216;[13]</p>
<p>Perlu penulis katakan: &#8220;Oleh karena Dr. Yusuf al-Qaradhawi percaya kepada demokrasi, maka sesungguhnya tidak diragukan lagi bahwa dia akan percaya terhadap segala resikonya, yaitu mun­culnya berbagai partai yang bersaing untuk kekuasaan.&#8221;</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
Foot Note :<br />
[1]        Al-Huluul al Mustaurida (hal. 77, 78).<br />
[2]        Fataazva&#8217;Mu&#8217;aashirah (II/637).<br />
[3] Ibid        (II/643).<br />
[4] Ibid (II/644-645)<br />
[5] Ibid (II/646).<br />
[6] HR.        At-Tirmidzi, dalam al-Fitan dari `Umar (2166).<br />
[7] Fataawa&#8217; Mu&#8217;aashirah (II/647-648).<br />
[8] Ibid (II/649).<br />
[9] Ibid        (II/649).<br />
[10] Ibid (II/650).<br />
[11] Ibid (II/650).<br />
[12] Bagi yang berminat menambah pengetahuan tentang masalah demokrasi ini sekallgus mengetahui sisi-sisi negatif dan keburukannya, hendaklah ia mem­baca risalah al-Islamiyyuun wa Saraabud Demoqrathiyyah karya `Abdul Ghani (telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia : Fenomena Demokrasi, Studi Analisis Perpolitikan Dunia Islam oleh Abdul Ghany bin Muhammad Ar-rahhal â€“ed), Haqiiqatud Demoqrathiyyah karya Muhammad Syakir asy-Syarif, ad-Demoqra­thryyah fil Miizaan karya Sa&#8217;id Abdul Azhim dan Khamsuuna Mafsadah jaliyyah min Mafasidid Demoqrathiyyah karya `Abdul Majid ar-Riimi.</p>
<p>Diambil dari buku Pemikiran Dr. Yusuf al-Qardhawi Dalam Timbangan. Judul asli al-Qaradhaawiy Fiil-Miizaan oleh Sulaiman bin Shalih Al-Khurasyi. Cetakan Pertama Dzulqa&#8217;dah 1423 H/Januari 2003</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ikhwanmuwahid.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ikhwanmuwahid.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ikhwanmuwahid.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ikhwanmuwahid.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ikhwanmuwahid.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ikhwanmuwahid.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ikhwanmuwahid.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ikhwanmuwahid.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ikhwanmuwahid.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ikhwanmuwahid.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ikhwanmuwahid.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ikhwanmuwahid.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ikhwanmuwahid.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ikhwanmuwahid.wordpress.com/194/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikhwanmuwahid.wordpress.com&amp;blog=7017694&amp;post=194&amp;subd=ikhwanmuwahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/2010/02/01/yusuf-qardhowi-sang-pembela-liberalisme-demokrasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0b62982a37de1e8daca30551caffcd2f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ikhwanbiasa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SYUBHAT DAN TUDUHAN YANG DILONTARKAN OLEH ORANG-ORANG IKHWAN</title>
		<link>http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/2010/02/01/syubhat-dan-tuduhan-yang-dilontarkan-oleh-orang-orang-ikhwan/</link>
		<comments>http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/2010/02/01/syubhat-dan-tuduhan-yang-dilontarkan-oleh-orang-orang-ikhwan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 16:44:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ikhwanbiasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/?p=190</guid>
		<description><![CDATA[Saudaraku&#8230; mudah-mudahan Allah memberi petunjuk kepadamu. Sesungguhnya, masalah jamaahmu ini adalah sangat unik dan aneh, hal ini dilihat dari cara muamalah di antara anggotanya. Mereka mengerahkan kesungguhan yang tidak gampang untuk membuat syubhat dan kedustaan, yang terlampau susah untuk membuat syubhat dan kedustaan, yang terlampau susah untuk mencari jalan keluarnya. Kemudian syubhat dan kedustaan tersebut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikhwanmuwahid.wordpress.com&amp;blog=7017694&amp;post=190&amp;subd=ikhwanmuwahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saudaraku&#8230; mudah-mudahan Allah memberi petunjuk kepadamu.</p>
<p>Sesungguhnya, masalah jamaahmu ini adalah sangat unik dan aneh, hal ini dilihat dari cara muamalah di antara anggotanya. Mereka mengerahkan kesungguhan yang tidak gampang untuk membuat syubhat dan kedustaan, yang terlampau susah untuk membuat syubhat dan kedustaan, yang terlampau susah untuk mencari jalan keluarnya. Kemudian syubhat dan kedustaan tersebut mereka lontarkan kepada orang-orang yang terikat dengan mereka&#8230; supaya tetap tinggal dengan mereka dan dikuasai oleh mereka dan oleh otak-otak mereka, kemudian sesudahnya mereka akan tetap bersama kelompok ini dan loyalitas mereka tetap kepada kelompok ini&#8230;!<span id="more-190"></span></p>
<p>Barangkali masalah ini sangat aneh menurut pandanganmu. Tidak&#8230; bukan berarti saya mengada-ada kedustaan atas mereka, akan tetapi dikarenakan kurang atau tidak adanya perhatian kepada masalah ini, juga karena kamu tidak mendengar dari sisi-sisi yang lain.</p>
<p>Aku sodorkan kepadamu sebagiannya&#8230;.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SYUBHAT PERTAMA</strong></p>
<p>Mereka membedakan antara salafiyyah yang ada di medan Islam dengan Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah. Yaitu mereka membagikan pembahasan didalam masalah ini dengan judul &#8220;Mufradaat as-Salafiyyah al-Jadidah&#8221; (Keganjilan-keganjilan Salafiyyah Gaya Baru) dan saya adalah termasuk orang-orang yang menerima bagian pembahasan ini tatkala saya berada didalam tanzhim (organisasi) mereka. Dan sungguh mereka membuat kebingungan yang mencegangkan. Hal itu mereka lakukan agar bisa memberi kerancuan kepada orang yang bergabung dengan kelompok mereka dan membuat suatu tameng didalam diri mereka yang memisahkan antara mereka dengan Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah (salafiyyah).</p>
<p>Mereka menyangka di dalam pembahasan yang dibagi-bagi ini bahwa salafiyyah yang ada sekarang ini tidaklah mempunyai perhatian kecuali hanyalah takfir (mengkafirkan), tabdi&#8217; (membid&#8217;ahkan),tafsiq (memfasiqkan) dan tadlil (menyesat-nyesatkan) dan bahwa mereka adalah alat pada suatu badan keamanan&#8230;. Tongkat-tongkat yang ada dibawah ketiak-ketiak peraturan yang timpang. Mereka adalah penakut untuk mengkritik para penguasa dan peraturan-peraturan yang ada, padahal semua hal tersebut pantas untuk mendapat kritik. Dan mereka juga penakut untuk terlibat lansung dengan masalah-masalah yang terjadi serba bisa menimbulkan kemurkaan bagi hakim (penguasa) dan peraturan.</p>
<p>Dan sesungguhnya mereka adalah lemah di dalam masalah adab bergaul bersama kaum muslimin, karena mereka didominasi oleh sifat kasar dan kaku. Mereka lemah di dalam masalah-masalah i&#8217;tikad (keyakinan) yang lurus dan selamat. Dan mereka juga lemah di dalam ilmu tentang realitas umat dan apa-apa yang menimpa mereka. Mereka pun mempunyai hukum-hukum yang serampangan, di antaranya perkataan:</p>
<p>Bahwa sesungguhnya Abu Hanifah adalah seorang Jahmiy, Murjiy dan seorang ahli bid&#8217;ah (mubtadi&#8217;) yang sesat. Merupakan kesialan bagi Islam dan ahlinya. Tidak terlahir di dalam Islam orang yang lebih sial/malang melebihi dia. Hal itu disaksikan oleh lebih dari dua puluh orang alim dari para ulama salaf, sehingga dia pantas untuk diberi nama Abu Jiifah (bapaknya bangkai).</p>
<p>Ibnu Taimiyyah: Tidak bisa diambil darinya hukum-hukum al- Wala&#8217; dan al- Bara&#8217;.</p>
<p>Ibnul Qayyim: Pada dirinya terdapat tashawwuf dan kebid&#8217;ahan.</p>
<p>An-Nawawi: Seorang Jahmi dan Asy&#8217;ari, bukan dari Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah.</p>
<p>Al-&#8217;Izz bin Abdussalam: seorang Jahmi dan Asy&#8217;ari, pada dirinya terdapat karakter (watak) Khawarij.</p>
<p>Adz-Dzahabi: Lunak di dalam hukum-hukumnya dan mutasahil (bersikap remeh/gampangan) terhadap ahli bid&#8217;ah dan juga dia adalah seorang kuburi.</p>
<p>Ibnu al-Jauzi: Seorang Jahmi tulen.</p>
<p>Muhammad bin Abdul Wahhab: Bukanlah seorang salafi di dalam masalah hadits, fiqh, dan sebagian masalah-masalah i&#8217;tikad.</p>
<p>Sayyid Quthb: Seorang Jahmi dan Hululi (yang berfaham wihdatul Wujud).</p>
<p>Hasan al-Banna: Seorang mufawwidh, sufi dan loyal terhadap Yahudi dan Nashrani.</p>
<p>At-Tilmitsani: Tukang tari dan seorang penabuh kecapi. Juga seorang yang menghalalkan dan membolehkan apa-apa yang diharamkan Allah.</p>
<p>Ibnu Jibrin: Tidak ada ilmunya.</p>
<p>Ibnu Bazz: Lemah ilmunya terhadap hadits, meragukan di dalam berfatwa, diam terhadap ahli bid&#8217;ah dan tertipu dengannya.</p>
<p>Ibnu Utsaimin: Permainan di tangan Sururiyyin.</p>
<p>Ibnu Qu&#8217;ud: Seorang yang berfaham Khawarij dan loyal terhadap jamaah-jamaah sesat.</p>
<p>Jihad di Bosnia, bukanlah jihad fi sabilillah. Pertempuran di Kashmir, Filipina dan Palestina, bukan jihad&#8230; dan seterusnya.</p>
<p>Mereka juga mempunyai akhlak-akhlak dan perangai-perangai tertentu, diantaranya: Saling mengisolir di antara mereka, saling membenci, memaki dan mencela. Sangat kaku terhadap manusia. Menuduh dengan rusaknya akidah, semata-mata karena seseorang dituduh mempunyai buku-buku yang mereka tuduh dengan kebid&#8217;ahan&#8230;. Pendustaan secara terang-terangan terhadap rivalnya&#8230;. Membantu orang-orang zhalim dan fasik untuk menindas saudara-saudara mereka kaum muslimin dari para ulama dan dai.</p>
<p>Hal itu dengan cara menulis pernyataan-pernyataan, menyebarkan tuduhan dan menganjurkan para penguasa untuk melawan mereka.</p>
<p>Dan tuduhan-tuduhan dusta serta lacut lainnya yang tidak mungkin diucapkan oleh orang yang takut kepada Allah dan hari akhir terhadap saudaranya yang muslim. Semoga Allah melindungi kami dan suadara dari ketergelinciran dan kesesatan. <strong><sup>1</sup></strong>)</p>
<ol>
<li>Barangsiapa yang ingin untuk membaca pembahasan tersebut,layangkanlah surat kepada saya dengan alamat yang akan saya jelaskan pada akhir tulisan, insya Allah. Saudaraku, semoga Allah memberi petunjuk kepada saya dan anda terhadap jalan kebenaran. Tahukah anda, kenapa kedustaan besar yang mereka rekayasa didalam pembahasan ini? Tidak lain adalah agar bisa memberikan kerancuan terhadap anda, sehingga anda benci terhadap salafiyyah Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah dan anda tetap berpegang dengan jamaah, kesesatan dan kegelapan mereka, serta menjadi penyeru kepada manhaj mereka, sembari menyangka bahwa itu adalah manhaj yang benar.</li>
</ol>
<p>Dan dari sanalah, anda tidak akan melihat nur (cahaya) selamanya, kecuali jika Allah memperbaiki anda dengan rahmat-Nya. Karena itulah, berikut ini akan saya jelaskan kedustaan mereka terhadap Salafiyah:</p>
<p>PERTAMA:</p>
<p>Bahwa sesungguhnya tidak ada perbedaan antara Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah, ath-Thaifah al-Manshurah dan salafiyyah. Hal itu karena manhaj mereka adalah Kitab dan Sunnah yang shahih, serta apa yang salaful ummah ridwanallahi &#8216;alaihim ada di atasnya. Berbeda dengan jamaahmu, maka mereka di atas manhaj Kitab dan Sunnah dan apa yang generasi akhir umat ini berada di atasnya berupa bentuk-bentuk pemikiran dan pergerakan.</p>
<p>Demikian mereka menyangka. Masalah itu telah jelas bagimu tatkala saya menampilkan manhaj para pemimpinmu pada waktu yang telah lewat.</p>
<p>KEDUA:</p>
<p>Kata-kata pembahas Semoga Allah memberi petunjuk kepadanya bahwa salafiyyah mengkafir-kafirkan dan menyesat-nyesatkan serta berbuat ini dan itu seperti yang telah saya jelaskan, tidak lain hanyalah kedustaan dan rekaan. Hal itu dilakukan adalah untuk melarikan saudara-saudara pemula dan para pemuda dari dakwah yang benar ini.</p>
<p>KETIGA:</p>
<p>Perbedaan dia (semoga Allah membalasnya dengan apa-apa yang menjadi haknya) antara salafiyyah sekarang dengan ulama-ulama istimewa terdahulu seperti: Abu Hanifah, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Muhammad bin Abdul Wahhab dan lain-lain serta persangkaan dia bahwa salafiyyah sekarang mencela dan menganggap sesat mereka seperti di dalam pembahasan, tidak lain hanyalah menunjukkan atas kejelekan isi hati penulis dan hizbiyyah yang pahit dan menyesatkan sampai batas sejauh ini. Dan itu dilakukan untuk mengacaukan dakwah salafiyyah. Karena itulah saya berkata agar diketahui oleh semuanya bahwa pimpinan salafiyyah, Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah dan ath-Thaifah al-Manshurah adalah satu, yaitu Nabiyyul Huda Muhammad &#8216;alaihi shalatu wassalam. Dan mereka (salafiyyin) menempuh jalan beliau <em>shalallahu &#8216;alaihi wasallam </em>yang ditempuh oleh Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan para shahabat semua serta pengikut mereka dengan baik seperti: Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi&#8217;i, Ahmad bin Hanbal, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Muhammad bin Abdul Wahhab, Muhammad bin Ibrahim, Abdurrahman bin Sa&#8217;di. Dan di antara orang-orang zaman sekarang adalah seperti Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin, Al-Albani dan banyak lagi lainnya semoga Allah memberi ridha kepada mereka semua-. Dan mereka (Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah) berkeyakinan bahwa mereka tidak maksum kecuali Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wasallam</em>.</p>
<p>Maka jika terjadi ketergelinciran pada salah seorang dari mereka, ditinggalkan ketergelincirannya, karena mereka tidak maksum. Dan mereka di dalam perkara tersebut berada di antara satu atau dua pahala seperti di dalam sunnah yang shahih dari Nabi shalallahu &#8216;alaihi wasallam tentang hukum mujtahid. Jika benar dia mendapat dua pahala dan jika salah dia mendapat satu pahala. Hal itu terjadi karena madzhab mereka adalah dalil yang shahih serta meneliti jejak langkah Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wasallam </em>dan para shahabatnya yang mulia.</p>
<p>Berbeda dengan al-Banna, at-Tilmisani, Sa&#8217;id Hawa dan lainnya, sebagaimana tidak samar lagi bagi setiap orang yang mempunyai bashirah (ilmu) tentang keadaan mereka rahimahullaha ajma&#8217;in.</p>
<p>KEEMPAT:</p>
<p>Perlu anda ketahui bahwa ulama salafiyyah sekarang yang mereka itu adalah Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah, mereka adalah: Ibnu Baz, Al-Albani, Ibnu Utsaimin, Ibnu Qu&#8217;ud, Shalih aalu asy-Syaikh, al-Fauzan, Rabi&#8217; al-Madkhali, Ibnu Ghashun dan lainnya <strong><sup>2</sup></strong>). Dan sesungguhnya tidak ada perbedaan di antara mereka dengan salafiyyah, sebagaimana anggapan penulis -semoga Allah memberi petunjuk kepadanya-. Tetapi dia membedakan didalam masalah tersebut agar bisa menyampaikan fikrah yang dia inginkan kepada para pemuda, yaitu bahwa manhaj yang para ulama besar sekarang seperti Ibnu Baz, al-Albani, Ibnu Utsaimin dan lainnya. Dan sungguh buah pemikiran tersebut telah nampak ketika seorang pemuda Ikhwani yang terancukan pikirannya dan seorang yang membawa akidah Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah menjadi tidak suka dan benci terhadap setiap orang yang menamakan diri dengan salafiyyah, walaa haula walaa quwwata illa billah.</p>
<p>2) Hal ini tidaklah berarti bahwa salafiyyah adalah monopoli seseorang, seperti yang dianggap oleh sebagian orang.</p>
<p><strong>SYUBHAT KEDUA</strong></p>
<p>Perkataan mereka bahwa salafiyyah (Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah dan ath- Thaifah al-Manshurah) menentang amal jama&#8217;i (kerja sama) dan tanzhim (organisasi).</p>
<p>Samahatusy-Syaikh Muqbil al-Wadi&#8217;i seorang muhaddits negeri Yaman telah ditanya:</p>
<p>Apakah benar wahai Syaikh bahwa anda tidak melihat perlunya tanzhim pada semua urusan dakwah?</p>
<p>Maka beliau hafizhahullah menjawab setelah menetapkan adanya tanzhim didalam Sirah (biografi) Rasul <em>shalallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, seraya berkata:</p>
<p>&#8220;Yang kami ingkari adalah tanzhim yang menyelisihi Kitab dan Sunnah. Inilah yang kami ingkari. Dan kami katakan: Sungguh seseorang hidup sendirian itu lebih baik daripada masuk ke dalam tanzhim thaghut yang menyelisihi Kitab dan Sunnah Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam&#8230; ya, dan ini adalah perkara yang disebarkan bahwa Ahlus Sunnah menentang tanzhim dan bahwa mereka menentang amal jama&#8217;i (kerja sama).</p>
<p>Saya katakan: Yang menentang amal jama&#8217;i atau yang mengingkari tanzhim bukanlah seorang sunni, karena Allah &#8216;azza wa jalla berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia:</p>
<p><em>&#8220;Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong di dalam berbuat dosa dan pelanggaran.&#8221; </em>(al- Maidah: 2)</p>
<p>Dan Nabi shalallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:</p>
<p><em>&#8220;Seorang mukmin dengan seorang mukmin lainnya adalah seperti bangunan, saling menguatkan sebagian atas sebagian yang lainnya.&#8221;</em> [Diriwayatkan oelh al-Bukhari (X/450 - Fathul Bari) dan Muslim (2585), pent.]</p>
<p>Dan beliau <em>shalallahu &#8216;alaihi wasallam </em>bersabda:</p>
<p><em>&#8220;Perumpamaan kaum mukminin di dalam saling mencintai, mengasihi dan menyayangi di antara mereka adalah seperti tubuh. Jika mengeluh salah satu anggota dari tubuh tersebut, akan merasakan seluruh jasad baik dengan demam atau tidak bisa tidur.</em> [Bukhari (X/347 - Fathul Bari) dan Muslim (2586), pent.]</p>
<p>Al-Amal al-Jama&#8217;i (kerja sama) yang menyelisihi Kitab dan Sunnah contohnya adalah yang al-Ikhwan al-Muflisun (orang-orang yang bangkrut) <strong><sup>3</sup></strong>) berada di atasnya.</p>
<p><strong>3)</strong> Syaikh hafizhahullah memaksudkan al-Ikhwan al-Muslimin. Al-Muflisun artinya adalah orang-orang yang bangkrut. (pent.)</p>
<p><strong>SYUBHAT KETIGA:</strong></p>
<p>Perkataan mereka adalah salafiyyah adalah salah satu jamaah dari jamaah- jamaah tanzhim, walaupun menentang tanzhim dan termasuk jamaah-jamaah hizbiyyah, walaupun menolak tahazzub (pengelompokan) .<strong><sup> 4</sup></strong>)</p>
<p>4) Artinya tanzhim yang mereka berada di atasnya, dan hizbiyyah yang mereka terkungkung di dalamnya.</p>
<p>Di sini saya katakan, sudah jelas kedustaan ini bertentangan dengan syubhat kedua Tetapi ini adalah kebiasaan ahli batil, para pendusta dan para pendengki dari kalangan hizbiyyin. Mereka mempertentangkan diri mereka dengan pribadi mereka sendiri dengan bersandar kepada kedustaan dan rekayasa.</p>
<p>Karena mereka tidak mampu untuk membantah dengan bantahan yang ilmiah dan benar terhadap ahlul haq tentang apa yang mereka jelaskan dari kemungkaran-kemungkaran dan bid&#8217;ah-bid&#8217;ah yang terdapat pada hizb-hizb ini.</p>
<p>Sama sekali mereka tidak akan mampu melakukan hal tersebut!</p>
<p>Orang yang memperhatikan sirah Rasul <em>shalallahu &#8216;alaihi wasallam </em>mendapatkan dan memperoleh hal tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang kafir <strong><sup>5</sup></strong>) -semoga Allah membinasakan mereka- terhadap Nabi shalallahu &#8216;alaihi wasallam. Terkadang mereka mengatakan bahwa beliau adalah seorang penyair, dan syi&#8217;ir tidak mungkin mampu kecuali orang yang mempunyai akal yang istimewa&#8230;. Dan pada kesempatan lain</p>
<p>mereka mengatakan bahwa beliau gila&#8230;, maka lihatlah pertentangan tersebut!</p>
<p><strong><sup>5</sup></strong><strong><sup>)</sup></strong> Tentu dengan adanya perbedaan antara orang-orang kafir dan orang Ikhwan, maka mereka (Ikhwan) adalah orang-orang muslim.</p>
<p>Tujuan mereka dari kedustaan ini jelas sekali tidak ada kesamaan diatasnya, mereka ingin menggambarkan kepada orang-orang yang tergabung didalam jamaah mereka bahwa salafiyyah adalah hizb seperti hizb-hib yang lain. Keadaan salafiyyah seperti keadaan mereka. Masing-masing menyempurnakan sebagian atas sebagian yang lain seperti yang mereka sangka. Ini adalah kedustaan dan rekayasa. Hal ini dilihat dari beberapa segi:</p>
<ol>
<li>Bahwa      salafiyyah tidak mempunyai pendiri dan pemimpin selain Nabi <em>shalallahu      &#8216;alaihi wasallam</em>. Berbeda dengan Ikhwanul Muslimin, pemimpin dan      pendiri manhaj mereka adalah Hasan al-Banna <em>rahimahullah </em>dan orang      yang sesudahnya.</li>
<li>Bahwa salafiyyah tempat kembalinya (rujukan) mereka adalah Al- Kitab, Sunnah dan apa yang salaful ummah ada di atasnya. Berbeda dengan mereka, tempat kembali mereka adalah Kitab, Sunnah dan pandangan pemikiran serta gerakan yang disangka oleh mereka.</li>
<li>Bahwa salafiyyah, loyalitas adalah kepada Allah, Rasul-Nya dan kaum mukminin. Berbeda dengan Ikhwan, maka loyalitas mereka diberikan kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang tergabung di dalam Ikhwanul Muslimin.</li>
</ol>
<p><strong>SYUBHAT KEEMPAT:</strong></p>
<p>Perkataan dan lontaran mereka pada akal-akal para anggota (al-Ikhwan) bahwa diskusi dan dialog ilmiah dengan tenang untuk menjelaskan kebenaran kepada firqah-firqah ini dan lainnya tentang beberapa masalah adalah merupakan perdebatan yang tidak bermanfaat dan wajib untuk ditinggalkan.</p>
<p>Mereka menginginkan dengan lontaran tersebut untuk menjaga orang yang tergabung di dalam hizb mereka. Karena mereka tahu bahwa semata-mata dengan perginya orang tersebut saja untuk berdiskusi dan dialog dengan seorang salafi (Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah), hasilnya adalah dia akan meninggalkan hizb yang dia tergabung di dalamnya&#8230; jika dia termasuk orang yang bertakwa kepada Allah. Karena dia akan terbakar hangus dengan dalil-dalil yang tetap (tsabit) dari Kitab dan Sunnah dan apa-apa yang salaful ummah ada di atasnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ikhwanmuwahid.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ikhwanmuwahid.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ikhwanmuwahid.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ikhwanmuwahid.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ikhwanmuwahid.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ikhwanmuwahid.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ikhwanmuwahid.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ikhwanmuwahid.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ikhwanmuwahid.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ikhwanmuwahid.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ikhwanmuwahid.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ikhwanmuwahid.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ikhwanmuwahid.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ikhwanmuwahid.wordpress.com/190/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikhwanmuwahid.wordpress.com&amp;blog=7017694&amp;post=190&amp;subd=ikhwanmuwahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/2010/02/01/syubhat-dan-tuduhan-yang-dilontarkan-oleh-orang-orang-ikhwan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0b62982a37de1e8daca30551caffcd2f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ikhwanbiasa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Persaksian Para Pemuka Kelompok Ikhwanul Muslimin Atas Pemikiran Sayyid Quthub Yang Menyimpang</title>
		<link>http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/2010/02/01/persaksian-para-pemuka-kelompok-ikhwanul-muslimin-atas-pemikiran-sayyid-quthub-yang-menyimpang/</link>
		<comments>http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/2010/02/01/persaksian-para-pemuka-kelompok-ikhwanul-muslimin-atas-pemikiran-sayyid-quthub-yang-menyimpang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 16:44:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ikhwanbiasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/?p=187</guid>
		<description><![CDATA[SAYYID QUTHUB BERPENDAPAT BEBAS MEMILIH AQIDAH[39] Oleh Pustaka Al-Furqon Emirat Bagian Ketiga dari Tiga Tulisan 3/3 Sayyid Quthub mengatakan : “Itulah pemberontakan atas thogut kefanatikan agama. Hal itu terjadi sejak pengumuman kebebasan keyakian dalam bentuknya yang terbesar. Allah berfirman. “Artinya : Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam) . Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikhwanmuwahid.wordpress.com&amp;blog=7017694&amp;post=187&amp;subd=ikhwanmuwahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SAYYID QUTHUB BERPENDAPAT BEBAS MEMILIH AQIDAH[39]</p>
<p>Oleh<br />
Pustaka Al-Furqon Emirat<br />
Bagian Ketiga dari Tiga Tulisan 3/3</p>
<p>Sayyid Quthub mengatakan : “Itulah pemberontakan atas thogut kefanatikan agama. Hal itu terjadi sejak pengumuman kebebasan keyakian dalam bentuknya yang terbesar. <span id="more-187"></span>Allah berfirman.</p>
<p>“Artinya : Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam) . Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat” [Al-Baqarah : 256]</p>
<p>Allah juga berfirman.</p>
<p>“Artinya : Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memkasa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” [Yunus : 99]</p>
<p>Sungguh telah hancur berkeping-keping thogut fanatik agama, sehingga diganti dengan kebebasan (toleransi) yang mutlak, bahkan agar perlindungan kebebasan beraqidah (keyakinan) dan beribadah, menjadi suatu kewajiban yang harus ditunaikan oleh seorang muslim terhadap para pemeluk agama lain, didalam negei Islam” [40]</p>
<p>Disampaikan suatu pertanyaan kepada Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah : “Kami mendengar dan membaca istilah kebebasan berfikir”, hakekatnya adalah kebebasan berkeyakinan, maka apakah komentar anda terhadap istilah ini?”.</p>
<p>Beliau menjawab : “Komentar kami atas istilah tersebut, siapa saja yang membolehkan seorang manusia bebas berkeyakinan, meyakini sesukanya salah satu agama yang ada, maka dia kafir. Karena siapa saja yang meyakini bahwa ada orang yang boleh beragama selain dengan agama Muhammad Shallallahu ‘laihi wa sallam, maka sesungguhnya dia telah kafir, harus diminta bertaubat, jika bertaubat (alhamdulillah), dan jika tidak (mau bertaubat), maka wajib dibunuh” [41]</p>
<p>PENGHINAAN SAYYID QUTHUB TERHADAP BUKU-BUKU SUNNAH SERTA MENSIFATINYA SEBAGAI KITAB KUNING.<br />
Sayyid Quthub mengatakan : “Untuk menyingkap semua syubhat ini, cukup dengan pengetahuan yang benar tentang hakekat sejarah dan masyarakat Islam, yaitu : Hendaklah generasi penerus menimba peradaban yang hakiki dan cocok …. Bukan peradaban yang sulit seperti ini, sebagaimana digembar-gemborkan oleh kebanyakan orang, yaitu seperti gambaran yang ada di kitab-kitan kuning” [39]</p>
<p>PENGHINAAN SAYYID QUTHUB TERHADAP ULAMA SUNNAH SERTA MENSIFATINYA SEBAGAI AD-DARAWISY[40]<br />
Sayyid Quthub mengatakan : “Ada lagi yang mengopinikan bahwa hukum Islam, bermakna hukum para Syaikh dan Ad-Darawisy. Darimana mereka mendapatkan pemahaman ini?” [41]</p>
<p>SOSIALISMENYA SAYYID QUTHUB<br />
Sayyid Quthub mengatakan :”Bahwa, negaralah yang berkuasa untuk mengambil semua kekayaan dan hasil alam, kemudian dibagi dengan metode yang baru, meskipun kekayaan tersebut telah memiliki dan berkembang dengan dasar dan sarana yang dikenal dan disetujui oleh syari’at. Karena, mencegah keburukan atas masyarakat umum secara keseluruhan, atau berhati-hati dari keburukan yang mungkin menimpa masyarakat umum, lebih utama daripada memelihara hak-hak individu” [45]</p>
<p>Komentar saya : “Inilah hakekat sosialisme”.</p>
<p>SAYYID QUTHUB MENDIDIK UMAT UNTUK MELAKUKAN KUDETA DAN HURU HARA<br />
[1]. Sayyid Quthub berkata : “Dan terakhir, muculnya pemberontakan melawan Utsman, yang haq dan bathil tercampur didalamnya, demikian pula antara kebaikan dan keburukan. Akan tetapi, bagi orang yang memperhatikan berbagai permasalahan dengan mata Islam, dan merasakannya dengan perasaan Islam, pasti akan menetapkan bahwa pemberontakan tersebut secara umum merupakan kekuatan dari jiwa Islam” [46]</p>
<p>[2]. Sayyid Quthub berkata : “Dan mendirikan pemerintahan yang berdasarkan kaidah-kaidah Islam, dan menggantikan sistem pemerintahan yang lain dengannya… inilah yang urgen … yaitu mewujudkan kudeta Islami yang menyeluruh, tidak terbatas pada beberapa negeri saja. Bahkan inilah yang diinginkan Islam yaitu membangkitkan kudeta menyeluruh kesemua negeri. Inilah tujuan dan cita-cita yang tinggi yang sangat diinginkan oleh Islam, akan tetapi kesempatan belum dimiliki oleh kaum muslimin atau anggota partai Islam untuk memulai cita-cita ini dengan mewujudkan kudeta dan terus berjalan untuk meubah aturan-aturan hukum yang ada di negeri-negeri yang mereka huni” [47]</p>
<p>[3]. Sayyid Quthub berkata : “Harus diketahui berbagai motivasi yang melatarbelakangi perilaku manusia melalui sejarah kehidupan Islam ini, demikian juga hubungan antara motivasi-motivasi tersebut, dengan berbagai kejadian, perkembangan dan pemberontakan, lalu semua ini harus dihubungkan dengan tabiat aqidah Islam, yang didalamnya ada jiwa revolusi” [45]</p>
<p>Demikian tokoh Ikhwanul Muslimin memberi rekomendasi terhadap para pembunuh Utsman Radhiyallahu ‘anhu, dia juga memprovokasi berkobarnya fitnah dan pembunuhan di negeri-negeri Islam. Pendahulunya dalam hal ini adalah, mereka orang-orang Khawarij yang sesat, maka perkumpulan apa ini?!?</p>
<p>IBADAH MENURUT SAYYID QUTHUB, BUKAN TUGAS KEHIDUPAN<br />
Sayyid Quthub berkata : “Islam adalah musuh pengangguran meski berkedok ibadah dan agama. Ibadah bukanlah tugas kehidupan, tidak ada ibadah kecuali pada waktunya yang telah ditentukan” [49]</p>
<p>PERSAKSIAN PARA PEMUKA KELOMPOK IKHWANUL MUSLIMIN ATAS PEMIKIRAN SAYYID QUTHUB YANG MENYIMPANG<br />
[a]. Dr Yusuf Al-Qardhawi (tokoh Ikhwanul Muslimin) mempersaksikan bahwa Sayyid Quthub berpandangan akan kafirnya berbagai masyarakat Islam, (terjemahan) teksnya : “Pada fase ini, mucul buku-buku Sayyid Quthub yang mewakili fase terakhir pemikiran tafkirnya, yang dengan cepat mengkafirkan masyarakat… serta pengumuman jihad penyerangan atas seluruh manusia” [50]</p>
<p>[b]. Farid Abdul Khalik (tokoh Ikhwanul Muslimin) berkata : “Sesungguuhnya pemikiran takfir tumbuh diantara para pemuda Ikhwanul Muslimin yang berada di penjara Al-Qanathir[51], pada akhir lima puluhan dan enam puluhan. Mereka itu terpengaruh oleh pemikiran dan tulisan Sayyid Quthub, sehingga mereka berkesimpulan bahwa masyarakat dalam keadaan jahiliyyah, para pemimpinnya telah kafir, karena mengingkari Allah sebagai Hakim Tunggal, buktinya mereka tidak berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah. Dan rakyatnya kafir juga, jika meridhoi hal tersebut” [52]</p>
<p>Hati-hatilah wahai para pemuda dari pemikiran yang berbahaya ini (pemikiran tafkir dan peledakan), dan ingatlah selalu firman Allah Azza wa Jalla.</p>
<p>“Artinya : Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk (membela) mereka pada hari kiamat? Atau siapakah yang menjadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah)?” [An-Nisa : 109]</p>
<p>Wahai ahlut tauhid dan ahlus sunnah : bertaqwalah kepada Allah, tergakkan aqidah salaf, niscaya kalian akan beruntung, dan berhati-hatilah dari bid’ah-bid’ah dan para penyerunya.</p>
<p>Inilah contoh berbagai bid’ah dan kesesatan yang ada di buku-buku Sayyid Quthub, dan kelancangannya lebih banyak lagi dari apa yang bisa kami haturkan dengan cepat seperti ini. [53]</p>
<p>[Disalin dari Shuwar Minal Ghozwil Fikri, Inhirofaat Sayyid Quthub Al-Aqodiyah, diterjemahkan oleh Abu Zahroh Imam Wahyudi Lc, Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 24 Th.V Dzulqo’dah 1427H, Penerbit Ma’had Ali Al-Irsyad As-Salafy Surabaya]<br />
__________<br />
Foote Note<br />
[1]. Dialihbashakan oleh Abu Zahroh Imam Wahyudi Lc dari bulletin terbitan Pustaka Al-Furqon Emirat, berjudul Shuwar Minal Ghozwil Fikri, Inhirofaat Sayyid Quthub Al-Aqodiyah<br />
[39]. Inilah salah satu propaganda JIL dan kroni-kroninya, yaitu kebebasan beragma,-pent<br />
[40]. Dirosah Islamiyyah hal. 12<br />
[41]. Majmu Fatawa wa Rosail Fadhilatusy Syaikh Muhammad Al-Utsaimin (3/99)<br />
[42] .Ma’rokatul Islam war Ro’sumaliyah hal.64<br />
[43] Para tokoh sufi yang mengenakan baju compang-camping, dari kain yang amat kasar, 9-pent)<br />
[44]. Ma’rokatul Islam war Ro’sumaliyah hal.69<br />
[45]. Ma’rokatul Islam war Ro’sumaliyah hal.39-40<br />
[46]. Al-Adalaah Al-Ijtimaiyah hal. 160<br />
[47]. Fii Zhilalil Qur’an (3/1415)<br />
[48]. Al-Adalaah Al-Ijtimaiyah hal. 210<br />
[49]. Ma’rokatul Islam war Ro’sumaliyah hal.52<br />
[50]. Aulawiyatul Harokah Al-Islamiyyah hal.110<br />
[51]. Penjara ini ada di Kairo, Mesir (-pent)<br />
[52]. Al-Ikhwan Fii Mizanil Haq hal. 115<br />
[53]. Inilah sekilas tulisan tentang pemikiran sang idola. Mungkin ada yang bertanya : Bukankah Sayyid Quthub telah wafat, kenapa kita mengungkit-ungkit kesalahan orang yang sudah meningal ?</p>
<p>Jawab : Kami angkat pembahasan ini, karena pemikirannya telah tersebar, bahkan buku-bukunya telah diterjemahkan serta dijadikan pegangan oleh banyak aktivis dakwah.</p>
<p>Mungkin juga ada yang menyanggah : Sayyid Quthub telah bertaubat dari pemikiran-pemikiran ini dan telah kembali kepada aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, jadi sekarang tidak ada yang mengikuti pemikiran ini.</p>
<p>Jawab : Pembelaan seperti ini justru merupakan bukti akan adanya orang-orang yang begitu mengagumi dan mengidolakan Sayyid Quthub. Kalaupun dia telah bertaubat, alhamdulillah, akan tetapi kenapa buku-buku yang menyimpang tersebut tetap dicetak berulang-ulang, bahkan didukung oleh adiknya sendiri yaitu Muhammad Quthub. Jadi apabila buku-buku tersebut telah ditarik dari peredaran, maka mungkin kritikan akan berhenti, akan tetapi jika tidak, maka jangan berharap para dokter akan diam jika melihat penyakit merajalela, -pentSumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&amp;article_id=2041</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ikhwanmuwahid.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ikhwanmuwahid.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ikhwanmuwahid.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ikhwanmuwahid.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ikhwanmuwahid.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ikhwanmuwahid.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ikhwanmuwahid.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ikhwanmuwahid.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ikhwanmuwahid.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ikhwanmuwahid.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ikhwanmuwahid.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ikhwanmuwahid.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ikhwanmuwahid.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ikhwanmuwahid.wordpress.com/187/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikhwanmuwahid.wordpress.com&amp;blog=7017694&amp;post=187&amp;subd=ikhwanmuwahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/2010/02/01/persaksian-para-pemuka-kelompok-ikhwanul-muslimin-atas-pemikiran-sayyid-quthub-yang-menyimpang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0b62982a37de1e8daca30551caffcd2f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ikhwanbiasa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TAHUKAH ANTUM : TOKOH IM mendatangkan sejumlah penari-penari perempuan Perancis dan ikut menari dan berdansa dengan mereka di salah satu bar!&#8221;, belajar dansa ala Perancis, belajar tarian membayar 3 junaih 9), mempelajari Dinset Foks Troot, Syar Liston dan Tanjo, juga bermain gitar ???</title>
		<link>http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/2010/02/01/tahukah-antum-tokoh-im-mendatangkan-sejumlah-penari-penari-perempuan-perancis-dan-ikut-menari-dan-berdansa-dengan-mereka-di-salah-satu-bar-belajar-dansa-ala-perancis-belajar-tarian-membayar-3-j/</link>
		<comments>http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/2010/02/01/tahukah-antum-tokoh-im-mendatangkan-sejumlah-penari-penari-perempuan-perancis-dan-ikut-menari-dan-berdansa-dengan-mereka-di-salah-satu-bar-belajar-dansa-ala-perancis-belajar-tarian-membayar-3-j/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 16:43:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ikhwanbiasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/?p=184</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad asy-Syihhi MUKADIMAH PENULIS Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami dan kejelekan amalan-amalan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak akan ada yang menyesatkannya. Dan barangsiapa disesatkan oleh Allah, maka tidak akan ada yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikhwanmuwahid.wordpress.com&amp;blog=7017694&amp;post=184&amp;subd=ikhwanmuwahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad asy-Syihhi</p>
<p>MUKADIMAH PENULIS</p>
<p>Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami dan kejelekan amalan-amalan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak akan ada yang menyesatkannya. Dan barangsiapa disesatkan oleh Allah, maka tidak akan ada yang memberi petunjuk kepadanya.</p>
<p>Saya bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan yang berhak untuk disembah kecuali hanya Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah seorang hamba dan utusan-Nya.</p>
<p><em>&#8220;Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.&#8221;</em><em> </em>(Ali Imran: 102)</p>
<p><em>&#8220;Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya, dan dari keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.&#8221; </em>(An-Nisa: 1)</p>
<p><em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah an katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki agimu amalan-amalanmu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan asul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.&#8221;</em><em> </em>(Al-Ahzab: 70-71)</p>
<p>Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad <em>shalallahu &#8216;alaihi wasallam</em>. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan. Setiap perkara yang diada-adakan adalah bid&#8217;ah. Setiap bid&#8217;ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan ada di neraka.</p>
<p>Kemudian, sebagai pembukaan, saya katakan:</p>
<p>Ketahuilah -mudah-mudahan Allah Ta&#8217;ala memberikan taufik kepadamu dengan apa yang dicintai-Nya dan diridhai-Nya bahwasanya <strong>&#8220;dialog&#8221;</strong> yang ada di hadapanmu adalah dialog yang telah dirancang menurut manhaj Ikhwanul Muslimin dalam memberikan kerancuan kepada Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah tanpa bisa mengetahui apa sebenarnya manhaj kelompok ini dan pemimpin-pemimpinnya.</p>
<p>Dialog yang saya tulis ini adalah terbersit dari sayang dan cinta kepadamu dan sebagai manifestasi dari sabda Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wasallam </em>dalam hadits shahih:<span id="more-184"></span></p>
<p><em>&#8220;Agama itu nasehat&#8221;, maka kami (shahabat) bertanya, &#8220;Bagi siapa?&#8221; Bersabda Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam, &#8220;Bagi Allah, bagi kitab-Nya, Rasul-Nya dan para imam kaum muslimin serta orang-orang awam dari mereka.&#8221; </em>(HR. Muslim)</p>
<p>Barangkali pembicaraan ini akan berat bagimu, tapi itulah al-haq -insya Allah-, oleh karenanya harapanku, agar kamu ikuti terus sampai selesai pembahasan ini kemudian kamu perhatikan:  &#8221;Dengan siapa kebenaran (al-haq) itu? Maka jika kamu melihat  bahwa kebenaran ada pada jamaahmu (Ikhwanul Muslimin) dengan dalilnya, maka janganlah kamu kikir untuk memberikan nasehat dan petunjuk kepada kami.</p>
<p>Akan tetapi jika sebaliknya (yakni al-haq tidak ada pada Ikhwanul Muslimin), maka tidak ada jalan bagimu, kecuali menerima al-haq itu dari manapun datangnya.</p>
<p><em>&#8220;Tidak patut bagi laki-lagi yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.&#8221;</em><em> </em>(Al-Ahzab: 36)</p>
<p>Pasal Satu</p>
<p>KONDISI SEBAGIAN PIMPINAN KELOMPOK INI DAN MANHAJ MEREKA</p>
<p>Saudaraku, mudah-mudahan Allah Ta&#8217;ala menjagamu&#8230; Saya ingin bertanya kepadamu satu pertanyaan, tidak hanya satu, bahkan beberapa pertanyaan.</p>
<ul>
<li>Apa yang kamu ketahui tentang jamaah (kelompok) yang kamu ada didalamnya?</li>
<li>Apa yang kamu ketahui tentang manhaj dari jamaah ini&#8230;?</li>
<li>Dan apa yang kamu mengerti dari sebagian pimpinan dan pendiri jamaah ini&#8230;? Seperti Hasan Al-Banna, Tilmisani, dan &#8230; dan &#8230;</li>
<li>Apakah mereka berada dalam al-haq atau tidak?</li>
</ul>
<p>Jangan kamu tergesa-gesa dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan ini&#8230; kenapa? Dikarenakan jika kamu mengatakan kepadaku bahwa mereka dalam al-haq, maka akan saya tanyakan kepadamu: Apa dalilnya&#8230;?</p>
<p>&#8220;Katakanlah: &#8220;Tunjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu adalah orang yang benar.&#8221; Oleh karenanya saya katakan, kemarilah bersamaku untuk melihat dan menelaah:  Apakah jamaahmu berada dalam al-haq atau tidak? Dan apa dalilnya&#8230;?</p>
<p>Maka kita memulai dengan menyebut para pendiri jamaahmu dan pimpinannya agar kita mengetahui manhaj mereka dan sedikit dari perbuatan mereka, akan tetapi&#8230; janganlah kamu marah, dan gelisah dulu, juga jangan ta&#8217;ashub (fanatik golongan)!</p>
<p>Dan janganlah kamu menyangkal, kecuali dengan dalil! Apabila kamu merasa ragu atau diragukan dengan apa yang saya nukil dari  sebagian perkataan dan perbuatan mereka&#8230; maka tidak ada jalan lain bagimu, kecuali kamu merujuk kembali kepada rujukan-rujukan yang akan saya jelaskan, dan rujukan itu adalah dari hasil karya para pemimpin jamaahmu, bukan dari orang lain.</p>
<p>Saudaraku&#8230; -Mudah-mudahan Allah Ta&#8217;ala menjagamu-, spa yang akan kamu katakan, kalau seandainya ada seseorang yang mengabarkan kepadamu akan dirinya bahwa dia merayakan bid&#8217;ahnya perayaan Maulid Nabi shalallahu &#8216;alaihi wasallam dalam waktu 12 hari, dari awal bulan Rabi&#8217;ul Awwal setiap tahun, mengelilingi kampung bersama para pengikutnya, bersuka ria sambil mendendangkan nasyid-nasyid?</p>
<p>Maka apakah kamu akan menyetujui dan diam (terhadap kemungkaran itu)? Apakah kamu akan mengikutinya? Dan menjadikannya sebagai pimpinanmu? Tidak ragu dan tidak bimbang lagi: Tidak (jawabnya, pent), jika engkau dari Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah! Kenapa? Karena apa yang dilakukannya adalah bid&#8217;ah sebagaimana telah kamu ketahui!</p>
<p>Sekarang tahukah kamu siapa dia? Dialah Hasan Al-Banna pendiri kelompok Ikhwanul Muslimin.</p>
<p>Jangan&#8230; jangan&#8230; jangan marah dulu!</p>
<p>Karena dia sendiri yang berkata akan dirinya, bukan saya. Sebagaimana disebutkan dalam bukunya Mudzakkiraat ad-Da&#8217;wah wa ad-Da&#8217;iyyah halaman 48 dalam judul Contoh yang Baik, ketika beliau mengatakan: &#8220;Aku sebutkan bahwasanya sebagian dari kebiasaan kami adalah keluar pada acara Maulid Nabi shalallahu &#8216;alaihi wasallam pada sebuah arak-arakan setelah sebelumnya kumpul. Hal ini berlangsung setiap malam dari awal sampai tanggal 12 Rabi&#8217;ul Awwal, dimulai dari rumah salah seorang ikhwan. Suatu malam secara kebetulan kami bertemu, dan saat itu giliran pertemuan ada di rumah saudara kami Syaikh Syalaby ar-Rajjaal, maka kami pergi ba&#8217;da Isya&#8217; sebagaimana biasa, maka kami dapati sebuah rumah yang terang benderang, bersih dan semua serba siap. Kemudian dibaginya minuman kopi dan qirfah (sejenis makanan dari kulit kambing) sebagaimana biasa. Dan kami keluar pada sebuah arak-arakan sambil mendendangkan nasyid-nasyid tertentu dengan penuh suka cita dan bahagia.&#8221;</p>
<p>Perhatikanlah dan renungkanlah&#8230; mudah-mudahan Allah merahmatimu. Bahkan saudara dia (yakni Hasan Al-Banna), yaitu Abdurrahman Al-Banna, menguatkan masalah ini sebagaimana di kitabnya <em>Hasan Al-Banna bi Aqlaami talaamidzatihi wa mu&#8217;ashirihi </em>yang ditulis oleh Jabir Rizq, dalam judul <em>&#8220;Hasan Al-Banna zamiil ash-Shibaa wa Rafiq asy Syabab&#8221;</em>. Di mana Abdurrahman Al-Banna mengatakan di halaman 71-72: &#8220;Maka berjalanlah -yakni Hasan Al-Banna  dalam sebuah arak-arakan, sambil mendendangkan nasyid-nasyid pujian kepada Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam ketika hilal bulan Rabi&#8217;ul Awwal telah nampak. Kami berjalan dalam sebuah arak-arakan di sore hari pada setiap malam sampai malam 12 Rabi&#8217;ul Awwal sambil mendendangkan kasidah-kasidah pujian kepada Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam, dan di antara kasidah terkenal yang kami dendangkan di acara yang penuh berkah ini:</p>
<p>&#8220;Bershalawat sang Ilah kepada Nur yang telah nampak bagi alam yang melebihi matahari dan bulan.&#8221; Bait yang mulia didendangkan secara koor, sedangkan aku dan saudaraku (yakni Hasan Al-Banna) mendendangkan bersama bait-bait di bawah ini:</p>
<p><em>&#8220;Sang kekasih bersama yang lain telah hadir Mengampuni semua yang telah lewat dan berlalu Sungguh-sungguh beliau memutar khamrnya Hampir-hampir cahayanya menghilangkan pandangan Wahai Sa&#8217;ad, ulangilah bagi kami penyebutan kekasih ini. Benar-benar mengacaukan pendengaran kami wahai penyanyi. Sungguh beliau tidak menyusun larangan yang miring pakaiannya Tidak diragukan lagi bahwa kekasih kaum telah hadir.&#8221;</em></p>
<p>Tahukah kamu siapakah Al-Habib (kekasih) yang mereka maksudkan telah hadir di tengah-tengah mereka? Dan mengampuni dosa-dosa mereka? Tidak lain maksud mereka adalah Nabi shalallahu &#8216;alaihi wasallam! Laa haula wala quwwata illa billah.</p>
<p>Wahai saudaraku&#8230; demi Allah, kamu mesti sadar dari kelalaianmu&#8230;cemburulah kepada syariat dan akidahmu! Karena, bagaimana mungkin kamu ikuti orang yang mendudukkan nabimu memilikimu sifat maghfirah (mengampuni) yang itu adalah hak khusus bagi Allah Ta&#8217;ala saja.</p>
<p>Mereka beri&#8217;tikad bahwa nabi kita dan teladan kita Muhammad <em>shalallahu &#8216;alaihi wasallam </em>telah menghadiri bid&#8217;ah mereka dan mengampuni dosa-dosa mereka. Maha suci Engkau, wahai Rabb kami, ini adalah kedustaan yang besar.</p>
<p>Saudaraku&#8230; mudah-mudahan Allah memberi petunjuk kepadaku dan kepadamu ke jalan yang lurus&#8230;. Apa yang akan kamu katakan, kalau seandainya seseorang bercerita kepadamu bahwa dia bergaul dengan ahli bid&#8217;ah dan mengambil bid&#8217;ah dari mereka, bahkan terbiasa dengan majlis-majlis bid&#8217;ah mereka yang mereka namakan hadhrah (kehadiran) tiap malam&#8230; sampai dia berterus-terang kepadamu tentang masalah ini bahwasanya dia telah sangat kenyang dengan fikrahnya (pemikiran) tarikat Al-Hashafiyyah yang bid&#8217;ah itu&#8230;!</p>
<p>Tidak ragu lagi pasti dan pasti kamu akan sangat mengingkarinya&#8230; hal ini dikarenakan dia telah berbuat bid&#8217;ah dalam ad diin ini.</p>
<p>Saya katakan: Tenanglah&#8230; jangan marah dulu, dikarenakan Hasan Al-Banna adalah pimpinanmu jamaahmu! Dia berkata di bukunya: Mudzakirat ad-Da&#8217;wah wa ad-Da&#8217;iyah hal 23: &#8220;Dan aku berkawan dengan orang-orang Al-Hashafiyyah di Damanhur, dan aku biasa hadir di masjid At-Taubah setiap malam. Dan di halaman 27 dari kitab ini juga dia berkata: &#8220;Aku singgah dikota Damanhur dalam kondisi kenyang dengan fikrah Al-Hashafiyyah, kota Damanhur ini adalah tempat dimakamkannya Syaikh Sayyid Hushain al-Hashafi, Syaikhnya Tarikat Al-Hashafiyyah yang pertama.</p>
<p>Sekarang tahan sedikit dengan pertanyaanku&#8230; Apa yang akan kamu katakan tentang menganggap entengnya Al-Banna pada khilaf yang terjadi antara Salaf dan Khalaf tentang sifat Allah Ta&#8217;ala&#8230;? Dan apa yang kamu katakan pula tentang tuduhannya (Al-Banna) kepada Salaf, bahwasanya Salaf itu kadang-kadang menta&#8217;wil, kadang-kadang ghuluw (berlebihan) dan kadang-kadang melampaui batas dalam hal ini (yakni dalam memahami sifat Allah Ta&#8217;ala)?</p>
<p>Dan apa yang akan kamu katakan tentang adopsi kepada madzhab Tafwidh? Mudah-mudahan Allah menyelematkan aku dan engkau dari penyimpangan dan kesesatan.</p>
<p>Inilah yang dia (Al-Banna) jelaskan dalam kitabnya Al-&#8217;Aqaid hal 74, tatkala dia mengatakan setelah membeberkan dua jalan, Salaf dan Khalaf: &#8220;Dan dua tarekat ini (Salaf dan Khalaf) merupakan sumber khilaf yang besar di antara ulama ahlul kalam dari imam-imam kaum muslimin. Dan masing-masing mendasari madzhabnya dengan hujjah-hujjah dan dalil-dalil, seandainya kamu teliti masalah ini pasti kamu akan mengetahui bahwasanya jarak perselisihan di antara dua jalan ini (Salaf dan Khalaf) tidak berarti sedikitpun (dari perselisihan ini), seandainya masing-masing dari dua kelompok ini meninggalkan sikap memberontak dan melampaui batas, dan bahwasanya pembahasan dalam permasalahan seperti ini tidak membawa hasil pada akhirnya kecuali satu, yaitu tafwidh bagi Allah Ta&#8217;ala.&#8221;</p>
<p>Dan perkataannya juga tentang tuduhannya kepada Salaf dengan ta&#8217;wil hal 26: &#8220;Apabila telah ditetapkan ini, maka sepakatlah antara Salaf dan Khalaf dalam asas ta&#8217;wil.&#8221; Dan perkataannya juga pada hal 77-78: &#8220;Dan kesimpulan dari pembahasan ini ialah bahwasanya Salaf dan Khalaf telah bersepakat bahwa yang dikehendaki adalah bukan zhahir yang diketahui di antara manusia, maka inilah ta&#8217;wil secara umum. Dan kedua kelompok ini (Salaf dan Khalaf) sepakat pula bahwasanya setiap ta&#8217;wil yang berlawanan dengan dasar-dasar syariat adalah tidak diperbolehkan. Maka perselisihan ini terbatas hanya pada menta&#8217;wil lafazh-lafazh yang dibolehkan oleh syara&#8217;, dan ini masalah yang sepele sebagaimana kamu lihat. Dan masalah yang mestinya orang-orang salaf kembali lagi kepadanya. Sementara masalah yang paling penting untuk diarahkan dan diperhatikan oleh kaum muslimin saat ini adalah mengarahkan dan menuju kepada persatuan barisan dan penyatuan kalimat semacam kita.&#8221;</p>
<p>Aku katakan: Nukilan ini sebagaimana kamu lihat -mudah-mudahan Allah menjagamu- tidak ada satu makalah pun (perkataannya Al-Banna), kecuali ada tiga point yang mestinya diperhatikan.</p>
<p>PERTAMA:</p>
<p>Tuduhannya (Al-Banna) kepada Salaf bahwa mereka kadang- kadang Tafwidh <strong><sup>1</sup></strong>), dan kadang-kadang suka menta&#8217;wil, dan orang-orang salaf berlepas diri dari tuduhan ini.</p>
<p>KEDUA:</p>
<p>Adopsinya dia (Al-Banna) kepada madzhab tafwidh, yang hal ini lebih jelek dari ta&#8217;wil. Dan kamu pun tahu bahwa akidah kita Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah, adalah menetapkan apa yang telah Allah Ta&#8217;ala tetapkan tentang diri-Nya dalam kitab-Nya dan sunnah Rasul-Nya shalallahu &#8216;alaihi wasallam dari nama-nama dan sifat-sifat Allah, sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa merubah (tahrif), tanpa mengosongkannya (ta&#8217;thil) dan tanpa mempertanyakannya (takyif), serta tanpa menyerupakannya (tamtsil). Adapun Al-Banna maka dia telah menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah dalam masalah ini dan mengadopsi madzhab At-Tafwidh yang hal ini adalah lebih jelek dari madzhab ta&#8217;thil.</p>
<p>Maka berdasarkan apa yang telah dilakukan oleh Al-Banna dalam memahami  asma-asma Allah dan sifat-sifat-Nya: &#8220;&#8230;seharusnya bagi kita untuk diam dari  sifat ini  dan menyerahkan maknanya kepada Allah Ta&#8217;ala. Oleh karena itu, jika Allah Ta&#8217;ala menyifati diri-Nya bahwasanya Allah Ta&#8217;ala itu Maha Mendengar, maka wajib bagi kita untuk diam dari makna sifat ini, dengan menyerahkannya kepada Allah Tabaraka wa Ta&#8217;ala.&#8221;</p>
<p>Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah satu kesesatan kita berlindung kepada Allah darinya- hal ini dikarenakan Allah Ta&#8217;ala telah berbicara kepada hamba- hamba-Nya dengan apa yang mereka mengerti dari asal makna sebagaimana telah tetap demikian dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah. Adapun dari segi hakekat dan kenyataannya yang telah ditunjukkan dengan makna (arti) tersebut, maka itu termasuk dari apa-apa yang Allah Ta&#8217;ala simpan dalam ilmu-Nya yang berkaitan dengan Dzat dan sifat-sifat-Nya.</p>
<p>Oleh karenanya, maka apabila Allah Ta&#8217;ala telah menetapkan bagi diri-Nya bahwasanya Allah memiliki sifat mendengar, maka sifat &#8220;mendengar&#8221; adalah maklum dari segi asal makna kata tersebut, yakni mengetahui suara, akan tetapi hakekatnya (makna tersebut) dari segi mendengarnya Allah Ta&#8217;ala, tidak bisa diketahui. Dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin hafizhahullah telah menjelaskannya dalam Syarh Aqidah Safariniyyah (Ad-Durah al-Madhiyyah li Aqidah al-Firqah al-Mardhiyah).</p>
<p>Di mana beliau mengatakan ketika mengomentari perkataan pengarang buku itu: &#8220;Dan setiap apa yang datang dari ayat atau berita yang shahih dari orang yang tsiqah dari hadits-hadits, maka kami membiarkannya sebagaimana telah datang, maka dengarlah dan ketahuilah.&#8221;</p>
<p>Maka beliau (Syaikh Ibnu Utsaimin) hafizhahullah berkata: &#8220;Ini adalah satu kaidah yang disebutkan oleh pengarang buku ini, bahwasanya semua datang dalam Al-Qur&#8217;an atau apa yang telah shahih dari Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam, maka sesungguhnya kita membiarkannya sebagaimana adanya, dan seperti inilah yang telah diriwayatkan dari as-salaf yang mereka berkata dalam mengimani ayat-ayat sifat (yakni sifat-sifat Allah Ta&#8217;ala) dan hadits-haditsnya: &#8216;Biarkanlah sebagaimana datangnya tanpa mempertanyakan (hakekatnya)&#8217;. Maka wajib bagi kita untuk membiarkannya sebagaimana adanya.&#8221;</p>
<p>Akan tetapi apakah kita memberlakukannya secara lafazh, artinya kita memberlakukan lafazhnya saja (tanpa makna, pent) atau memberlakukan lafazh dan maknanya sekaligus? Jawabannya adalah yang kedua: &#8220;Adapun yang pertama, maka ini adalah madzhab yang batil yang disebut sebagai madzhab ahli tafwidh atau mufawidhah, sebagaimana perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: &#8220;Termasuk sejelek-jelek perkataan ahli bid&#8217;ah dan ilhad (yakni madzhab tafwidh).</p>
<p>Dikarenakan mereka dengan madzhab ini telah berbuat kesalahan yang besar. Di mana mereka menjadikan (menuduh) kaum muslimin bodoh dengan makna dari ayat-ayat dan hadits-hadits tentang sifat-sifat (Allah). Ini adalah satu bahaya besar, jika kita beribadah dengan lafazh-lafazh hukum syar&#8217;i seperti shalat, wudhu, zakat dan haji, maka bagaimana kita tidak beribadah dengan ayat-ayat sifat sehingga kita paham dengan makna-maknanya?</p>
<p>Yang penting kita membiarkannya, sebagaimana datangnya dan sudah menjadi satu kejelasan bahwa lafazh-lafazh itu datang dengan membwa makna, maka wajib untuk menetapkan lafazh ini dan menetapkan makna yang dikehendaki dari lafazh itu.&#8221; (sampai di sini perkataan Ibnu Taimiyah).</p>
<p>KETIGA:</p>
<p>Adopsinya dia (Hasan Al-Banna) kepada madzhab taqrib (pendekatan) di antara kelompok-kelompok sesat dan ahli al-haq. Dan ini nampak dari perkataannya di kitabnya Al-&#8217;Aqaid hal. 78: &#8220;dan hal yang paling penting untuk diarahkan perhatian kaum muslimin sekarang ini adalah &#8216;menyatukan barisan dan menyatukan kalimah semampu kita, ke sanalah jalan yang kita tempuh.&#8221; Dan ini adalah &#8220;alasan&#8221; dalam kaidah mereka yang terkenal: &#8220;Kita bekerja sama dengan apa yang kita sepakati, dan saling memberikan udzur (toleransi) dengan apa yang kita berbeda dalam masalah itu.&#8221; Oleh karenanya kita dapati dalam jamaah ini yang kamu ada di dalamnya, bahwasanya masuk ke dalam jamaah ini seorang salafi <strong><sup>2</sup></strong>), Asy&#8217;ari, Sufi dan orang-orang yang semodel itu, bahkan orang Nashrani sekalipun. <strong><sup>3</sup></strong>)</p>
<p>Bukan&#8230;bukan&#8230;bukan saya yang berbicara demikian, akan tetapi yang berbicara adalah Dr. Hasan Hathut, seroang Doktor dari generasi Ikhwanul Muslimin tahun 50-an di mana dia berkata di buku Hasan Al-Banna bi aqlaami talamidzatihi wa mu&#8217;ashirihi di bawah judul Tuhmah at-Ta&#8217;ashub (Tuduhan Fanatik) hal 188-189: &#8220;Ketika menyebut fitnahnya orang-orang Qibty (Mesir) maka banyak dari mereka yang berusaha untuk menempelkan terhadap orang ini <strong><sup>4</sup></strong>) dan dakwahnya dengan tuduhan ta&#8217;ashub (fanatik) melawan orang Nashrani atau memecah-belah di antara umat. Dan Allah Ta&#8217;ala serta orang-orang yang hadir dari orang-orang yang benar menjadi saksi bahwa sedikitnya itulah yang benar&#8230; dan orang ini (yakni Hasan al-Banna) bukanlah dai yang mengajak kepada kebencian dan perpecahan.</p>
<p>Dan dia dulu memberikan penjelasan bahwa dakwah untuk menegakkan syariat Islam tidak mungkin hanya untuk orang-orang Qibti (Mesir), dikarenakan syariat Islam ini akan ditegakkan kepada kita dan kepada mereka (yakni orang-orang Nashrani) secara sama rata. Dan dakwah ini tidaklah menuntut secara mutlak akan kenasraniannya seorang Nashrani, akan tetapi syariat ini adalah kumpulan undang- undang yang tidak didapatkan penggantinya pada agama Nashrani. Dan hukum-hukumnya tidak akan terbantah. Dan hal ini seandainya ada di kitab Injil undang-undang ini, pasti orang-orang Nashrani akan bergegas mengambil undang-undang kitab Injil, dan tidak didapatkan pada Islam kepura-puraan pada masalah ini.</p>
<p>Selagi pendapat orang banyak tidak dinafikan (dilenyapkan) bersama agama yang minoritas, maka tidaklah ada orang yang zhalim dan yang dizhalimi.&#8221; (sampai disini perkataannya). Kemudian selanjutnya penulis itu sendiri menyatakan, &#8220;Dan dakwah orang ini (yakni Hasan al-Banna) telah berkumandang dan dibenarkan oleh orang- orang yang paham dari kalangan kaum muslimin dan orang-orang Mesir <strong><sup>5</sup></strong>), dan cukup saya sebutkan orang-orang yang menuduh bahwa orang ini (yakni Hasan al- Banna), adalah musuh orang-orang Nashrani, bahwasanya ustadz Louis Faanus dari pembesar orang- orang Qibti (Mesir) -dan dia sudah mati- dia dahulu adalah orang yang aktif hadir pelajaran hari Selasa yang disampaikan oleh Hasan al-Banna, dan hubungan antara dua orang ini adalah sangat erat sekali. Dan ketika Hasan al-Banna dicalonkan pada pemilu untuk jadi anggota parlemen, wakilnya yang memegang kendali di salah satu panitia pemilu adalah seorang Qibti (yakni Nashrani, subhanallah).</p>
<p>Di dalam buku Dikrayaat La Mudzakaraat, yang dikarang oleh Tilmisani, pada halaman 263-264 mengatakan, &#8220;Dan pada tahun empat puluhan –seingat saya Sayyid al-Qummy, dia bermadzhab Syi&#8217;ah- menjadi tamu bagi orang-orang Ikhwanul Muslimin di markas pusat, dan pada saat itu al-Imam as-Syahid (yakni Hasan Al-Banna) bekerja secara sungguh-sungguh dalam rangka pendekatan di antara madzhab-madzhab yang ada.&#8221; (sampai di sini perkataannya).</p>
<p>Dan Tilmisani juga berkata dengan menukil perkataan Al-Banna di kitab yang sama, halaman 264, &#8220;Syi&#8217;ah itu memiliki golongan-golongan (sekte-sekte) yang menyerupai pendekatan di antara madzhab yang empat dari kalangan ahli sunnah, &#8230; dan di sana ada perkataan <strong><sup>6</sup></strong>) yang mungkin untuk dilenyapkan, seperti nikah mut&#8217;ah dan jumlah istri bagi seorang muslim, dan ini hanya dianut oleh sebagian firqah mereka dan permasalahan-permasalahan seperti ini yang tidak pantas untuk dijadikan sebab pemutusan hubungan di antara Ahli Sunnah dan Syi&#8217;ah.</p>
<p>Wahai saudaraku -mudah-mudahan Allah Ta&#8217;ala merahmatimu.</p>
<p>Inilah jalan dan madzhab yang ditempuh Al-Banna dalam rangka &#8216;pendekatan di antara firqah-firqah&#8217;, yang orang-orang Salafus Shalih dan Ahlis Sunnah wal-Jama&#8217;ah menghukuminya sebagai satu kesatuan.</p>
<p>Maka demi Allah, tidaklah jalan ini yang -telah ditempuh Hasan Al-Banna bisa membangkitkan ghirah (kecemburuan) di hatimu dan akidahmu yang shahih dan benar? Dan tidakkah nukilan-nukilan yang telah saya jelaskan kepadamu tentang keadaan tokoh dan pimpinan jamaah ini dan manhajnya, cukup untuk sebagai alasan kamu berpisah dari jamaah ini dan manhajnya (yang sesat)?</p>
<p>Hal ini tidak diragukan lagi&#8230; akan tetapi jika engkau dari kalangan Ahlus Sunnah wal-Jama&#8217;ah. Saudaraku -mudah-mudahan Allah menunjukkan dan membimbingmu ke jalan yang benar-&#8230;</p>
<p>Bukankah engkau dari Ahli Sunnah wal Jama&#8217;ah? Kamu tentu akan menjawab, &#8220;Ya&#8230;&#8221;, kalau begitu saya akan bertanya kepadamu. Apa yang akan kamu kerjakan seandainya kamu berada di salah satu kuburan, dan kamu lihat kaum muslimin ber-istighatsah <strong><sup>7</sup></strong>) dengan kubur-kubur sebagian dari para wali dan orang-orang shalih? Apakah kamu akan mengingkari mereka dalam masalah ini? Tidak ragu lagi pasti kamu akan menjawab, &#8220;Ya.&#8221; Kenapa?</p>
<p>Dikarenakan perbuatan mereka ini adalah satu kesyirikan yang besar sebagaimana tidak tersamar lagi bagimu. Kemudian masalah ini tidak bisa diremehkan dan tidak didiamkan begitu saja.</p>
<p>Akan tetapi aku katakan, &#8220;Tenang dan pelan-pelanlah mudah-mudahan Allah menjagamu-, dikarenakan jika itu kamu kerjakan, berarti kamu telah dicela dan dianggap jelek (dan kotor) oleh pimpinanmu dan ketua jamaahmu yang ketiga, Umar Tilimsani, di mana dia mengikrarkan dalam bukunya Syahiid al-Mihrab  halamn 197, katanya, &#8220;Maka tidak perlu kalau demikian kepada sikap keras didalam mengingkari orang-orang yang beri&#8217;tikad akan adanya karamah bagi para wali <strong><sup>8</sup></strong>) dan merendahkan diri kepada mereka di kubur-kubur mereka yang nampak, dan berdoa di kubur-kubur itu ketika terkena musibah.&#8221;</p>
<p>Sekarang kita bersama teladanmu dan salah seorang pimpinanmu! Apa yang akan kamu katakan jika ada orang yang kamu percaya kepadanya, kemudian dia bercerita tentang seorang Zaid. Dan dia berkata kepadamu, bahwa Zaid ini dari kalangan dai besar yang memiliki ketakwaan dan wara&#8217; (sikap hati-hati) dan dia termasuk dari kalangan orang-orang yang mengikuti Nabimu shalallahu &#8216;alaihi wasallam dan seterusnya kemudian setelah kamu mendengar cerita itu, tiba-tiba kamu dikejutkan dengan Zaid yang telah dipuji-puji ini, kamu dapatkan dia sedang mendengarkan musik, bahkan mendatangkan sejumlah penari-penari perempuan Perancis dan dia (Zaid itu) ikut menari dan berdansa dengan mereka di salah satu bar!</p>
<p>Bahkan apa yang akan kamu katakan seandainya kamu tahu, bahwa dia saking getolnya dan perhatiannya kepada film sinema, dia shalat Zhuhur dan Ashar dengan dijama&#8217; dan diqashar (diringkas) pada hari Jum&#8217;at, dia lakukan demikian karena takut akan luput darinya film sinema ini!</p>
<p>Bukankah kamu akan membencinya karena Allah? Dan bukankah kamu akan mengingkarinya? Tidak ragu lagi kamu akan mengatakan, &#8220;Ya.&#8221; Tahukah kamu siapa orang ini? Aku katakan, tenang&#8230; tenanglah wahai saudaraku.</p>
<p>Sesungguhnya orang itu adalah pimpinan jamaahmu yang ketiga yakni Umar Tilmisani. Jangan gelisah dan jangan kamu berdusta!  Bukanlah saya yang mengada-ada terhadapnya, akan tetapi dia sendiri yang berbicara tentang dirinya. Oleh karenanya, saya katakan: Ikuti saya dan perhatikan apa yang saya nukilkan dari bukunya Dzikrayaat la Mudzakkiraat di mana dia berkata pada halaman 10, ketika menceritakan sejarah masa mudanya, &#8220;Aku belajar dansa ala Perancis di aulanya Imaduddin, dan sekali belajar tarian membayar 3 junaih <strong><sup>9</sup></strong>), maka aku pelajari Dinset Foks Troot, Syar Liston dan Tanjo, juga aku belajar bermain gitar.</p>
<p>Di sini, saya katakan, jangan tergesa-gesa dulu dengan apa yang telah jelas bagimu&#8230; yakni bahwa tarian yang dia pelajari dulu, adalah waktu masa mudanya kemudian dia bertaubat darinya. Maka kalau seandainya demikian jangan dia (Tilmisani) itu diingkari, dikarenakan kita semua adalah punya kesalahan. Dalam hadits dikatakan:</p>
<p>&#8220;Semua anak Adam adalah bersalah, dan sebaik-baik orang yang salah adalah yang mau bertaubat.&#8221; <strong><sup>10</sup></strong>)</p>
<p>Akan tetapi orang ini (Tilmisani) menguatkan dan meyakinkan perbuatannya, seolah-olah dia menyangka bahwa dia dari kalangan Samaahatul Islam mudah-mudahan Allah mengasihi dan mengampuninya.</p>
<p>Bahkan dia menuduh bahwa orang yang mengingkarinya adalah termasuk orang-orang yang keras (Mutasyaddidiin), seperti dia katakan dalam mukadimah kitabnya, Dzikrayaat la Mudzakkirat halaman 3-4, &#8220;Dan kehidupanku, ada yang tidak disenangi oleh orang-orang yang &#8216;berhaluan keras&#8217; dari kalangan Ikhwan (sendiri) atau yang lainnya, seperti tarian (ala) Perancis dan musik serta kesenangan untuk frontal dalam kehidupanku yang jauh dari ikatan keteguhan dan komitmen, yang hal ini tidak pernah diperintahkan oleh agama apapun, apalagi agama Islam yang Nabi kita shalallahu &#8216;alaihi wasallam menyifatinya secara makna, &#8220;Bahwa agama ini longgar (samhah) tidak seorang pun yang keras terhadapnya kecuali dia akan terkalahkan.&#8221;</p>
<p>Dan perkataannya pada halaman 100 dari buku yang sama dalam judul Keajaiban di penjara Qanaa&#8217;, &#8220;Dan terjadilah satu peristiwa antara kau dengan dia <strong><sup>11</sup></strong>) tentang Ummu Kultsum <strong><sup>12</sup></strong>), yang dia berkeinginan untuk menyenangkanku, maka dia pun tahu kalau salah satu dari lagu-lagunya Ummu Kultsum yang memikat perhatianku dan aku senang untuk mendengarkannya. Dan aku pun beranjak ke tempat tidurku di rumah sakit penjara, ketika itu dia ada di situ juga (rumah sakit). Ketika aku sedang terlelap tidur, seakan-akan aku mendengar lagu ini dari Ummu Kultsum, maka aku pun pelan-pelan mencari kejelasan asal suara itu. Tiba-tiba aku melihat radio transistor ada di dekat pipi sampingku, dan Ummu Kultsum sedang mendendangkan lagu ini.&#8221;</p>
<p>Dan perkataannya juga pada halaman 16 dalam judul &#8216;Shalaitu fi as-Sinema&#8217; dari buku ini juga, &#8220;Bahwasanya ketika aku bekerja sebagai pembela (di dalam pengadilan), aku singgah pada hari Jum&#8217;ah untuk nonton film-film digedung film, segera aku bergegas mengambil kesempatan untuk istirahat al-Intrakaat untuk menunaikan shalat Zhuhur dan Ashar dengan dijama&#8217; dan diqashar di salah satu pojok gedung film di mana saat itu aku berada.&#8221;</p>
<p>Maka sekarang wahai saudaraku&#8230;.</p>
<p>Bukankah sudah saatnya kamu bangkit dan bangun dari tidurmu?Demi Allah! Sesungguhnya saya sangat heran kepada orang yang telah mengetahui apa yang aku tunjukkan, kemudian dia tetap dalam sikapnya (yang batil) dengan penuh kesombongan dan ta&#8217;ashub (fanatik).</p>
<p>Footnote:</p>
<ol>
<li>Ketika dia (al-Banna) berkata tentang madzhab salaf dalam mengimani sifat-sifat Allah Ta&#8217;ala hal 75: &#8220;Aku telah mengetahui bahwa madzhab orang salaf padaayat-ayat dan hadits-hadits yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah Ta&#8217;ala, mereka menyikapi ayat-ayat dan hadits-hadits itu sebagaimana adanya dan mereka diam dari menafsirinya* atau menta&#8217;wilnya.&#8221; Pada hal 66 dia  berkata: &#8220;Adapun orang-orang salaf -mudah-mudahan Allah meridhai mereka- mereka mengatakan: &#8220;Kami beriman dengan ayat-ayat dan hadits-hadits ini sebagaimana adanya, dan kami membiarkan penjelasan maksudnya Allah Ta&#8217;ala.&#8221; Maka menetapkan adanya tangan, maka bersemayam (istiwa&#8217;), sifat tertawa, sifat heran&#8230; dan sebagainya, yang semua itu dengan makna-makna yang kita tidak mengetahuinya.&#8221; (Kitab &#8216;Aqa&#8217;id). Aku katakan: Yang nampak olehku -wallahu a&#8217;lam- bahwa Al-Banna rahimahullah belum jelas baginya madzhab as-salaf dalam masalah ini. Hal ini terlihat jelas pada perkataannya tentang orang-orang salaf dalam mengimani sifat-sifat Allah Ta&#8217;ala, bahwa mereka dia dari menafsirinya. Dan perkataannya juga, bahwa semua itu yakni &#8220;menyikapi sifat-sifat Allah dengan makna-makna yang kita tidak mengetahuinya&#8221;, tidak ragu lagi bahwa ini adalah tafwidh. Dan salaf rahimahullah berlepas diri dari tuduhan ini sebagaimana kamu ketahui, bahwa mereka menafsiri sifat-sifat Allah dari sisi makna tidak dari sisi hakikat dan keberadaannya. * Sementara imam Sufyab Ibnu Uyainah berkata: &#8220;Semua apa yang Allah Ta&#8217;ala telah menyifati diri-Nya dalam kitab-Nya maka tafsirnya adalah membacanya dan diam.&#8221; (Lihat Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, hal. 70). Pent.</li>
<li>Dari      kalangan ahli sunnah, setelah mendapat kerancuan dan syubhat dari kelompok      ini.</li>
<li>Yaitu ketika salah seorang Nashrani menjadi wakil al-Banna pada salah satu kepanitiaan pemilihan umum, dan akan dijelaskan dari nukilan-nukilan berikut.</li>
<li>Yakni      Hasan al-Banna dan dakwahnya.</li>
<li>Yakni      orang-orang Nashrani.</li>
<li>Yakni      di antara Ahlus Sunnah dan Syi&#8217;ah.</li>
<li>Minta      pertolongan untuk dilepaskan dari kesulitan (rsd)</li>
<li>Dan kami alhamdulillah dari akidah kami adalah menetapkan adanya karamah para wali, dan kamu sependapat dengan dia dalam sisi ini, adapun sisi yang kedua dari omongannya maka itu adalah perkataan yang sangat batil. Wal&#8217;iyadzubillah.</li>
<li>Mata      Uang Mesir</li>
<li>Lihat      Shahihul Jami&#8217; no. 4515</li>
<li>Salah      seorang penghuni penjara</li>
<li>Seorang      artis Mesir terkenal</li>
</ol>
<p>Pasal Kedua</p>
<p>AL-HIZBIYYAH DAN KEJELEKAN-KEJELEKAN TANZHIM YANG BERSIFAT RAHASIA</p>
<p>Saudaraku&#8230; mudah-mudahan Allah Ta&#8217;ala memberikan hidayah dan taufikNya kepada apa yang Allah sukai dan Allah ridhai.Sebenarnya aku menilai sikap hizbiyyah yang sempit dan hidup dijamaahmu, adalah termasuk dari sebab yang paling asasi dan telah menjadikan umat ini dalam firqah-firqah serta kelompok-kelompok.</p>
<p>Barangkali kamu akan keheranan dengan hal ini&#8230;. Akan tetapi aku katakan: Kemarilah bersamaku untuk melihat sejauh mana kebenaran penilaianku. Sebelum saya mulai, saya ingin bertanya kepadamu dengan satu pertanyaan.</p>
<p>Apakah kamu masuk dalam tanzhim rahasia yang ada di jamaahmu?Jika jawabnya, &#8220;Ya&#8230;&#8221;, maka perhatikanlah&#8230;. Apa yang kamu rasakan dari muamalah mereka terhadapmu sebelum dan sesudah kamu masuk dalam tanzhim ini? Bukankah di dalamnya ada perbedaan-perbedaan besar? Tidakkah kamu bertanya-tanya mengapa berbeda seperti ini? Akan aku katakan kepadamu mengapa demikian&#8230;.</p>
<p>Dikarenakan loyalitas dan muamalah mereka dengan manusia berasaskan tanzhim ini, &#8230;maka barangsiapa yang berada dalam tanzhim ini, dialah kawan akrabnya, dialah orang yang patuh, &#8230; dialah saudara&#8230;, dan dialah syaikh <strong><sup>1</sup></strong>), &#8230; dialah&#8230; dialah&#8230;. Dan barangsiapa yang belum menjadi anggota dan masuk dalam tanzhim mereka ini, tapi dia membela pemikiran mereka ini, maka dia adalah penolong&#8230; dialah yang membantu&#8230;dialah yang bisa diajak kerjasama. Orang biasa&#8230; orang yang baik&#8230;. Adapun orang yang tidak masuk dalam tanzhim mereka, akan tetapi dia mengikuti dalili dari kitab dan sunnah dengan pemahaman salaful ummah, dari shahabat Nabi kita Muhammad shalallahu &#8216;alaihi wasallam dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat&#8230;, maka dia adalah orang yang suka mengkafirkan (mukaffir), dialah orang yang suka membid&#8217;ahkan&#8230;, dia orang pemerintahan dan dia adalah utusan dari badan keamanan (intelijen)&#8230;, dialah orang yang bodoh dengan waqi&#8217; (fakta), dialah orang yang suka memecah belah&#8230; dialah&#8230; dialah&#8230; dan seterusnya.</p>
<p>Oleh karenanya aku katakan: Sebaiknya kamu tahu wahai saudaraku, mudah-mudahan Allah menyelamatkanmu&#8230;. Bahwa perbedaan yang mencolok antara jamaahmu dan jamaah ahli haq dalam masalah ini&#8230; bahwasanya dilihat, loyalitas mereka adalah untuk Allah dan Rasul-Nya shalallahu &#8216;alaihi wasallam serta orang-orang yang beriman. Adapun jamaahmu <strong><sup>2</sup></strong>) maka loyalitasnya adalah untuk Allah dan Rasul-Nya shalallahu &#8216;alaihi wasallam serta untuk orang yang masuk dalam tanzhim kelompok Ikhwanul Muslimin. Barangkali kata-kata terakhir ini terasa amat berat di hatimu, akan tetapi itulah kenyataan yang tidak ada keraguannya.</p>
<p>Di sini saya katakan kepadamu&#8230;. Seandainya kamu bepergian ke salah satu negeri&#8230; kemudian di perjalanan ketemu dengan tiga orang, seorang dari mereka dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah, Salafi, ath-Thaifah al-Manshurah (golongan yang ditolong), al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat), seorang lagi dari Jamaatut Tabligh dan yang lainnya dari Ikhwanul Muslimin&#8230; maka kamu duduk dengan mereka dan terjadi perbincangan di antara kalian dan saling mempersilahkan sebagian kalian dengan sebagian yang lain, dan kamu mulai memperkenalkan dirimu kepada mereka, kemudian masing-masing mereka pun memperkenalkan dirinya.</p>
<p>Maka berkata seorang dari mereka: Saya Fulan bin Fulan seorang ikhwani, kemudian yang kedua pun mengatakan saya Fulan bin Fulan seorang salafi, yakni orang yang mengikuti kitab dan sunnah atas pemahaman salaful ummah, maka sekarang sikap apa yang akan kamu tampakkan dari mereka ini?</p>
<p>Saya katakan kepadamu: Pasti kamu merasa bahagia dan sangat condong kepada orang yang pertama kamu mendengar bahwa dia adalah seorang ikhwani, kemudian kamu akan merasa berat hati, dan menjaga jarak serta berbagai basa-basi akan muncul olehmu, ketika kamu mendengar bahwa dia adalah seorang tablighi.</p>
<p>Adapun ketika kamu mendengar nama yang ketiga bahwa dia seorang salafi, maka akan nampak raut muka yang masam di wajahmu dan perubahan yang cepat (salah tingkah) dalam muamalah terhadapnya. Maka inikah wala&#8217; (loyalitas) untuk orang-orang beriman ataukah untuk jamaah Ikhwanul Muslimin? Tidak ragu lagi, loyalitas ini adalah untuk jamaah Ikhwanul Muslimin.</p>
<p>Adapun borok-borok tanzhim rahasia, maka Allah-lah tempat dimintai pertolongan. Hal ini karena tanzhim inilah yang telah membawa kita kepada bencana, dan tanzhim inilah yang telah membuat jurang yang menganga di antara Hukkaam (penguasa negara) dan para dai serta orang-orang yang berbuat islah (perbaikan) dengan apa yang telah memberi kesempatan kepada orang yang menyimpang dari kalangan sekuler dan yang lainnya, agar mereka bisa lebih mendekatkan diri kepada kelompok yang punya kedudukan untuk mereka bisa mencapai maksud dan tujuan mereka.</p>
<p>Bahkan tanzhim inilah yang telah menjadikan semua pemerintahan mengarahkan pandangan mereka kepada shahwah al-Islamiyyah (kebangkitan Islam) dengan pandangan takut dan waspada akan terjadi satu bentuk perubahan. Hal ini jelas sekali, tidak ada kerancuan dan tidak ada debu yang menghalangi (menutupi).</p>
<p>Maka wahai saudaraku&#8230;</p>
<p>Apa perlunya kita kepada &#8220;kerahasiaan&#8221; (sirriyah) di negeri-negeri Islam, lebih-lebih di negara-negara Teluk? Kecuali hanya sekedar kebutuhan orang-orang Ikhwan yang mereka sangat takut untuk menampakkan nya?</p>
<p>Diriwayatkan oleh Imam Ahmad rahimahullah dalam kitabnya Az-Zuhd halaman 353 dari Umar bin Abdul Aziz, katanya:</p>
<p>&#8220;Jika kamu lihat satu kaum yang mereka saling mengadakan &#8216;pembicaraan rahasia&#8217; dalam agama mereka, tanpa menceritakannya kepada orang banyak, maka ketahuilah bahwa mereka berada dalam satu dasar kesesatan.&#8221;</p>
<p>Oleh karenanya saya katakan: &#8220;Sesungguhnya akidah kami; salafiyyin (Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah), ath-Thaifah al-Manshurah (golongan yang ditolong), al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat) terhadap Hukkam (penguasa negara) kami kaum muslimin, bahwa kita tidak boleh keluar dari (ketaatan) mereka, walaupun pada mereka terdapat kezhaliman, kepalsuan, kefasikan dan kesenjangan, selagi mereka tidak mengumumkan secara jelas di depan orang banyak bahwa mereka tidak menghendaki dan tidak menyukai syariat Allah Ta&#8217;ala, dan mereka kafir kepada Allah dengan kekafiran yang nampak jelas oleh kita dengan petunjuk dari Allah Ta&#8217;ala dan dalil dari ktiab dan sunnah. Maka kalau seandainya mereka berbuat demikian, bolehlah untuk keluar dari ketaatan terhadap mereka dengan syarat yang kedua, yakni kita memiliki kemampuan dan kekuasaan untuk menggulingkan mereka, tanpa mengakibatkan kerusakan yang lebih parah dari yang pertama.</p>
<p>Kalau tidak demikian, kami Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah bekerja sama dengan pemerintah Islam dengan doa dan nasehat kepada mereka dengan cara hikmah, penuh bijaksana dan nasehat yang baik, tidak dengan revolusi dan kebrutalan. Dan kita taat kepada mereka dalam suka ataupun duka, kecuali dalam kemaksiatan, maka tidak ada ketaatan kepada mereka. Maka kami pun memberi peringatan kepada orang yang keluar dari ketaatan terhadap mereka dari kalangan kaum muslimin&#8230;!</p>
<p>Dan kami namakan mereka (orang-orang yang keluar dari ketaatan pemerintah Islam) orang-orang yang membangkang, dan kami hukumi mereka sebagaimana layaknya orang yang membangkang. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ubadah bin ash-Shamit <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>:</p>
<p><em>Rasulullah mengajak kami, maka kami pun membaiatnya, dan beliau ambil dari kami adalah, agar kami membaiatnya ats dasar mendengar dan taat dalam suka maupun duka, dalam keadaan susah ataupun mudah dan dalam keadaan yang tidak kita sukai atau kita inginkan serta supaya kita tidak merampas kekuasaan dari ahlinya kemudian beliah bersabda: &#8220;Kecuali kalian melihat kekafiran yang sangat jelas oleh kalian dengan petunjuk dari Allah Ta&#8217;ala.&#8221; </em>[HR. Muslim -lihat Syarh Muslim oleh Imam Nawawi, di Kitabul Imarah, bab Wujubu ath-Tha'ah al-Umara fi Ghairi Ma'shiyah wa Tahrimuha fi al-Ma'shiyah]</p>
<p>Saudaraku&#8230; mudah-mudahan Allah menjagamu. Barangkali di sini ada satu pertanyaan yang muncul, yakni selama jamaah ini demikian kondisinya, manakah jalan yang benar&#8230;?</p>
<p>Sesungguhnya jalan yang benar adalah jalan yang pernah ditempuh oleh Nabi kita Muhammad <em>shalallahu &#8216;alaihi wasallam </em>dan para sahabatnya yang mulia serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik yakni &#8220;Manhaj Shalafus Shalih&#8221; <em>radhiallahu &#8216;anhum ajma&#8217;in</em>. Hal ini berdasarkan hadits Abi Najih al-&#8217;Irbadh bin Sariyyah berkata:</p>
<p><em> Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam telah memberikan nasehat kepada kami dengan satu nasehat yang dengannya bergetar hati-hati dan berlinanglah air mata, maka kami katakan, &#8220;Ya Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat perpisahan, maka berikanlah wasiat kepada kami.&#8221; Maka beliau pun bersabda, &#8220;Aku wasiatkan kepada kalian agar kalian bertaqwa kepada Allah Azza wa Jalla, mendengar dan taat, walaupun kalian diperintah oleh seorang hamba (budak), maka sesungguhnya barangsiapa yang hidup dari kalian, pasti akan mendapatkan perselisihan yang banyak. Oleh karenanya, wajib bagi kalian untuk memegang sunnahku serta sunnah para khalifar ar-rasyidah yang mendapat petunjuk, gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hatilah dari perkara-perkara yang baru maka sesungguhnya setiap bid&#8217;ah adalah sesat.&#8221; </em>[Disebutkan oleh Imam Nawawi dalam Arba'in Nawawiyyah dan berkata: Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi dan Tirmidzi mengatakan Hadits Hasan]</p>
<p>Dan Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wasallam</em> telah menjelaskan bahwa perselisihan (ikhtilaf) akan terjadi, tapi beliau tidak membiarkan kita (dalam perselisihan) dengan tanpa bayyinah (penjelasan). Bahkan beliau telah memberikan kepada kita jalan keluar dari perselisihan ini dengan sabdanya: Wajib bagi kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para khulafa ar-rasyidin yang mendapat petunjuk, yakni wajib bagi kalian untuk mengikuti jalanku dan jalan yang telah ditempuh oleh khulafa ar-rasyidin, bukan jalannya Al-Banna dan bukan pula jalan yang lain.</p>
<p>Footnote:</p>
<ol>
<li>Selintas pandang, ketika aku berada di tanzhim mereka ini, sebagian dari mereka memanggilku dengan &#8220;Syaikh&#8221; dan saat itu aku larang panggilan ini, karena saya tahu bahwa saya masih menempuh jalanku di awal mencari ilmu dan aku bukan ahlinya dalam hal ini&#8230; dan tatkala aku menyelisihhi mereka dan aku tinggalkan tanzhim mereka, lenyaplah kalimat ini dan diganti dengan katan-kata yang lain seperti tukang mengkafirkan, tukang membid&#8217;ahkan dan tukang memfasikkan orang dan diutus dari badan keamanan&#8230;, maka betapa mengherankan basa-basi dan hizbiyyah ini. Subhanallah.</li>
<li>Kami katakan: Adapun jamaahmu, loyalitas mereka adalah terbatas hanya pada orang-orang yang masuk di bawah panji-panji mereka, karena seandainya loyalitas mereka karena Allah dan Rasul-Nya dengan benar, pasti hal ini diberikan kepada kaum muslimin semuanya. Allahu a&#8217;lam.</li>
</ol>
<p>Pasal Ketiga</p>
<p>PERKATAAN AHLI ILMU TENTANG IKHWANUL MUSLIMIN</p>
<p>Saudaraku&#8230; mudah-mudahan Allah menjagamu. Apakah kamu mendengar perkataan ahli ilmu tentang jamaah yang kamu berada di dalamnya?</p>
<p>Telah ditanya al-Muhadits Syaikh Muqbil al-Waadi&#8217;i seorang alim dari negeri Yaman, &#8220;Apakah jamaah Ikhwanul Muslimin, Tablighi dan Quthbiyyin (orang-orang yang mengikuti pemikirannya Sayyid Quthub) termasuk Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah atau bukan?&#8221;</p>
<p>Maka beliau pun menjawab:</p>
<p>&#8220;Adapun jamaah Ikhwan, jamaah Tabligh dan al-Quthbiyyin, maka lebih baik untuk dihukumi kepada manhaj mereka. Dan manhaj (prinsip dan cara berfikir) mereka bukan termasuk Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah. Adapun individu (masing-masing jamaah), maka kalian pun tahu bahwa sebagian orang terkecoh, menyangka seseorang sebagai salafi <strong><sup>1</sup></strong>) dan mendatangkan dia dalam rangka membela agama Allah Ta&#8217;ala, dan berjalan dengan mereka, karena mereka campur aduk. Individu-individu ini campur baur tidak bisa dihukumi atas mereka dengan satu hukum yang umum akan tetapi manhaj-manhaj mereka, bukanlah dari manhaj Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah.&#8221; [Kaset Al-As-ilah as-Saniyyah li 'Allamah al-Bilaad al-Yamaniyyah]</p>
<ol>
<li>Saya katakan: Inilah kebanyakan yang terjadi di kalangan anak muda mudah-mudahan Allah memberi petunjuk mereka dimana mereka bertemu dalam tanzhim Ikhwan tanpa mereka tahu dan memperhatikan manhaj ini, seandainya mereka tahu apa yang ada dalam tanzhim ini dari penyimpangan-penyimpangan kepada Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah pasti mereka akan berlepas diri dan waspada darinya. Oleh karenanya yang saya harapkan kepada kawula muda yang terorganisasi dalam kelompok ini, supaya jangan mengajak kepada kelompok ini tanpa mereka mengetahui manhajnya dan supaya mereka tidak merasa cukup dengan mendengar pujian-pujian atas pendiri-pendiri jamaah ini dan manhajnya dari kalangan pimpinan-pimpinannya, bahkan mestinya mereka mencari dan membongkar buku-buku al-Banna, Tilmisani dan Sayyid Sa&#8217;id Hawa serta yang lainnya, agar al-haq ini nampak oleh mereka dengan jelas tanpa kerancuan dan debu yang menutupinya.</li>
</ol>
<p>Al-Muhaddits as-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani <em>rahimahullah </em>pernah ditanya juga tentang apa hukum banyaknya jumlah jamaah-jamaah dan kelompok-kelompok Islam, sementara masing-masing berbeda dalam manhajnya, cara-cara dakwahnya dan akidahnya serta dasar-dasar yang tegak di atas jamaah-jamaah ini, terlebih dikatakan bahwa jamaah yang haq adalah satu sebagaimana yang disebutkan dalam hadits?</p>
<p>Maka beliau pun menjawab: &#8220;Ringkas kata dalam masalah ini kitakan, &#8220;Tidak tersamar bagi setiap muslim yang tahu akan kitab dan sunnah dan apa-apa yang ada pada salaf ash-shalih radhiallahu &#8216;anhum bahwasanya:</p>
<ul>
<li>Pengelompokan (tahazzub) dan perkumpulan (takatul) dalam jamaah-jamaah yang berlainan pola berfikirnya.</li>
<li>Manhaj-manhaj (prinsip) dan cara-cara (model-model mereka)</li>
</ul>
<p>Tidak ada sedikipun yang berasal dari Islam, bahwa semua itu adalah dari hal-hal yang dilarang oleh Allah Ta&#8217;ala dalam banyak ayat-ayatNya di dalam Al-Qur&#8217;an al-Karim. Di antaranya: <em>&#8220;Dan janganlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.&#8221; </em>(Ar-Ruum: 32)</p>
<p><em>Dan firman-Nya yang lain: &#8220;Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang- orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu.&#8221;</em> (Hud: 118-119)</p>
<p>Dan Allah Ta&#8217;ala mengecualikan dari perselisihan ini satu golongan yang dikasihi, di mana Allah berfirman: (&#8220;Kecuali orang-orang yang diberi rahmah oleh Tuhanmu.&#8221;)</p>
<p>Maka tidak ada keraguan dan kebimbangan, bahwasanya jamaah manapun yang menginginkan dengan perhatian yang maksimal dan ikhlas karena Allah Ta&#8217;ala untuk bisa termasuk dari umat yang dikasihi ini yang dikecualikan dari perselisihan yang pasti terjadi, tidak ada cara untuk sampai kepada jalan itu dan untuk merealisasikannya secara amaliah dalam masyarakat Islam, kecuali dengan kembali kepada Kitab dan Sunnah dan apa-apa yang telah ditempuh oleh salaf ash-shalih <em>radhiallahu &#8216;anhum ajma&#8217;in</em>.</p>
<p>Dan Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wasallam </em>telah menjelaskan manhaj dan jalan yang selamat, tidak hanya satu hadits yang shahih saja dari Nabi shalallahu &#8216;alaihi wasallam, di mana beliau pada suatu hari membuat satu garis lurus di atas tanah, dan membuat garis-garis di sekitar garis lurus itu, kemudian beliau membaca firman Allah Ta&#8217;ala:</p>
<p><em>&#8220;Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.&#8221; </em>(Al-An&#8217;am: 153)</p>
<p>Kemudian beliau menunjuk dengan ujung jarinya di atas garis yang lurus, seraya bersabda, &#8220;Dan masing-masing golongan dari dua kelompok ini ada setan yang mengajak manusia kepadanya.&#8221; Tidak ragu lagi bahwa jalan-jalan yang pendek inilah yang menjadi perumpamaan adanya kelompok-kelompok dan jamaah-jamaah yang banyak sekali. (Sampai disini perkataan beliau).</p>
<p>Demikian pula Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin <em>hafizhahullah</em> ditanya: Apakah ada nash-nash dari kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya shalallahu &#8216;alaihi wasallam yang menjelaskan tentang dibolehkannya ta&#8217;addud al-Jama&#8217;at (banyaknya jumlah jamaah) dan jamaah Ikhwan?</p>
<p>Maka beliau pun menjawab: &#8220;Saya katakan, tidak ada dalam kitab dan juga di sunnah hal- hal yang membolehkan banyaknya jumlah jamaah dan kelompok-kelompok,  bahkan dalam kitab dan sunnah mencela masalah ini. Firman Allah Ta&#8217;ala:</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung-jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.&#8221; </em>(Al-An&#8217;am: 159)</p>
<p><em>&#8220;Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.&#8221;</em> (Ar-Ruum: 32)</p>
<p>Tidak ragu lagi bahwa kelompok-kelompok ini menyelisihi apa yang diperintahkan oleh Allah, bahkan Allah membatasinya dengan firman-Nya:</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.&#8221; </em>(Al-Mu&#8217;minun: 52)</p>
<p>Dan perkataan sebagian dari mereka yang mengatakan bahwa &#8220;tidak mungkin dakwah ini menjadi kuat kecuali jika berdiri dibahwa satu kelompok.&#8221;</p>
<p>Kami katakan: Ini tidak benar, bahkan dakwah ini akan semakin kuat selama manusianya berlindung di bawah Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya shalallahu &#8216;alaihi wasallam dengan ittiba&#8217; (mengikuti) kepada atsar-atsar (perilaku/jejak langkah) Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wasallam </em>dan khulafa ar-rasyidin.&#8221;</p>
<p>Sebagaimana telah bangkit sebagian ahli ilmu dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah yang mereka memiliki bashirah (wawasan) tentang manhaj jamaah ini (yakni Ikhwanul Muslimin) dengan memberi peringatan kepada manusia dari (bahayanya) jamaah ini, lebih-lebih al-Muhaddits Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Syaikh Shalih al- Fauzan anggota ikatan ulama-ulama besar Saudi Arabia dan Syaikh Rabi&#8217; bin Hadi al-Madkhali <strong><sup>2</sup></strong>) serta yang lainnya masih banyak lagi&#8230;.</p>
<p>Disini saya katakan kepadamu, sekaligus saya beri peringatan atas suatu permasalahan: Bukankah kamu lihat bahwa yang mengkritik jamaah ini dan mentahdzir (memberi peringatan) dari jamaah in pada masa sekarang, mereka adalah dari kalangan ulama-ulama besar dan para pencari ilmu (thalabatul ilmi), berbeda dengan orang-orang yang hanya sekedar memuji kepada jamaah ini.</p>
<p>Tidakkah hal ini sedikit membekas pada jiwamu? Katakanlah: Ya, dan tengoklah kembali jiwamu!</p>
<ol>
<li>Dan orang yang paling luas pandangan tentang asapnya (kejelekannya) jamaah-jamaah ini pada masa kini adalah Syaikh Rabi&#8217; al-Madkhali hafizhahullah, telah berkata demikian Syaikh Muqbil al-Wadi&#8217;i kaset Al-As-ilah as-Saniyyah li &#8216;Allamah al-Bilaad al-Yamaniyyah</li>
</ol>
<p>Pasal Keempat</p>
<p>SYUBHAT DAN TUDUHAN YANG DILONTARKAN OLEH ORANG-ORANG IKHWAN</p>
<p>Saudaraku&#8230; mudah-mudahan Allah memberi petunjuk kepadamu.</p>
<p>Sesungguhnya, masalah jamaahmu ini adalah sangat unik dan aneh, hal ini dilihat dari cara muamalah di antara anggotanya. Mereka mengerahkan kesungguhan yang tidak gampang untuk membuat syubhat dan kedustaan, yang terlampau susah untuk membuat syubhat dan kedustaan, yang terlampau susah untuk mencari jalan keluarnya. Kemudian syubhat dan kedustaan tersebut mereka lontarkan kepada orang-orang yang terikat dengan mereka&#8230; supaya tetap tinggal dengan mereka dan dikuasai oleh mereka dan oleh otak-otak mereka, kemudian sesudahnya mereka akan tetap bersama kelompok ini dan loyalitas mereka tetap kepada kelompok ini&#8230;!</p>
<p>Barangkali masalah ini sangat aneh menurut pandanganmu. Tidak&#8230; bukan berarti saya mengada-ada kedustaan atas mereka, akan tetapi dikarenakan kurang atau tidak adanya perhatian kepada masalah ini, juga karena kamu tidak mendengar dari sisi-sisi yang lain.</p>
<p>Aku sodorkan kepadamu sebagiannya&#8230;.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SYUBHAT PERTAMA</strong></p>
<p>Mereka membedakan antara salafiyyah yang ada di medan Islam dengan Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah. Yaitu mereka membagikan pembahasan didalam masalah ini dengan judul &#8220;Mufradaat as-Salafiyyah al-Jadidah&#8221; (Keganjilan-keganjilan Salafiyyah Gaya Baru) dan saya adalah termasuk orang-orang yang menerima bagian pembahasan ini tatkala saya berada didalam tanzhim (organisasi) mereka. Dan sungguh mereka membuat kebingungan yang mencegangkan. Hal itu mereka lakukan agar bisa memberi kerancuan kepada orang yang bergabung dengan kelompok mereka dan membuat suatu tameng didalam diri mereka yang memisahkan antara mereka dengan Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah (salafiyyah).</p>
<p>Mereka menyangka di dalam pembahasan yang dibagi-bagi ini bahwa salafiyyah yang ada sekarang ini tidaklah mempunyai perhatian kecuali hanyalah takfir (mengkafirkan), tabdi&#8217; (membid&#8217;ahkan),tafsiq (memfasiqkan) dan tadlil (menyesat-nyesatkan) dan bahwa mereka adalah alat pada suatu badan keamanan&#8230;. Tongkat-tongkat yang ada dibawah ketiak-ketiak peraturan yang timpang. Mereka adalah penakut untuk mengkritik para penguasa dan peraturan-peraturan yang ada, padahal semua hal tersebut pantas untuk mendapat kritik. Dan mereka juga penakut untuk terlibat lansung dengan masalah-masalah yang terjadi serba bisa menimbulkan kemurkaan bagi hakim (penguasa) dan peraturan.</p>
<p>Dan sesungguhnya mereka adalah lemah di dalam masalah adab bergaul bersama kaum muslimin, karena mereka didominasi oleh sifat kasar dan kaku. Mereka lemah di dalam masalah-masalah i&#8217;tikad (keyakinan) yang lurus dan selamat. Dan mereka juga lemah di dalam ilmu tentang realitas umat dan apa-apa yang menimpa mereka. Mereka pun mempunyai hukum-hukum yang serampangan, di antaranya perkataan:</p>
<p>Bahwa sesungguhnya Abu Hanifah adalah seorang Jahmiy, Murjiy dan seorang ahli bid&#8217;ah (mubtadi&#8217;) yang sesat. Merupakan kesialan bagi Islam dan ahlinya. Tidak terlahir di dalam Islam orang yang lebih sial/malang melebihi dia. Hal itu disaksikan oleh lebih dari dua puluh orang alim dari para ulama salaf, sehingga dia pantas untuk diberi nama Abu Jiifah (bapaknya bangkai).</p>
<p>Ibnu Taimiyyah: Tidak bisa diambil darinya hukum-hukum al- Wala&#8217; dan al- Bara&#8217;.</p>
<p>Ibnul Qayyim: Pada dirinya terdapat tashawwuf dan kebid&#8217;ahan.</p>
<p>An-Nawawi: Seorang Jahmi dan Asy&#8217;ari, bukan dari Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah.</p>
<p>Al-&#8217;Izz bin Abdussalam: seorang Jahmi dan Asy&#8217;ari, pada dirinya terdapat karakter (watak) Khawarij.</p>
<p>Adz-Dzahabi: Lunak di dalam hukum-hukumnya dan mutasahil (bersikap remeh/gampangan) terhadap ahli bid&#8217;ah dan juga dia adalah seorang kuburi.</p>
<p>Ibnu al-Jauzi: Seorang Jahmi tulen.</p>
<p>Muhammad bin Abdul Wahhab: Bukanlah seorang salafi di dalam masalah hadits, fiqh, dan sebagian masalah-masalah i&#8217;tikad.</p>
<p>Sayyid Quthb: Seorang Jahmi dan Hululi (yang berfaham wihdatul Wujud).</p>
<p>Hasan al-Banna: Seorang mufawwidh, sufi dan loyal terhadap Yahudi dan Nashrani.</p>
<p>At-Tilmitsani: Tukang tari dan seorang penabuh kecapi. Juga seorang yang menghalalkan dan membolehkan apa-apa yang diharamkan Allah.</p>
<p>Ibnu Jibrin: Tidak ada ilmunya.</p>
<p>Ibnu Bazz: Lemah ilmunya terhadap hadits, meragukan di dalam berfatwa, diam terhadap ahli bid&#8217;ah dan tertipu dengannya.</p>
<p>Ibnu Utsaimin: Permainan di tangan Sururiyyin.</p>
<p>Ibnu Qu&#8217;ud: Seorang yang berfaham Khawarij dan loyal terhadap jamaah-jamaah sesat.</p>
<p>Jihad di Bosnia, bukanlah jihad fi sabilillah. Pertempuran di Kashmir, Filipina dan Palestina, bukan jihad&#8230; dan seterusnya.</p>
<p>Mereka juga mempunyai akhlak-akhlak dan perangai-perangai tertentu, diantaranya: Saling mengisolir di antara mereka, saling membenci, memaki dan mencela. Sangat kaku terhadap manusia. Menuduh dengan rusaknya akidah, semata-mata karena seseorang dituduh mempunyai buku-buku yang mereka tuduh dengan kebid&#8217;ahan&#8230;. Pendustaan secara terang-terangan terhadap rivalnya&#8230;. Membantu orang-orang zhalim dan fasik untuk menindas saudara-saudara mereka kaum muslimin dari para ulama dan dai.</p>
<p>Hal itu dengan cara menulis pernyataan-pernyataan, menyebarkan tuduhan dan menganjurkan para penguasa untuk melawan mereka.</p>
<p>Dan tuduhan-tuduhan dusta serta lacut lainnya yang tidak mungkin diucapkan oleh orang yang takut kepada Allah dan hari akhir terhadap saudaranya yang muslim. Semoga Allah melindungi kami dan suadara dari ketergelinciran dan kesesatan. <strong><sup>1</sup></strong>)</p>
<ol>
<li>Barangsiapa yang ingin untuk membaca pembahasan tersebut,layangkanlah surat kepada saya dengan alamat yang akan saya jelaskan pada akhir tulisan, insya Allah. Saudaraku, semoga Allah memberi petunjuk kepada saya dan anda terhadap jalan kebenaran. Tahukah anda, kenapa kedustaan besar yang mereka rekayasa didalam pembahasan ini? Tidak lain adalah agar bisa memberikan kerancuan terhadap anda, sehingga anda benci terhadap salafiyyah Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah dan anda tetap berpegang dengan jamaah, kesesatan dan kegelapan mereka, serta menjadi penyeru kepada manhaj mereka, sembari menyangka bahwa itu adalah manhaj yang benar.</li>
</ol>
<p>Dan dari sanalah, anda tidak akan melihat nur (cahaya) selamanya, kecuali jika Allah memperbaiki anda dengan rahmat-Nya. Karena itulah, berikut ini akan saya jelaskan kedustaan mereka terhadap Salafiyah:</p>
<p>PERTAMA:</p>
<p>Bahwa sesungguhnya tidak ada perbedaan antara Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah, ath-Thaifah al-Manshurah dan salafiyyah. Hal itu karena manhaj mereka adalah Kitab dan Sunnah yang shahih, serta apa yang salaful ummah ridwanallahi &#8216;alaihim ada di atasnya. Berbeda dengan jamaahmu, maka mereka di atas manhaj Kitab dan Sunnah dan apa yang generasi akhir umat ini berada di atasnya berupa bentuk-bentuk pemikiran dan pergerakan.</p>
<p>Demikian mereka menyangka. Masalah itu telah jelas bagimu tatkala saya menampilkan manhaj para pemimpinmu pada waktu yang telah lewat.</p>
<p>KEDUA:</p>
<p>Kata-kata pembahas Semoga Allah memberi petunjuk kepadanya bahwa salafiyyah mengkafir-kafirkan dan menyesat-nyesatkan serta berbuat ini dan itu seperti yang telah saya jelaskan, tidak lain hanyalah kedustaan dan rekaan. Hal itu dilakukan adalah untuk melarikan saudara-saudara pemula dan para pemuda dari dakwah yang benar ini.</p>
<p>KETIGA:</p>
<p>Perbedaan dia (semoga Allah membalasnya dengan apa-apa yang menjadi haknya) antara salafiyyah sekarang dengan ulama-ulama istimewa terdahulu seperti: Abu Hanifah, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Muhammad bin Abdul Wahhab dan lain-lain serta persangkaan dia bahwa salafiyyah sekarang mencela dan menganggap sesat mereka seperti di dalam pembahasan, tidak lain hanyalah menunjukkan atas kejelekan isi hati penulis dan hizbiyyah yang pahit dan menyesatkan sampai batas sejauh ini. Dan itu dilakukan untuk mengacaukan dakwah salafiyyah. Karena itulah saya berkata agar diketahui oleh semuanya bahwa pimpinan salafiyyah, Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah dan ath-Thaifah al-Manshurah adalah satu, yaitu Nabiyyul Huda Muhammad &#8216;alaihi shalatu wassalam. Dan mereka (salafiyyin) menempuh jalan beliau <em>shalallahu &#8216;alaihi wasallam </em>yang ditempuh oleh Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan para shahabat semua serta pengikut mereka dengan baik seperti: Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi&#8217;i, Ahmad bin Hanbal, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Muhammad bin Abdul Wahhab, Muhammad bin Ibrahim, Abdurrahman bin Sa&#8217;di. Dan di antara orang-orang zaman sekarang adalah seperti Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin, Al-Albani dan banyak lagi lainnya semoga Allah memberi ridha kepada mereka semua-. Dan mereka (Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah) berkeyakinan bahwa mereka tidak maksum kecuali Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wasallam</em>.</p>
<p>Maka jika terjadi ketergelinciran pada salah seorang dari mereka, ditinggalkan ketergelincirannya, karena mereka tidak maksum. Dan mereka di dalam perkara tersebut berada di antara satu atau dua pahala seperti di dalam sunnah yang shahih dari Nabi shalallahu &#8216;alaihi wasallam tentang hukum mujtahid. Jika benar dia mendapat dua pahala dan jika salah dia mendapat satu pahala. Hal itu terjadi karena madzhab mereka adalah dalil yang shahih serta meneliti jejak langkah Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wasallam </em>dan para shahabatnya yang mulia.</p>
<p>Berbeda dengan al-Banna, at-Tilmisani, Sa&#8217;id Hawa dan lainnya, sebagaimana tidak samar lagi bagi setiap orang yang mempunyai bashirah (ilmu) tentang keadaan mereka rahimahullaha ajma&#8217;in.</p>
<p>KEEMPAT:</p>
<p>Perlu anda ketahui bahwa ulama salafiyyah sekarang yang mereka itu adalah Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah, mereka adalah: Ibnu Baz, Al-Albani, Ibnu Utsaimin, Ibnu Qu&#8217;ud, Shalih aalu asy-Syaikh, al-Fauzan, Rabi&#8217; al-Madkhali, Ibnu Ghashun dan lainnya <strong><sup>2</sup></strong>). Dan sesungguhnya tidak ada perbedaan di antara mereka dengan salafiyyah, sebagaimana anggapan penulis -semoga Allah memberi petunjuk kepadanya-. Tetapi dia membedakan didalam masalah tersebut agar bisa menyampaikan fikrah yang dia inginkan kepada para pemuda, yaitu bahwa manhaj yang para ulama besar sekarang seperti Ibnu Baz, al-Albani, Ibnu Utsaimin dan lainnya. Dan sungguh buah pemikiran tersebut telah nampak ketika seorang pemuda Ikhwani yang terancukan pikirannya dan seorang yang membawa akidah Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah menjadi tidak suka dan benci terhadap setiap orang yang menamakan diri dengan salafiyyah, walaa haula walaa quwwata illa billah.</p>
<p>2) Hal ini tidaklah berarti bahwa salafiyyah adalah monopoli seseorang, seperti yang dianggap oleh sebagian orang.</p>
<p><strong>SYUBHAT KEDUA</strong></p>
<p>Perkataan mereka bahwa salafiyyah (Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah dan ath- Thaifah al-Manshurah) menentang amal jama&#8217;i (kerja sama) dan tanzhim (organisasi).</p>
<p>Samahatusy-Syaikh Muqbil al-Wadi&#8217;i seorang muhaddits negeri Yaman telah ditanya:</p>
<p>Apakah benar wahai Syaikh bahwa anda tidak melihat perlunya tanzhim pada semua urusan dakwah?</p>
<p>Maka beliau hafizhahullah menjawab setelah menetapkan adanya tanzhim didalam Sirah (biografi) Rasul <em>shalallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, seraya berkata:</p>
<p>&#8220;Yang kami ingkari adalah tanzhim yang menyelisihi Kitab dan Sunnah. Inilah yang kami ingkari. Dan kami katakan: Sungguh seseorang hidup sendirian itu lebih baik daripada masuk ke dalam tanzhim thaghut yang menyelisihi Kitab dan Sunnah Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam&#8230; ya, dan ini adalah perkara yang disebarkan bahwa Ahlus Sunnah menentang tanzhim dan bahwa mereka menentang amal jama&#8217;i (kerja sama).</p>
<p>Saya katakan: Yang menentang amal jama&#8217;i atau yang mengingkari tanzhim bukanlah seorang sunni, karena Allah &#8216;azza wa jalla berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia:</p>
<p><em>&#8220;Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong di dalam berbuat dosa dan pelanggaran.&#8221; </em>(al- Maidah: 2)</p>
<p>Dan Nabi shalallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:</p>
<p><em>&#8220;Seorang mukmin dengan seorang mukmin lainnya adalah seperti bangunan, saling menguatkan sebagian atas sebagian yang lainnya.&#8221;</em> [Diriwayatkan oelh al-Bukhari (X/450 - Fathul Bari) dan Muslim (2585), pent.]</p>
<p>Dan beliau <em>shalallahu &#8216;alaihi wasallam </em>bersabda:</p>
<p><em>&#8220;Perumpamaan kaum mukminin di dalam saling mencintai, mengasihi dan menyayangi di antara mereka adalah seperti tubuh. Jika mengeluh salah satu anggota dari tubuh tersebut, akan merasakan seluruh jasad baik dengan demam atau tidak bisa tidur.</em> [Bukhari (X/347 - Fathul Bari) dan Muslim (2586), pent.]</p>
<p>Al-Amal al-Jama&#8217;i (kerja sama) yang menyelisihi Kitab dan Sunnah contohnya adalah yang al-Ikhwan al-Muflisun (orang-orang yang bangkrut) <strong><sup>3</sup></strong>) berada di atasnya.</p>
<p><strong>3)</strong> Syaikh hafizhahullah memaksudkan al-Ikhwan al-Muslimin. Al-Muflisun artinya adalah orang-orang yang bangkrut. (pent.)</p>
<p><strong>SYUBHAT KETIGA:</strong></p>
<p>Perkataan mereka adalah salafiyyah adalah salah satu jamaah dari jamaah- jamaah tanzhim, walaupun menentang tanzhim dan termasuk jamaah-jamaah hizbiyyah, walaupun menolak tahazzub (pengelompokan) .<strong><sup> 4</sup></strong>)</p>
<p>4) Artinya tanzhim yang mereka berada di atasnya, dan hizbiyyah yang mereka terkungkung di dalamnya.</p>
<p>Di sini saya katakan, sudah jelas kedustaan ini bertentangan dengan syubhat kedua Tetapi ini adalah kebiasaan ahli batil, para pendusta dan para pendengki dari kalangan hizbiyyin. Mereka mempertentangkan diri mereka dengan pribadi mereka sendiri dengan bersandar kepada kedustaan dan rekayasa.</p>
<p>Karena mereka tidak mampu untuk membantah dengan bantahan yang ilmiah dan benar terhadap ahlul haq tentang apa yang mereka jelaskan dari kemungkaran-kemungkaran dan bid&#8217;ah-bid&#8217;ah yang terdapat pada hizb-hizb ini.</p>
<p>Sama sekali mereka tidak akan mampu melakukan hal tersebut!</p>
<p>Orang yang memperhatikan sirah Rasul <em>shalallahu &#8216;alaihi wasallam </em>mendapatkan dan memperoleh hal tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang kafir <strong><sup>5</sup></strong>) -semoga Allah membinasakan mereka- terhadap Nabi shalallahu &#8216;alaihi wasallam. Terkadang mereka mengatakan bahwa beliau adalah seorang penyair, dan syi&#8217;ir tidak mungkin mampu kecuali orang yang mempunyai akal yang istimewa&#8230;. Dan pada kesempatan lain</p>
<p>mereka mengatakan bahwa beliau gila&#8230;, maka lihatlah pertentangan tersebut!</p>
<p><strong><sup>5</sup></strong><strong><sup>)</sup></strong> Tentu dengan adanya perbedaan antara orang-orang kafir dan orang Ikhwan, maka mereka (Ikhwan) adalah orang-orang muslim.</p>
<p>Tujuan mereka dari kedustaan ini jelas sekali tidak ada kesamaan diatasnya, mereka ingin menggambarkan kepada orang-orang yang tergabung didalam jamaah mereka bahwa salafiyyah adalah hizb seperti hizb-hib yang lain. Keadaan salafiyyah seperti keadaan mereka. Masing-masing menyempurnakan sebagian atas sebagian yang lain seperti yang mereka sangka. Ini adalah kedustaan dan rekayasa. Hal ini dilihat dari beberapa segi:</p>
<ol>
<li>Bahwa      salafiyyah tidak mempunyai pendiri dan pemimpin selain Nabi <em>shalallahu      &#8216;alaihi wasallam</em>. Berbeda dengan Ikhwanul Muslimin, pemimpin dan      pendiri manhaj mereka adalah Hasan al-Banna <em>rahimahullah </em>dan orang      yang sesudahnya.</li>
<li>Bahwa salafiyyah tempat kembalinya (rujukan) mereka adalah Al- Kitab, Sunnah dan apa yang salaful ummah ada di atasnya. Berbeda dengan mereka, tempat kembali mereka adalah Kitab, Sunnah dan pandangan pemikiran serta gerakan yang disangka oleh mereka.</li>
<li>Bahwa salafiyyah, loyalitas adalah kepada Allah, Rasul-Nya dan kaum mukminin. Berbeda dengan Ikhwan, maka loyalitas mereka diberikan kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang tergabung di dalam Ikhwanul Muslimin.</li>
</ol>
<p><strong>SYUBHAT KEEMPAT:</strong></p>
<p>Perkataan dan lontaran mereka pada akal-akal para anggota (al-Ikhwan) bahwa diskusi dan dialog ilmiah dengan tenang untuk menjelaskan kebenaran kepada firqah-firqah ini dan lainnya tentang beberapa masalah adalah merupakan perdebatan yang tidak bermanfaat dan wajib untuk ditinggalkan.</p>
<p>Mereka menginginkan dengan lontaran tersebut untuk menjaga orang yang tergabung di dalam hizb mereka. Karena mereka tahu bahwa semata-mata dengan perginya orang tersebut saja untuk berdiskusi dan dialog dengan seorang salafi (Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah), hasilnya adalah dia akan meninggalkan hizb yang dia tergabung di dalamnya&#8230; jika dia termasuk orang yang bertakwa kepada Allah. Karena dia akan terbakar hangus dengan dalil-dalil yang tetap (tsabit) dari Kitab dan Sunnah dan apa-apa yang salaful ummah ada di atasnya.</p>
<p>SALAFIYYAH YANG TIDAK KITA INGINKAN</p>
<p>Di sana ada orang-orang yang menisbatkan diri kepada salafiyyah (Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah) telah tertimpa oleh beberapa malapetaka:</p>
<p>PERTAMA:</p>
<p>Ta&#8217;ashub mereka kepada Zaid (Fulan, pent) dari ulama&#8230;, maka mereka tidak mau untuk berpaling dan menentang orang tersebut (bagaimanapun keadaannya, pent). Kalau Zaid tidak berkata bahwa ini haram, maka hal itupun tidak haram. Atau tidak mengatakan hal ini halal, maka perkara itupun tidak halal. Atau tidak mengatakan ini sunnah, maka amalan itupun tidak sunnah, dan seterusnya.</p>
<p>Sungguh saya telah bertemu dengan salah seorang dari mereka. Dia bertanya kepada saya tentang suatu masalah di dalam shalat. Maka saya menukilkan untuknya apa yang disabdakan oleh Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, dan yang dirajihkan oleh ahlul ilmi tentang masalah tersebut&#8230;. Maka dia mengatakan: Apakah Fulan telah berbicara tentang masalah ini? Saya jawab: Tidak tahu&#8230; Maka dia pun diam dan melemparkan apa yang saya jelaskan kepadanya ke arah tembok.</p>
<p>Maka ini adalah salafiyah dan ashabiyyah yang tidak kita sukai. Hal itu dikarenakan Ahlus Sunnah terikat dengan syariat, tidak dengan orang-orang.</p>
<p>KEDUA:</p>
<p>Kesibukan sebagian orang yang menisbatkan dirinya kepada salafiyyah di dalam mengkritik firqah-firqah dan menukil berita-berita serta cerita-cerita, tanpa bertujuan untuk menuntut ilmu. Maka ini adalah ketergelinciran yang berbahaya dan selayaknya setiap muslim untuk waspada dari hal tersebut. Lebih-lebih seorang salafi, maka wajib baginya untuk sibuk dengan ilmu yang benar, beramal dengan ilmu tersebut dan berdakwah kepadanya disertai dengan memberikan peringatan dari bid&#8217;ah-bid&#8217;ah dan kesesatan-kesesatan firqah-firqah ini dengan tanpa melalaikan/apriori (ifrath) dan tidak pula berlebihan (tafrith).</p>
<p>SARAN DAN NASEHAT</p>
<p>* Ikutilah dalil dari Kitab dan Sunnah yang shahih serta pahamilah keduanya dengan pemahaman pendahulumu yang shalih, maka sesungguhnya hal itu akan memberikan kecukupan bagimu sebagaimana pula memberi kecukupan kepada mereka.</p>
<p>* Kalau di negeri yang engkau diami ada salafiyyun, maka pergilah engkau kepada mereka dan berdialoglah bersama mereka dengan tenang dan perlahan agar mereka menjelaskan manhaj-manhaj hizbmu berupa penyimpangan terhadap manhaj Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah.</p>
<p>* Tinggalkanlah hizb yang kamu bergabung di dalamnya. Dan carilah kumpulan pemuda dan tolong-menolonglah bersama mereka di atas kebenaran dan takwa berupa menuntut ilmu, beramal dengannya, berdakwah kepadanya dan yang semisalnya tanpa disertai rasa tahazzub (pengelompokkan) dan ta&#8217;ashshub (fanatik) yang tercela.</p>
<p>* Ketahuilah bahwa tujuanmu pada kehidupan ini adalah untuk beribadah kepada Allah saja berdasarkan ilmu, kemudian menyelamatkan orang lain, bukan sebaliknya.</p>
<p>* Ketahuilah bahwa hakikat dakwah kepada Allah adalah:</p>
<ul>
<li>Ilmu      yang benar, dan ini adalah dengan Kitab dan Sunnah yang shahih serta      dengan pemahaman as-salaf ash-shalih</li>
<li>Beramal      dengan ilmu tersebut tanpa adanya ifrath (melalaikan) dan tafrith      (berlebihan/ghuluw)</li>
<li>Berdakwah kepadanya, dan itu dengan cara hikmah dan nasehat yang baik dan mengingatkan orang yang menyelisihinya. Contoh: Engkau tahu bahwa tuma&#8217;ninah (tenang) adalah salah satu rukun  dari rukun-rukun shalat. Maka engkau mengamalkannya, kemudian mengajak orang lain kepadanya dengan cara yang baik dan memperingatkan dia jika menyelisihinya.</li>
</ul>
<p>* Ketahuilah bahwa Salafiyyah (Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah) adalah manhaj (metode), bukan orang/kepribadian. Dan bahwa cara menisbatkan diri kepadanya tidaklah dengan cara duduk di secara rahasia atau dengan pembagian kelompok peserta, tetapi dengan cara engkau mengambil manhaj yang lurus ini dan membelanya.</p>
<p>* Hati-hatilah untuk menyebarkan setiap apa yang engkau dengar dari berita-berita dan perkataan-perkataan tanpa meneliti dan tatsabbut (meratifikasikan berita tersebut), karena pendusta banyak di zaman ini.</p>
<p>* Selagi engkau membawa aqidah Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah, maka janganlah engkau membela kecuali aqidah tersebut dan orang yang membawanya.</p>
<p>Artikel ini disadur dari milist Assunnah web site:</p>
<p><a href="http://groups.yahoo.com/group/assunnah/messages/">http://groups.yahoo.com/group/assunnah/messages/</a></p>
<p>mailto : <a href="mailto:assunnah@yahoogroups.com">assunnah@yahoogroups.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ikhwanmuwahid.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ikhwanmuwahid.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ikhwanmuwahid.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ikhwanmuwahid.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ikhwanmuwahid.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ikhwanmuwahid.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ikhwanmuwahid.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ikhwanmuwahid.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ikhwanmuwahid.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ikhwanmuwahid.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ikhwanmuwahid.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ikhwanmuwahid.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ikhwanmuwahid.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ikhwanmuwahid.wordpress.com/184/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikhwanmuwahid.wordpress.com&amp;blog=7017694&amp;post=184&amp;subd=ikhwanmuwahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/2010/02/01/tahukah-antum-tokoh-im-mendatangkan-sejumlah-penari-penari-perempuan-perancis-dan-ikut-menari-dan-berdansa-dengan-mereka-di-salah-satu-bar-belajar-dansa-ala-perancis-belajar-tarian-membayar-3-j/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0b62982a37de1e8daca30551caffcd2f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ikhwanbiasa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengenal sayid qutub</title>
		<link>http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/2010/02/01/mengenal-sayid-qutub/</link>
		<comments>http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/2010/02/01/mengenal-sayid-qutub/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 16:41:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ikhwanbiasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/?p=181</guid>
		<description><![CDATA[HAKEKAT YANG TERSEMBUNYI [1] Oleh Pustaka Al-Furqon Emirat Bagian Kedua dari Tiga Tulisan 2/3 SAYYID QUTHUB BERPANDANGAN WIHDATUL WUJUD Ketika menafsirkan surat Al-Ikhlas, Sayyid Quthub menyatakan :” Sesungguhnya Allah adalah satu-satunya yang ada, tidak ada hakekat kecuali hekekatNya, tidak ada yang wujud secara hakiki kecuali wujudNya, setiap wujud yang ada pasti bersumber dari wujud yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikhwanmuwahid.wordpress.com&amp;blog=7017694&amp;post=181&amp;subd=ikhwanmuwahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0" cellspacing="0" width="100%">
<tbody>
<tr>HAKEKAT YANG TERSEMBUNYI [1]</p>
<p>Oleh<br />
Pustaka Al-Furqon Emirat<br />
Bagian Kedua dari Tiga Tulisan 2/3</p>
<p>SAYYID QUTHUB BERPANDANGAN WIHDATUL WUJUD<br />
Ketika menafsirkan surat Al-Ikhlas, Sayyid Quthub menyatakan :” Sesungguhnya Allah adalah satu-satunya yang ada, tidak ada hakekat kecuali hekekatNya, tidak ada yang wujud secara hakiki kecuali wujudNya, setiap wujud yang ada pasti bersumber dari wujud yang hakiki tersebut, sedangkan hakekatnya bersandar pada zat hakiki tersebut. Maka dialah satu-satunya pelaku, secara asal selainNya tidak bisa melakukan sesuatu atau melakukan kepada yang lain di dunia nyata ini. Inilah aqidah didalam hati dan juga tafsiran atas segala yang ada” [22]<span id="more-181"></span></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab pertanyaan tentang tafsir Fii Zhilalil Qur’an, diantara jawaban beliau : “Saya telah membaca penafsirannya terhadap suart Al-Ikhlas, dan sungguh dia (Sayyid Quthub) telah mengucapkan pendapat yang fatal, menyelisihi kesepakatan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, karena tafsirannya terhadap surat Al-Ikhlas merupakan wihdatul wujud, demikian juga ketika dia menafsirkan al-istiwa (bersemayam) dengan berkuasa” [23]</p>
<p>PENAFSIRAN SAYYID QUTHUB TERHADAP AL-ISTIWA (BERSEMAYAM) DENGAN BERKUASA<br />
Ketika penafsiran Sayyid Quthub sampai pada surat Thoha ayat 5.</p>
<p>“Ar-Rohman (Allah) bersemayam diatas Arsy”, dia menyatakan : “Dialah Al-Muhaimin (yang berkuasa) atas segenap alam, bersemayam diatas Arsy, adalah kiasan tentang puncak pengaruh dan kekuasaanNya” [24]</p>
<p>Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah mengomentari perkataan ini, seraya mengatakan : “Maknanya adalah pengingkaran kata bersemayam yang sudah dikenal, yaitu : tinggi diatas Arsy, dan ini adalah suatu kebatilan, yang menunjukkan bahwa Sayyid Quthub adalah seorang yang buruk lagi keliru dalam hal tafsir” [25]</p>
<p>MENSIFATI ALLAH SUBHANAHU WA TA&#8217;ALA DENGAN SIFAT MENOLEH[26]<br />
Sayyid Quthub mengatakan :”Sesungguhnya Allah Yang Besar KemulianNya, Al-Aadhim, Al-Jabbar, Al-Qohhar, Al-Mutakkabir, Raja diraja atas segala sesuatu, sungguh bermurah hati dalam ketinggianNya, dan Dia menoleh kepada makhluk-makhluk, yang disebut insan (manusia) ini” [27]</p>
<p>SAYYID QUTHUB MENOLAK HADITS AHAD DALAM URUSAN AQIDAH<br />
Sayyid Quthub berkata : “Dan hadits-hadits Ahad tidak bisa dipegangi dalam urusan aqidah, yang menjadi rujukan adalah Al-Qur’an” [28]</p>
<p>SAYYID QUTHUB MENGKAFIRKAN SEMUA MASYARAKAT ISLAM<br />
[1]. Sayyid Quthub berkata : “Sesungguhnya, sekarang ini tidak ada satu negara atau masyarakat muslim pun dimuka bumi, kaidah berinteraksi dengan mereka adalah dengan syari’at Allah dan fiqih Islam” [29]</p>
<p>Makna perkataannya, bahwa negeriAl-Haramaian (Saudi Arabia) yang telah menerapkan syari’at Allah, bukan Negara Islam !!</p>
<p>[2]. Sayyid Quthub berkata : “Sesungguhnya kaum muslimin sekarang ini tidak berjihad ! hal itu dikarenakan kaum muslimin sekarang ini tidak ada …! Sesungguhnya permasalahan adanya Islam dan kaum muslimin adalah permasalahan yang perlu diobati sekarang ini” [30]</p>
<p>[3]. Sayyid Quthub berkata : “Sungguh, waktu terus berputar seperti ketika agama ini datang membawa kalimat Laa Ilaaha Illallah kepada manusia. Sungguh manusia telah murtad, beralih kepada peribadatan kepada para hamba dan kepada kedholiman berbagai agama, berpaling dari Laa Ilaaha Illallah, meskipun masih ada sekelompok orang yang memperdengarkan Laa Ilaaha Illallah dikala adzan …” [31]</p>
<p>[4]. Sayyid Quthub berkata : “Sesungguhnya masyarakat jahiliyah yang kita hidup di dalamnya sekarang ini bukanlah masyarakat muslim” [32]</p>
<p>SAYYID QUTHUB MENYELISIHI PARA ULAMA DALAM MENAFSIRKAN MAKNA LAA ILAAHA ILLALLAH<br />
[1]. Sayyid Quthub berkomentar tentang surat Al-Qashash pada firman Allah :</p>
<p>“Artinya : Dan dialah Allah, tiada sesembahan selain Dia” [Al-Qashash : 70]</p>
<p>Sayyid Quthub menyatakan : “Maka tidak ada sekutu bagiNya, dalam hal penciptaan dan memilih” [33]</p>
<p>Disini Sayyid Quthub menafsirkan kalimat tauhid dengan tauhid rububiyah (ketuhanan), dan dia meninggalkan maknanya yang utama yaitu tauhid uluhiyah (peribadatan).</p>
<p>[2]. Sayyidh Quthub berkata : “Sesungguhnya termasuk perkara yang pasti dalam agama, bahwa tidak mungkin tegak aqidah seseorang didalam hatinya, dan dalam kenyataan sebagai agama, kecuali menusia bersaksi Laa ilaaha illallah, yaitu tiada hakim kecuali Allah, kehakiman yang terwujud dalam bentuk syari’at dan perintahNya” [34]</p>
<p>Sayyidh Quthub menafsirkan kalimat tauhid dengan tauhid hakimiyah saja.</p>
<p>SAYYID QUTHUB MENJADIKAN INTI PERSELISIHAN PADA PERMASALAHAN RUBUBIYYAH[35]<br />
Sayyid Quthub menyatakan tentang tafsir surat Huud :”Permasalahan uluhiyah (ibadah) bukanlah ini perselisihan (kita dengan kaum musyrikin) (!!!), sesungguhnya permasalahan rububiyah (ketuhanan)-lah yang dihadapi oleh para Rosul terdahulu (!!!) dan itu pula yang dihadapi oleh Rosul terakhir” [36]</p>
<p>ISLAM MENURUT SAYYID QUTHUB ADALAH PENCAMPURAN ANTARA NASHRANI DAN KOMUNIS<br />
Sayyid Quthub menyatakan : “Haruslah Islam itu menjadi hakim, karena Islam merupakan satu-satunya aqidah yang positif dan tumbuh, yang dibentuk dari agama Nashrani dan Komunis hingga menjadi suatu campuran yang sempurna, mengandung semua tujuan kedua aliran tadi, serta memberikan tambahan atas keduanya, sehingga menjadi seimbang, cocok dan adil” [37]</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah mengomentari perkataan ini dengan ucapan beliau : “Kita katakan kepadanya : Sesungguhnya agama Nashrani merupakan agama yang telah diganti-ganti dan dirubah-rubah oleh para ulama dan pendeta mereka, sedangkan Komunis adalah agama yang bathil (salah), tidak ada sumbernya dari agama-agamalangit. Adapun agama Islam,merupakan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala diturunkan dariNya dan alhamdulillah tidak pernah diganti-ganti. Allah berfirman.</p>
<p>“Artinya : Sesungguhnya Kami-lah yang telah menurunkan Al-Qur’an,dan Kami-lah yang akan menjaganya” [Al-Hijr : 9]</p>
<p>Siapa saja yang mengatakan bahwa Islam merupakan pencampuran dari agama ini dan itu, maka mungkin saja dia bodoh tentang Islam, atau dia terpukau dengan kehebatan orang-orang kafir dari kalangan Nashrani dan Komunis” [38]</p>
<p>[Disalin dari Shuwar Minal Ghozwil Fikri, Inhirofaat Sayyid Quthub Al-Aqodiyah, diterjemahkan oleh Abu Zahroh Imam Wahyudi Lc, Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 24 Th.V Dzulqo’dah 1427H, Penerbit Ma’had Ali Al-Irsyad As-Salafy Surabaya]<br />
_________<br />
Foote Note<br />
[1]. Dialihbashakan oleh Abu Zahroh Imam Wahyudi Lc dari bulletin terbitan Pustaka Al-Furqon Emirat, berjudul Shuwar Minal Ghozwil Fikri, Inhirofaat Sayyid Quthub Al-Aqodiyah<br />
[22]. Fii Zhilalil Al-Qur’an (6/4002)<br />
[23] Majalah Ad-Dakwah edisi 1591 pada 9/1/1418H<br />
[24]. Fii Zhilalil Qur’an (4/2328)<br />
[25]. Silahkan merujuk kepada kaset “Aqwalul Ulama Fi Muallafaat Sayyid Quthub” (komentar para ulama terhadap karangan-karangan Sayyid Quthub), terbitan tasjilat “Minhajus Sunnah” Swedi – Riyadh<br />
[26].Sifat-sifat Allah harus berdasarkan atas Al-Qur’an dan Al-Hadits, tidak boleh ditetapkan dengan akal, lihat pembahasannya di Al-Qowa’id Al-Mutsla karya Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah.<br />
[27]. Fii Zhilail Qur’an (6/3936)<br />
[28]. Fii Zhilalil Qur’an (6/4008)<br />
[29]. Idem (4/2122)<br />
[30]. Idem (3/1634)<br />
[31]. Idem (2/1057)<br />
[32]. Idem (4/2009)<br />
[33]. Idem (5/2707)<br />
[34] Al-Adaalal Al-Ijtima’iyyah hal. 182<br />
[35]. Padahal Allah berfirman : “Dan sesungguhnya kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thaghut itu” [An-Nahl : 36] (-pent)<br />
[36]. Fii Zhilalil Qur’an (4/1846)<br />
[37]. Al-Ma’rokah hal. 61<br />
[38]. Al-Awashim oleh Syaikh Dr Robi bin Hadi Al-Madkholy hafidhahullah hal.22</p>
<td bgcolor="#ffffff"></td>
</tr>
<tr>
<td bgcolor="#ffffff">Kamis, 1 Februari 2007 02:43:56 WIB<br />
Kategori : Aktual<br />
Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&amp;article_id=2040</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ikhwanmuwahid.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ikhwanmuwahid.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ikhwanmuwahid.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ikhwanmuwahid.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ikhwanmuwahid.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ikhwanmuwahid.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ikhwanmuwahid.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ikhwanmuwahid.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ikhwanmuwahid.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ikhwanmuwahid.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ikhwanmuwahid.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ikhwanmuwahid.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ikhwanmuwahid.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ikhwanmuwahid.wordpress.com/181/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikhwanmuwahid.wordpress.com&amp;blog=7017694&amp;post=181&amp;subd=ikhwanmuwahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/2010/02/01/mengenal-sayid-qutub/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0b62982a37de1e8daca30551caffcd2f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ikhwanbiasa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENGENAL IKHWANUL MUSLIMIN</title>
		<link>http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/2010/02/01/mengenal-ikhwanul-muslimin/</link>
		<comments>http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/2010/02/01/mengenal-ikhwanul-muslimin/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 16:39:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ikhwanbiasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/?p=178</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Abu Ihsan Al Atsary Ikhwanul Muslimin adalah pergerakan Islam – yang didirikan oleh Hasan Al-Banna (1906-1949 M) di Mesir pada tahun 1941 M. Diantara tokoh-tokoh pergerakan itu ialah : Said Hawwa, Sayyid Quthub, Muhammad Al-Ghazali, Umar Tilimsani, Musthafa As-Siba’i, dan lain sebagainya. Sejak awal mula didirikan pergerakan ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran Jamaludin Al-Afghani, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikhwanmuwahid.wordpress.com&amp;blog=7017694&amp;post=178&amp;subd=ikhwanmuwahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Abu Ihsan Al Atsary</p>
<p>Ikhwanul Muslimin adalah pergerakan Islam – yang didirikan oleh Hasan Al-Banna (1906-1949 M) di Mesir pada tahun 1941 M. Diantara tokoh-tokoh pergerakan itu ialah : Said Hawwa, Sayyid Quthub, Muhammad Al-Ghazali, Umar Tilimsani, Musthafa As-Siba’i, dan lain sebagainya.</p>
<p>Sejak awal mula didirikan pergerakan ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran Jamaludin Al-Afghani, seorang penganut Syi’ah Babiyah, yang berkeyakinan wihdatul wujud, bahwa kenabian dan kerasulan diperoleh lewat usaha, sebagaimana halnya menulis da mengarang. Dia – Jamaludin Al-Afghani- kerap mengajak kepada pendekatan Sunni-Syiah, bahkan juga mengajak kepada persatuan antar agama (lihat dakwah Ikhwanul Muslimin fi Mizanil Islam. Oleh Farid bin Ahmad bin Manshur hal. 36).<span id="more-178"></span></p>
<p>Gerakan itu lalu bergabung ke banyak negara seperti: Syiria, Yordania, Iraq, Libanon, Yaman, Sudan dan lain sebagainya. (lihat Al-Mausu’ah Al-Muyassarah hal. 19-25). Ia (Jamaludin Al-Afghani) telah dihukumi/dinyatakan oleh para ulama negeri Turki, dan sebagian masyayikh Mesir sebagai orang Mulhid, kafir, zindiq, dan keluar dari Islam.</p>
<p>Farid bin Ahmad bin Manshur menyatakan bahwa Ikhwanul Muslimin banyak dipengaruhi oleh pemikiran Jamaludin Al-Afghani pada beberapa hal, diantaranya:</p>
<p>1. Menempatkan politik sebagai prioritas utama</p>
<p>2. Mengorganisasikan secara rahasia</p>
<p>3. Menyerukan peraturan hukum demokrasi</p>
<p>4. Menghidupkan dan menyebarkan seruan nasionalisme</p>
<p>5. Mengadakan peleburan dan pendekatan dengan Syiah Rafidhah, berbagai kelompok sesat, bahkan kaum Yahudi dan Nasharani. (lihat Ad-Dakwah hal 47)</p>
<p>Oleh sebab itu, jamaah Ikhwanul Muslimin banyak memiliki penyimpangan dari kaidah-kaidah Islam yang dipahami As-Salaf As-Shalih. Di antara penyimpangan tersebut misalnya:</p>
<p><strong>Tidak memperhatikan masalah aqidah dengan benar </strong></p>
<p>Bukti nyata bahwa jama’ah Ikhwanul Muslimin tidak memeperhatikan perkara aqidah dengan benar, adalah banyaknya anggota-anggota yang jatuh dalam kesyirikan dan kesesatan, serta tidak memiliki konsep aqidah yang jelas. Hal itu juga bahkan terjadi pada para pemimpin dan tokoh-tokohnya, yang menjadi ikutan bagi anggota-anggotanya seperti: Hasan Al-Banna, Said Hawwa, Sayyid Quthub, Muhammad Al-Ghazali, Umar Tilimsani, Musthafa As-Siba’i dan lain sebagainya.</p>
<p>Seorang tokoh Islam Muhammad bin Saif Al-A’jami menceritakan bahwa Umar Tilimsani yang menjabat Al-Mursyidu Al-’Am dalam organisasi Ikhwanul Muslimin dalam jangka waktu yang lama, pernah menulis buku yang berjudul Syahidu Al-Mihrab Umar bin Al-Khattab (Umar bin Al-Khattab yang wafat syahid dalam mihrab) yang penuh dengan ajakan kepada syirik, menyembah kuburan, membolehkan beristighatsah kepada kuburan dan berdoa kepada Allah I disamping kubur. Tilimsani juga menyatakan bahwa kita tidak boleh melarang dengan keras penziarah kubur yang melakukan amalan seperti itu. Coba simak teks perkataannya pada hal 225-226: Sebagian orang menyatakan bahwa Rasulullah memohonkan ampun untuk mereka (penziarah kubur) tatkala beliau masih hidup saja. Tetapi saya tidak mendapatkan alasan pembatasan itu pada masa hidup beliau saja. Dan di dalam Al-Quran, tidak ada yang menunjukkan adanya pembatasan tersebut.</p>
<p>Di sini, dia menganggap bahwa memohon kepada Rasulullah sesudah kematian beliau, beristighatsah dan beristghfar dengan perantaraannya, hukumnya boleh-boleh saja. Pada hal 226 dia juga menyatakan: Oleh karena itu saya cenderung kepada pendapat yang menyatakan bahwa beliau telah memohonkan ampunan dikala beliau masih hidup, maupun sesudah matinya – bagi siapa yang mendatangi kuburan yang mulia.</p>
<p>Pada halaman yang sama dia juga menyebutkan :Oleh karena itu, kita tidak perlu berlaku keras dalam mengingkari orang yang meyakini karamah para wali, sambil berlindung kepada mereka di kuburan-kuburan mereka yang disucikan, berdoa kepada mereka tatkala tertimpa kesusahan. Yang juga mereka yakini bahwa karamah para wali tersebut termasuk kemu’jizatan para nabi.</p>
<p>Kemudian pada halaman 231 ia menyatakan: Maka kita tidak perlu memerangi wali-wali Allah dan orang-orang yang menziarahi serta berdoa disamping kuburan-kuburan mereka.. Demikianlah, tidak ada satupun bentuk syirik terhadap kuburan yang tidak dibolehkan sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Mursyidu Al-’Am dari Ikhwanul Muslimin itu. Karena kegandrungannya dan kecintaannya yang mendalam terhadap bentuk-bentuk perbuatan syirik dan kufur semacam inilah, sehingga Tilimsani menyatakan: Maka kita tidak perlu memerangi (orang yang mereka anggap) wali-wali Allah dan orang-orang yang menziarahi serta berdoa disamping kuburan-kuburan mereka. Tilimsani sendiri juga hidup di Mesir yang terdapat banyak kuburan-kuburan dimana dilakukakan syirik terbesar, bahkan lebih besar dari syirik ummat jahiliyah pertama. Kuburan-kuburan dijadikan tempat berthawaf dan tempat memohon segala sesuatu yang seharausnya hanya ditujukan kepada Allah I. Di antara yang mereka anggap wali, kebanyakannya adalah kumpulan orang-orang zindiq dan mulhid, seperti: Sayyid Da’iyyah fathimi yang tak pernah melakukan shalat.</p>
<p>Diantaranya juga ada kaum sufi yang keblinger, seperti: Syadzili, Dasuki, Qonawi dan lain sebagainya, yang ada disetiap kota dan pedesaan. Orang-orang itulah yang jadi wali-wali mereka. dan kuburan-kuburan mereka itulah yang dipublikasikan oleh Al-Mursyidu Al-’Am/pemimpin umum dari Ikhwanul Muslimin itu. Dia kembali menyatakan pada halaman 231 sebagai berikut: Meskipun hati saya sudah demikian cinta, suka dan bergantung kepada wali-wali Allah itu, meskipun saya amat gembira dan senang menziarahi mereka di tempat-tempat kediaman abadi mereka dengan melakukan hal-hal merusak aqidah tauhid – menurut anggapannya – akan tetapi saya tidak berorientasi penuh untuk mempropagandakannya. Hal itu hanya sebatas soal intuisi/perasaan. Dan saya katakan kepada mereka yang bersikap ekstrim dalam mengingkarinya: Tenanglah, di dalam masalah ini tidak ada perbuatan syirik, penyembahan berhala, maupun ilhad/kekufuuran.</p>
<p>Maka apalagi yang bisa diharapkan dari keyakinan yang merancukan aqidah dan tauhid, sehingga berdoa kepada orang yang sudah mati disamping kuburan-kuburan mereka kala ditimpa kesusahan dianggap hanya soal perasaan yang tidak mengandung syirik dan penyembahan berhala, seperti yang diungkapkan Al-Mursyidu Al-’Am dari Ikhwanul Muslimun tersebut ?</p>
<p>Mushthafa As-Siba’i, Al-Mursyidu Al-’Am dari Ikhwanul Muslimin dari Syiria pernah menggubah qashidah yang dibacakannya di kuburan Nabi. Yang di antara bait-baitnya adalah: Wahai tuanku, wahai kekasih Allah. Aku datang diambang pintu kediamanmu mengadukan kesusahanku karena sakit. Wahai tuanku, telah berlarut rasa sakit dibadanku. Karena sangat sakitnya, akupun tak dapat mengantuk maupun tidur….. (lihat Al-Waqafat hal. 21-22).</p>
<p>Dari kedua bait diatas, kita dapat memahami bahwa dia telah melakukuan istighatsah kepada Rasulullah yang jelas merupakan perbuatan syirik yang dilarang oleh Allah dan Rasulullah-Nya.</p>
<p>Hasan Al-Banna juga mengambil aqidah dari thariqot sufiah quburiah yang bernama Al-Hashofiah. Dia berkata dalam kitabnya Mudzakkirot Ad-Dakwah Ad-Adalah’iah hal-27 :Aku bersahabat dengan para anggota kelompok hasafiah di Damanhur. Dan aku selalu hadir setiap malam (bersama mereka) di mesjid At-Taubah.</p>
<p>Berkata Jabir Rozaq dalam kitabnya Hasan Al-Banna bi Aqlami talamidzatihi wa ma’asirihi hal-8 an di Damanhur mejadi kokohlah hubungan Hasan Al-bana dengan anggota-anggota al-Hashofiah,dan beliau selalu hadir setiap malam bersama mereka d masjid at-Taubah. Dia ingin <em>mengambil (pelajaran) thariqot mereka sehingga berpindah darii tingkatan mahabbah ke tingkatan at-taabi’ al-mubaaya</em>(lihat Da’wah al-Ikhwan al-Muslimin hal-63)</p>
<p>Bahkan Hasan Al-Banna sendiripun sebagai pendiri jamaah Ikhwanul Muslimin, nampak sebagai orang yang awam dalam perkara aqidah tauhid. Disebutkan dalam buku Al-Waqafat hal. 21-22, bahkan dia pernah berkata:Dan doa kepada Allah ababila disertai tawassul/mengambil perantaraan salah satu makhluknya adalah perselisihan furu’ dalam cara berdoa, dan bukan termasuuk perkara aqidah. Dalam masalah asma’ dan sifat Allah, dia termasuk pengikut madzhab <em>Tafwidh</em>, yaitu madzhab yang tidak mau tahu dan meyerahkan begitu saja perkara asma’ dan sifat Allah kepada-Nya, tanpa meyakini apa-apa. Itu adalah madzhab sesat, bukan sebagaimana madzhab As-Salaf As-Shalih yang meyakini makna-makna asma’ dan sifat Allah, namun menyerahkan hakikat/bagaimana asma’ dan sifat tersebut kepada-Nya.</p>
<p>Hasan Al-Banna menyatakan dalam buku Al-Aqaid hal. 74: Sesungguhnya pembahasan dalam masalah ini (asma’ dan sifat), meski dikaji secara panjang lebar, akhirnya akan menghasilkan kesimpulan yang sama, yaitu tafwidh (tersebut di atas).</p>
<p>Tokoh besar mereka yang lain yang serupa keadaannya adalah Sa’id Hawwa. Dia beranggapan bahwa umat Islam pada setiap masanya, (lebih banyak -red) yang beraqidah Asy-’Ariyyah-Maturidiyyah (termasuk golongan pentakwil sifat). Sehingga dengan itu beliau berangapan bahwa itulah aqidah yang sah dalam Islam. (lihat jaulah fil fiqhain – Sa’id Hawwa).</p>
<p>Sayyid Quthub pun memiliki aqidah wihdatul wujud. Dia berkata dalam kitabnya Dzilalu Al-Qur’an jilid 6 hal-4002 :Hakekat yang ada adalah wujud yang satu. Maka di alam ini tidak ada yang hakekat kecuali hakekat Allah. Dan di sana tidak ada wujud yang hakiki kecuali wujud-Nya. Perwujudan selain Allah hanyalah sebagai perwujudan yang bersumber dari perwujudan yang hakiki itu.</p>
<p>Selain itu dia juga tidak bisa membedakan antara tauhid rububiah dan tauhi uluhiah. Dan dia menyangka bahwa yang menjadi perselisihan antara para Nabi dengan umat mereka adalah dalam masalah tauhid rububiah bukan uluhia. Dia berkata dalam Dziilalu Al-Qur’an 4/1847 : Bukanlah perselisihan seputar sejarah antara jahiliah dan Islam, dan bukan pula peperangan antara kebenaran dan thogut pada masalah uluhiah Allah ….dan juga perkataannya dalam hal-1852: Hanya saja perselisihan dan permusuhan adalah pada masalah siapakah Rob manusia yang menghukumi manusia dengan syari’at-Nya dan mengatur mereka dengan perintah-Nya dan memerintahkan mereka untuk beragama dan taat kepada-Nya (lihat Adwa’un islahiah karya Syaikh Robi’ pada hal-65).</p>
<p><strong>Menghidupkan bid’ah </strong></p>
<p>Jamaah Ikhwanul Muslimin juga banyak sekali menghidupkan bidah. Sa’id Hawwa menyatakan dalam bukunya At-Tarbiyyah Ar-Ruhiyyah (pembinaan mental): Ustadz Al-Banna beranggapan bahwa menghidupkan hari-hari besar Islam (selain dua hari ‘ied), adalah termasuk tugas harakah-harakah (gerakan) Islam. Beliau juga menganggap bahwa suatu hal yang aksiomatik alias pasti, kalau dikatakan bahwa pada zaman modern ini memperingati hari besar semacam maulid nabi dan yang sejenisnya, dapat diterima secara fiqih dan harus mendapat prioritas tersendiri.</p>
<p>Dikisahkan juga oleh Mahmud Abdul Halim dalam bukunya Ahdats Shana’atha At-Tarikh (1/109) bahwa ia sering bersama-sama Hasan Al-Banna menghadiri maulid nabi. Ia (Hasan AL-Banna) sendiri terkadang maju kepentas untuk menyanyikan nasyid (nyanyian) maulid nabi dengan suara keras dan nyaring.</p>
<p>Setelah menukil banyak kisah Al-Banna tersebut, Syaikh Farid berkomentar: semoga Allah memerangi pelaku-pelaku bidah. Alangkah bodohnya mereka, alangkah lemahnya akal mereka. Sesungguhnya mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak pantas dilakukan bahkan oleh anak kecil sekalipun.</p>
<p>Dalam lembaran-lembaran majalah Ad-Dakwah, yang dipimpin oleh Umar At-Tilimsani tatkala dia masih menjabat salah satu Mursyid partai Ikhwanul Muslimin (nomor 21 hal 16/Rabi’ul Awwal 1398 H), tercetus banyak ungakapan yang penuh dengan kebidahan dan ghuluw (pengkhutusan/berlebih-lebihan) terhadap Nabi. Di antaranya dalam makalah di bawah judul: fi dzikra maulidika ya dhiya’ Al-Alamin (dalam memperingati hari kelahiranmu, wahai sinar alam semesta)</p>
<p><strong>Ta’ashshub / fanatik terhadap pendapat alim ulamanya </strong></p>
<p>Syaikh Muqbil menyatakan dalam Al-makhraj minal fitan hal. 86:(banyak) dari kalangan pengikut Ikhwanul Muslimun yang mengetahui bahwa mereka bodoh dalam masalah dien. Apabila kita menyatakan kepadanya: ini halal, atau ini haram adalah sudah kita tegakkan dalil-dalilnya, ia akan mengelak sambil menjawab: Yusuf Qordhawi di dalam al-halal wal haram bilang begini, Sayyid Sabiq dalam fiqhus sunnah, atau Hasan Al-Banna di dalam Ar-Rasail atau Sayiid Quthub dalam tafsir fi dzi lalil Quran bilang begini! Bolehkah dalil-dalil yang jelas dipatahkan dengan ucapan-ucapan mereka?</p>
<p>Karena itulah banyak diantara mereka yang masih meremehkan hukum merokok misalnya, yang telah ditegaskan keharamannya oleh ulama ahlul hadits , lewat berbagai tinjauan, karena mengikuti fatwa syaikh mereka Yusuf Qordhawi yang tidak jelas dalam menerangkan hukumnya.</p>
<p><strong>Manhaj dakwah yang melenceng dari syari’ah </strong></p>
<p>Kerusakan manhaj dakwah mereka diawali oleh propaganda <em>Tauhidu As-Sufuf</em> (menyatukan barisan) kaum muslimin yang mereka dengung-dengungkan. Dimana propaganda itu berkonotasi mengabaikan adanya berbagai penyimpangan aqidah yang membaluti tubuh umat Islam Menurut mereka, cukup kita meneriakan : wa Islamah (wahai Islam), maka kita pun bersatu. Hasan Albana pernah berkata : Dakwah Ikhwanul Muslimin tidaklah ditujukan untuk melawan satu aqidah, agama, ataupun golongan, karena faktor pendorong perasaan jiwa para pengemban .dakwah jama’ah ini adalah berkeyakinan fundamental bahwa semua agama samawi berhadapan dengan musuh yang sama, yaitu atheisme (lihat qofilah Al-Ikhwan As-siisi 1/211).</p>
<p>Utsman Abdus Salam Nuh mengomentari ucapan itu dalam bukunya At-Thoriq ila Jama’ati Al-Umm halaman 173: Bagaimana bisa disebut dakwah Islamiah, kalau tidak sudi memerangi aqidah-aqidah yang menyimpang, sedangkan Islam sendiri diturunkan untuk memberantas berbagai penympangan keyakinan dan membersihkan hati manusia dari keyakinan-keyakinan itu.</p>
<p>Inti pemahaman inilah yang akhirnya melahirkan gerakan yang disebut pan Islamisme, yang menyatukan umat Islam dengan berbagai keyakinannya dibawah satu panji.</p>
<p>Ikhwanul Muslimin juga banyak mempergunakan berbagai sarana yang tidak sesuai dengan syari’at untuk mengembangkan dakwahnya. Diantaranya : Mengadakan pertunjukan sandiwara. Dalam hal ini, Syaikh Muqbil memberikan tanggapan :Sesungguhnya pertunjukan sandiwara itu, kalaupun tidak dikatakan dusta, amatlah dekat dengan kedustaan. Kita meyakini keharamannya, selain itu juga bukan merupakan sarana dakwah yang dipergunakan ulama kita terdahulu. Imam Ahmad meriwayatkan satu hadits dari Ibnu Mas’ud , bahwasanya Rosulullah bersabda :</p>
<p><em>Manusia yang paling keras disikda hari kiamat nanti ada tiga : Orang yang membunuh seorang nabi atau dibunuh olehnya, seorang pemimipin yang sesat dan menyesatkan, dan pemain lakon (mumatsil).</em></p>
<p>Beliau melanjutkan :Yang dimaksud <em>mumatsil</em> disitu adalah pelukis atau orang yang melakonkan perbuatannya di hadapan orang lain. Sebagaimana ditegaskan dalam kamus. (lihat Al-Makhroj ‎Minal Fitan halaman 90).</p>
<p>Para ulama juga lebih mengharamkan (saandiwara) lagi, tatkala sering terjadi dalam sandiwara seseorang harus memerankan diri sebagai orang kafir, bahkan penyembah berhala yang mempraktekkan ibadahnya di hadapan patung. Dan banyak lagi yang lainnya.</p>
<p><strong>Mendahulukan urusan politik daripada syari’at </strong></p>
<p>Meski secara lahir, jama’ah Ikhwanul Muslimin selalu menggembar-gemborkan harus tegaknya kekuasaan Islam, namun secara mengenaskan mereka hanya menjadikan itu sebagai selogan umum yang aplikasinya meninggalkan dakwah tauhid dan menjejali orang awam hanya dengan propaganda politik mereka. Contohnya, ketika mereka mengakui bahwa syarat pemmpin Islam yang ideal adalah ilmu dan taqwa, mereka justru mengangkat Mujadidi sebagai pemimpin Afghanistan, hanya demi menyenangkan banyak pihak termasuk dunia barat. Hal itu diungkapkan oleh Abdullah Al-Azhom dalam majalah Al-Jihad nomor 52 maret 1989 :Mujadidi adalah profil pemimpin ideal menurut dunia Internasional khususnya barat. Hal itu akan memuluskan jalan Afghanistan untuk menjadi negara yang diakui di dunia secara formal….. (At-Thoriq 214) juga akan kita dapati, bahwa para pengikut gerakan Ikhwanul Muslimin lebih banyak berbicara dan mengulas tentang politik daripada aqidah, dalam majalah, buku-buku bahkan di podim-podium, sampai-sampai dikala menyampaikan khotbah jum’at.</p>
<p>Masih banyak lagi penyimpangan dakwah Ikhwanul Muslimin yang tak mungkin dirinci disini satu persatu. Semuanya sudah banyak diulas ulang oleh para ulama ahlul Hadits. Yang jelas, gerakan ini turut membidani kelahiran berbagai gerakan sejenis di berbagai negara. Di Libanon sperti At-Tauhid, di Palestina Hammas, di Mesir Jama’ah Islamiah, di Aljazair FIS, di Malaisyia Darul Arqom, di Indonesia seperti NII (Negara Islam Indonesia) yang sebelumnya dikenal dengan Darul Islam atau DI TII, Al-Usroh, Komando Jihad, JAMUS (Jama’ah Muslimin), dan lain-lain.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ikhwanmuwahid.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ikhwanmuwahid.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ikhwanmuwahid.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ikhwanmuwahid.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ikhwanmuwahid.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ikhwanmuwahid.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ikhwanmuwahid.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ikhwanmuwahid.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ikhwanmuwahid.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ikhwanmuwahid.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ikhwanmuwahid.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ikhwanmuwahid.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ikhwanmuwahid.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ikhwanmuwahid.wordpress.com/178/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikhwanmuwahid.wordpress.com&amp;blog=7017694&amp;post=178&amp;subd=ikhwanmuwahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/2010/02/01/mengenal-ikhwanul-muslimin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0b62982a37de1e8daca30551caffcd2f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ikhwanbiasa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENGENAL HASAN ALBANA (PERSATUAN GADO-GADO)</title>
		<link>http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/2010/02/01/mengenal-hasan-albana-persatuan-gado-gado/</link>
		<comments>http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/2010/02/01/mengenal-hasan-albana-persatuan-gado-gado/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 16:36:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ikhwanbiasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/?p=174</guid>
		<description><![CDATA[Hasan Al-Banna adalah seorang yang berakidah asy’ari yang sesat dan juga seorang sufi sebagimana dia akui sendiri dalam kitabnya “Mudzakirat Dai’yah”. Dia menghadiri wirid-wirid dan dzikir-dzikir shufiyah, membai’at tarekat Al-Hashafiyah Asy-Syadziliyah. Ia kagum pada kitab-kitab sufi dan ia sebutkan dalam bukunya beberapa judul kitab-kitab sufi tersebut, antara lain “Al-Mawahib Al-Laduniyah” (Pemberian-Pemberian Langsung dari Allah) karya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikhwanmuwahid.wordpress.com&amp;blog=7017694&amp;post=174&amp;subd=ikhwanmuwahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p>Hasan Al-Banna adalah seorang yang berakidah asy’ari yang sesat dan juga seorang sufi sebagimana dia akui sendiri dalam kitabnya “Mudzakirat Dai’yah”. Dia menghadiri wirid-wirid dan dzikir-dzikir shufiyah, membai’at tarekat Al-Hashafiyah Asy-Syadziliyah. Ia kagum pada kitab-kitab sufi dan ia sebutkan dalam bukunya beberapa judul kitab-kitab sufi tersebut, antara lain “Al-Mawahib Al-Laduniyah” (Pemberian-Pemberian Langsung dari Allah) karya Al-Qisthilani. Orang-orang yang bergabung bersamanya mengikuti prinsipnya. Ia membentuk Yayasan Al-Hashafiyah yang kemudian diketuai oleh Ahmad Askari atau As-Sukri. Di dalam buku “Mudzakirat” di atas, Hasan Al-Banna menyebutkan bahwa Yayasan Al-Hashafiyah yang dibentuknya berubah bentuk yang baru yaitu menjadi Ikhwanul Muslimin.</p>
<p>Prinsip Pertama : Persatuan Batil<span id="more-174"></span></p>
<div>Hasan Al-Banna menyatukan semua orang yang mengaku Islam apakah mereka berakidah sufi, wihdatul wujud, syi’ah dan rafidhah. Kalau kita melihat hizb yang dia bentuk, tampak seolah penggagasnya hendak membuat sebuah daulah negara.Dan kita ketahui negara demokrasi di masa kini memberi kebebasan kepada warganya ntuk menganut akidah mana saja. Siapa pun akan tetap diakui sebagai warga negara selama ia patuh terhadap UU negara.Hasan Al-Banna telah membuat aturan-aturan, organisasi, anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, kewajiban-kewajiban, bai’at dan larangan-larangan bagi jama’ah Ikhwanul Msulimin yang harus dipegang oleh setiap orang yang bergabung di dalamnya.</p>
<p>Adapun akidah yang dia inginkan adalah akidah Shufiyah, Asy’ariyah, atau akidah Ta’thil (meniadakan sifat Allah), atau akidah Syi’ah. Dia mengharuskan pengikutnya berbai’at dan itu termasuk bagian dari sepuluh rukun (ushul ‘isyrin) yang dia sebutkan dalam risalah-risalahnya. Seolah-olah ia hendak mendirikan negara. Bahkan kita pernah menjumpai sebagian anggota Ikhwanul Muslimin tidak melaksanakan shalat seperti yang telah disebutkan oleh Abbas As-Sisi. Konon ia pernah mendatangi sekelompok anggota Ikhwanul Muslimin dalam satu pertempuran, ia berkata, “Kami hendak shalat Ashar akan tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang mengerjakan shalat.”</p>
<p>Adalah Shalah Syadi sedang berpergian dan banyak orang membuat kerusuhan dengan bom dan mereka melakukannya di atas kapal, ia berkata, “Salah seorang di antara mereka tidak shalat.”</p>
<p>Dalam bukunya “Dzikriyat la Muzdakarat” At-Tilmisani berkata, “Seorang saudagar kaya yang masih minum arak minta bai’at kepada Hasan Al-Banna dan ia dibai’at serta dimasukkan ke dalam keanggotaan Ikhwanul Muslimin.”</p>
<p>Mencukur jenggot, menjulurkan pakaian di bawah mata kaki dan mendengarkan musik adalah tidak apa-apa menurut Ikhwanul Muslimin. Bahkan boleh saja hal itu dilakukan terang-terangan. Mereka mempunyai persediaan dana yang banyak untuk membeli alat musik yang baru sebagaimana disebutkan dalam kitab “Dzikriyat la Muzdakarat”. Jadi para pengikutnya boleh melakukan apa saja, asal tetap patuh pada perintah jama’ah.</p>
<p>Jama’ah ini mirip negara, mereka tidak menyerukan Islam, mereka menyeru untuk membentuk negara. Orang-orang yang menyerukan Islam haruslah menyeru kepada satu akidah yang benar, kepada satu peribadatan, dan kepada satu muamalah yang sesuai dengan dalil. Adapun mereka tidak demikian.</p>
<p>Tata cara shalat Ikhwanul Muslimin berbeda-beda. Ada yang mencukur jenggot, ada yang tidak. Ada shalat berjamaah dan ada yang tidak. Ada yang berakidah Asy’ari, ada Syi’ah dan lainnya, semuanya masuk ke dalam Ikhwanul Muslimin, persis seperti negara demokrasi.</p>
<p>Urusan yang paling penting adalah bai’at kepada Hasan Al-Banna, patuh loyal kepada bendera Ikhwanul Muslimin, taat, melaksanakan tugas yang dirancang oleh jama’ah dan imam. Dengan demikian tujuan yang paling besar adalah agar setiap orang menjadi Ikhwanul Muslimin.</p>
</div>
<div>(Ditulis oleh Syaikh Ayyid asy Syamari, pengajar di Makkah al Mukaramah, dalam rangka menjawab pertanyaan sebagian jama’ah Ahlusunnah wal Jama’ah asal Belanda tentang perbedaan Ikhwanul Muslimin, Quthbiyyah, Sururiyah dan Yayasan Ihya ut Turats. Penerbit Maktabah As-Sahab 2003. Judul asli Turkah Hasan Al Banna wa Ahammul Waritsin. Penerjemah Ustadz Ahmad Hamdani Ibnul Muslim.)</div>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ikhwanmuwahid.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ikhwanmuwahid.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ikhwanmuwahid.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ikhwanmuwahid.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ikhwanmuwahid.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ikhwanmuwahid.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ikhwanmuwahid.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ikhwanmuwahid.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ikhwanmuwahid.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ikhwanmuwahid.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ikhwanmuwahid.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ikhwanmuwahid.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ikhwanmuwahid.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ikhwanmuwahid.wordpress.com/174/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikhwanmuwahid.wordpress.com&amp;blog=7017694&amp;post=174&amp;subd=ikhwanmuwahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/2010/02/01/mengenal-hasan-albana-persatuan-gado-gado/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0b62982a37de1e8daca30551caffcd2f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ikhwanbiasa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menafsirkan Al-Qur&#8217;an Dengan Musik, Irama Dan Nyanyian Nasyid, Celaan Terhadap Nabi Musa Dan Sahabat</title>
		<link>http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/2010/02/01/menafsirkan-al-quran-dengan-musik-irama-dan-nyanyian-nasyid-celaan-terhadap-nabi-musa-dan-sahabat/</link>
		<comments>http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/2010/02/01/menafsirkan-al-quran-dengan-musik-irama-dan-nyanyian-nasyid-celaan-terhadap-nabi-musa-dan-sahabat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 16:36:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ikhwanbiasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/?p=171</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Pustaka Al-Furqon Emirat Bagian Pertama dari Tiga Tulisan 1/3 Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarga, dan pada sahabat, serta siapa saja yang mengikuti petunjuknya. Amma ba’du. Wahai saudaraku yang mengidamkan jalan sunnah, serta keselamatan dari bid’ah-bid’ah dan hizbiyah (fanatik golongan). Inilah sebagian perkataan, yang dikumpulkan untuk anda, agar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikhwanmuwahid.wordpress.com&amp;blog=7017694&amp;post=171&amp;subd=ikhwanmuwahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh<br />
Pustaka Al-Furqon Emirat<br />
Bagian Pertama dari Tiga Tulisan 1/3</p>
<p>Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarga, dan pada sahabat, serta siapa saja yang mengikuti petunjuknya. Amma ba’du.</p>
<p>Wahai saudaraku yang mengidamkan jalan sunnah, serta keselamatan dari bid’ah-bid’ah dan hizbiyah (fanatik golongan). Inilah sebagian perkataan, yang dikumpulkan untuk anda, agar anda memiliki kejelasan sikap serta dasar ilmu dalam beragama, dan hendaklah anda berhati-hati agar tidak terjerumus dalam perang pemikiran yang penuh dengan dosa. Hal ini telah memenuhi buku-buku orang-orang yang dikenal sebagai para pemikir Islam, semisal Sayyid Quthub yang nisbatnya kepada kelompok Ikhwanul Muslimin.<span id="more-171"></span></p>
<p>Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz telah berfatwa 2 tahun sebelum beliau wafat, bahwa kelompok Ikhwanul Muslimin dan Jama’ah Tabligh termasuk 72 golongan yang binasa, [2] sebagaimana yang telah ada dalam hadits perpecahan umat [3].</p>
<p>Para ulama sunnah yang terkemuka, sekelas Syaikh Ibnu Baaz, Syaikh Ibnu Utsaimin dan Syaikh Shalih Al-Fauzan telah memperingatkan dengan keras atas penyimpangan Sayyid Quthub [4]</p>
<p>Berikut ini sebagian contoh kebid’ahan dan penyimpangan aqidah Sayyid Quthub, selamat mencermati:</p>
<p>MENAFSIRKAN KALAMULLAH (AL-QUR&#8217;AN) DENGAN MUSIK, IRAMA DAN NYANYIAN NASYID<br />
[1]. Ketika menafsirkan surat An-Najm, Sayyid Quthub mengatakan : “Surat ini secara umum seperti not-not irama musik yang tinggi dan teratur, kata-katanya berirama, begitu juga kalimatnya berirama dan bersajak [5]</p>
<p>[2]. Dia mengatakan tentang tafsir surat An-Naazi’aat : “Allah sampaikan firman-Nya dalam bentuk nada musik”, kemudian Sayyid Quthub mengatakan : “Kemudian tenanglah irama musiknya” [6]</p>
<p>[3]. Dia berkomentar tentang surat Al-Aadiyah : “Irama musik di dalamnya terasa kuat menderum dan berdengung” [7]</p>
<p>[4]. Dia berkata : “Sesungguhnya Daud adalah seorang raja dan nabi. Dia mengkhususkan sebagian waktunya untuk mengurusi kerajaan, menyelesaikan persengketaan antar manusia, serta mengkhususkan sebagian waktunya untuk menyendiri, beribadah, melantunkan nasyid-nasyid untuk mensucikan Allah di dalam mihrob” [8]</p>
<p>DIA MENGATAKAN AL-QUR&#8217;AN ADALAH MAKHLUK [9]<br />
[1]. Ketika Sayyid Quthub berbicara tentang Al-Qur’an, dia mengatakan : “Mukjizat Al-Qur’an, seperti perkara segenap makhluk Allah, dan ini seperti penciptaan Allah atas segala sesuatu, serta karya manusia” [10]</p>
<p>[2]. Setelah Sayyidh Quthub membicarakan huruf-huruf yang terputus didalam Al-Qur’an, dia berkomentar : “Akan tetapi, mereka tidak mampu mengarang kitab sebanding denganNya (Al-Qur’an), karena Al-Qur’an itu buatan Allah, bukan buatan manusia” [11]</p>
<p>[3]. Sayyid Quthub mengomentari surat “Shood” : “Huruf shood ini, Allah bersumpah denganNya, sebagaimana Allah bersumpah dengan Al-Qur’an yang banyak mengingatkan. Huruf ini adalah ciptaanNya, Dia-lah yang menjadikannya ada, dan menjadikannya berbentuk suara dalam tenggorokan” [12]</p>
<p>Syaikh Abdullah Ad-Duwaisy rahimahullah membantah perkataan diatas : “Perkataan Sayyid Quthub, bahwa huruf “shood” ini adalah ciptaan Allah, dan Dia-lah yang menjadikannya, adalah perkataan Jahmiyah dan Mu’tazilah yang berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Adapun Ahlus Sunnah maka mereka berpendapat, bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah) yang diturunkan (kepada Nabi-Nya), dan bukan makhluk” [13]</p>
<p>[4]. Sayyid Quthub juga mengatakan : “Sesungguhnya Al-Qur’an merupakan suatu fenomena alam, seperti bumi dan langit” [14]</p>
<p>CELAAN SAYYID QUTHUB TERHADAP NABI ALLAH, MUSA ALAIHIS SALAM<br />
Sayyid Quthub berkata :”Marilah kita ambil Musa sebagai perumpamaan seorang pemimpin yang cepat naik pitam ..[15]</p>
<p>Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah mengomentari perkataan ini : “Penghinaan kepada seorang nabi adalah suatu kemurtadan” [16]</p>
<p>CELAAN SAYYID QUTHUB TERHADAP PARA SAHABAT NABI SHALLALLAHU &#8216;ALAIHI WA SALLAM<br />
[1]. Sayyid Quthub mengatakan :”Kami condong untuk menilai, bahwa kekhalifahan Ali Radhiyallahu ‘anhu adalah kelanjutan dari kekhalifahan dua syaikh sebelumnya [17]. Adapun masa Utsman Radhiyallahu ‘anhu adalah kekosongan diantara dua masa tersebut” [18]</p>
<p>Kita mohon kepada Allah keselamatan</p>
<p>[2]. Sayyid Quthub mengatakan : “Sesungguhnya Mu’awiyah bersama temannya, yaitu Amr (bin ‘Ash), bisa mengalahkan Ali, bukan karena mereka lebih mengetahui tentang rahasia jiwa dan lebih berpengalaman dalam menentukan tindakan bermanfaat pada waktu yang tepat, akan tetapi keduanya sangat cepat dalam menggunakan semua senjata/cara. Adapun Ali terikat dengan budi pekertinya ketika memilih sarana untuk berselisih. Ketika Mua’wiyah dan temannya menggunakan kedustaan, kecurangan, penipuan, kemunafikan suap serta money politik, maka Ali tdak sanggup untuk turun pada derajat serendah ini. Sehingga tidak perlu heran atas kesuksesan keduanya dan kegagalan Ali. Dan sungguh kegagalan (Ali) ini lebih mulia dari segala kesuksesan” [19]</p>
<p>Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah berkomentar : “Ini perkataan yang jelek, ini perkataan yang jelek, celaan terhadap Mu’awiyah, celaan terhadap Amr bin Al-Ash”. Beliau juga berkomentar tentang buku-buku ini, dengan mengatakan :”Sudah sepantasnya, untuk dirobek-robek” [20]</p>
<p>[3]. Pengkafiran Sayyid Quthub terhadap sahabat Abu Sofyan Radhiyallahu ‘anhu.<br />
Sayyid Quthb berkata : “Abu Sufyan adalah seorang lelaki yang bertemu dengan Islam dan kaum muslimin, lembaran-lembaran sejarah mencatatnya, dan dia tidak masuk Islam kecuali telah nampak kemenangan Islam, sehingga Islamnya sebatas bibir dan lisan, bukan keimanan hati dan perasaan. Dan Islam tidaklah masuk kedalam hati lelaki tersebut” [21]</p>
<p>[Disalin dari Shuwar Minal Ghozwil Fikri, Inhirofaat Sayyid Quthub Al-Aqodiyah, diterjemahkan oleh Abu Zahroh Imam Wahyudi Lc, Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 24 Th.V Dzulqo’dah 1427H, Penerbit Ma’had Ali Al-Irsyad As-Salafy Surabaya]<br />
_________<br />
Foote Note<br />
[1]. Dialihbashakan oleh Abu Zahroh Imam Wahyudi Lc dari bulletin terbitan Pustaka Al-Furqon Emirat, berjudul Shuwar Minal Ghozwil Fikri, Inhirofaat Sayyid Quthub Al-Aqodiyah<br />
[2]. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari ahli kitab telah terpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan sesungguhnya agama ini (Islam) akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua golongan di Neraka dan satu golongan di Surga ; yaitu Al-Jama’ah” [Hadits Riwayat Ahmad dan yang lain. Al-Hafidh menggolongkannya hadits Hasan], pent<br />
[3]. Kaset Syarh Al-Muntaqo<br />
[4]. Silahkan merujuk kepada kaset “Aqwalul Ulama Fi Muallafaat Sayyid Quthub (komentar para ulama terhadap karangan-karangan Sayyid Quthub ,-pent), terbitan tasjilat “Minhajus Sunnah” Swedi – Riyadh<br />
[5]. Fii Zhilalil Qur’an (6/3404) cet. Ke-25 th 1417H<br />
[6]. Idem (6/3811)<br />
[7]. Idem (6/3957)<br />
[8]. Idem (5/3018)<br />
[9]. Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepakat akan kafirnya orang yang berpendapat bahwa Al-Qur’an itu makhluk. Jika para pengikut dan pengagum serta simpatisan Sayyid Quthb berpendapat bahwa Imam Ahmad mengkafirkan khalifah Al-Makmun yang menyatakan Al-Qur’an sebagai makhluk, padahal Imam Ahmad tidak mengkafirkannya karena dinilai masih bodoh dan memiliki syubhat, maka hendaklah mereka mengkafirkan idolanya terlebih dahulu, jika mereka merasa sebagai pengikut Ahlus Sunnah bukan pengikut ahlul bid’ah. Akan tetapi saya yakin, mereka tidak akan mengkafirkan idolanya, sehingga dari sinilah akan tersingkap topeng muka dua yang mereka kenakan, Alhamdulillah !!(pent).<br />
[10]. Fii Zhilalil Qur’an (1/38)<br />
[11]. Idem (5/2719)<br />
[12]. Idem (5/3006)<br />
[13]. Al-Maurid Az-Zullat Fit Tanbih Ala Akhthoi Tafsir Adh-Dhilaal, hal.180<br />
[14]. Fii Zhilalil Qur’an (4/2328)<br />
[15]. At-Tahwir Al-Fanny hal. 200<br />
[16]. Silahkan merujuk kepada kaset “Aqwalul Ulama Fi Muallafaat Sayyid Quthub” (komentar para ulama terhadap karangan-karangan Sayyid Quthub), terbitan tasjilat “Minhajus Sunnah” Swedi – Riyadh.<br />
[17]. Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu anhuma (-pent)<br />
[18]. Al-Adalah Al-Ijtima’iyyah hal. 206<br />
[19]. Kutub wa Syakhsiyyat hal. 242<br />
[20]. Silahkan merujuk kepada kaset “Aqwalul Ulama Fi Muallafaat Sayyid Quthub” (komentar para ulama terhadap karangan-karangan Sayyid Quthub), terbitan tasjilat “Minhajus Sunnah” Swedi – Riyadh<br />
[21]. Majalah “Al-Muslimun” edisi 3  tahuun 1371HSumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&amp;article_id=2039</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ikhwanmuwahid.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ikhwanmuwahid.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ikhwanmuwahid.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ikhwanmuwahid.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ikhwanmuwahid.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ikhwanmuwahid.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ikhwanmuwahid.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ikhwanmuwahid.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ikhwanmuwahid.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ikhwanmuwahid.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ikhwanmuwahid.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ikhwanmuwahid.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ikhwanmuwahid.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ikhwanmuwahid.wordpress.com/171/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikhwanmuwahid.wordpress.com&amp;blog=7017694&amp;post=171&amp;subd=ikhwanmuwahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/2010/02/01/menafsirkan-al-quran-dengan-musik-irama-dan-nyanyian-nasyid-celaan-terhadap-nabi-musa-dan-sahabat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0b62982a37de1e8daca30551caffcd2f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ikhwanbiasa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Latar Belakang Pujian Syaikh Ibnu Jibrin Kepada Hasan Al-Banna Dan Sayyid Quthb</title>
		<link>http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/2010/02/01/latar-belakang-pujian-syaikh-ibnu-jibrin-kepada-hasan-al-banna-dan-sayyid-quthb/</link>
		<comments>http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/2010/02/01/latar-belakang-pujian-syaikh-ibnu-jibrin-kepada-hasan-al-banna-dan-sayyid-quthb/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 16:34:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ikhwanbiasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Andy Abu Thalib Al-Atsary Penulis buku “Al-Ikhwan Al-Muslimun : Anugrah Allah Yang Terzalimi berkata di halam 9 paragraf terakhir. “Begitupun tuduhan mereka terhadap Hasan Al-Banna dan Sayyid Quthb serta pemimpin dan ulama Ikhwan lainnya. Padahal, para imam yang dituduh itu adalah tokoh-tokoh kecintaan para ulama masa kini. Hasan Al-Banna dan Sayyid Quthub telah dipuji [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikhwanmuwahid.wordpress.com&amp;blog=7017694&amp;post=168&amp;subd=ikhwanmuwahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh<br />
Andy Abu Thalib Al-Atsary</p>
<p>Penulis buku “Al-Ikhwan Al-Muslimun : Anugrah Allah Yang Terzalimi berkata di halam 9 paragraf terakhir.</p>
<p>“Begitupun tuduhan mereka terhadap Hasan Al-Banna dan Sayyid Quthb serta pemimpin dan ulama Ikhwan lainnya. Padahal, para imam yang dituduh itu adalah tokoh-tokoh kecintaan para ulama masa kini. Hasan Al-Banna dan Sayyid Quthub telah dipuji Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin salah seorang anggota Hai’ah Kibril Ulama di Arab Saudi.</p>
<p>Jawaban<br />
Saya katakan : Perkataan ini harus didudukkan<span id="more-168"></span></p>
<p>Pertama<br />
Harus diketahui latar belakang pujian Syaikh Ibn Jibrin terhadap Sayyid Quthb dan Hassan Al-Banna tersebut. Bahwasanya Syaikh Ibn Jibrin ketika memuji Sayyid Quthb dan Hassan Al-Banna, beliau masih terpengaruh dengan kedekatannya pada tokoh Quthbiyah, Ikhwanul Muslimin kental yakni : Safar Hawali dan Salman Audah. Akan tetapi beliau –semoga Allah Ta’ala mengampuni kesalahan beliau- telah mendapat balasan dan nasehat dari Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi dan Syaikh Muhammad Al-Madkhali. Hal ini dapat dilihat di kitab Radd Al-Jawab ‘Ala Man Thalaba Minna ‘Adama Tab’ul Kitab oleh Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi. Hal seperti ini juga menimpa Syaikh Bakr Abu Zaid yang telah ruju’ dalam kitabnya Hukmul Intima’. Ini adalah bantahan saya pertama.</p>
<p>Kedua<br />
Bahwasanya dalam dien ini telah lazim diadakan Jarh wa Ta’dil. Sebagaimana namanya, Jarh adalah bentuk pencelaan sedangkan Ta’dil adalah bentuk pujian. Belum tentu Ta’dil seorang dapat mengangkat kedudukan seorang rawi yang telah di Jahr, apalagi Jama’atul Minal Ulama telah menjahr.</p>
<p>Saya berikan contoh yang serupa dengan hal ini : Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam An-Nubala [1] mengungkapkan tentang Al-Hasan bin Shalih bin Hayyi [2] dengan ungkapan ta’dil. “Dia adalah salah seorang dari Imam Islam meskipun diselimuti bid’ah”</p>
<p>Akan tetapi, berkata Sufyan Ats-Tsauri, “Apapun ilmu yang didengar dari Al-Hasan bin Shalih maka Al-Jama’ah [3] telah sepakat untuk meninggalkannya” [4]</p>
<p>Berkata Imam Ahmad bin Hanbal, “Kami tidak ridha dengan madzhabnya (Al-Hasan bin Shalih), dan Sufyan lebih kami sukai daripadanya” [5]. Dan masih banyak lagi perkataan para imam ahli hadits tentang Al-Hasan bin Shalih ini, di mana seluruh Ahli Hadits sepakat untuk tidak menerima riwayatnya. [6]</p>
<p>Hal ini dapat dipahami dengan kaidah Al-Jahr wa Ta’dil sebagaimana dikatakan oleh Al-Hafidzh Ibn Hajar Al-Asqalany</p>
<p>“Dan jarh lebih didahulukan daripada ta’dil apabila disandarkan pada sebab-sebab jarh yang jelas dari orang-orang yang mengetahui (sebab-sebab tersebut)” [7]</p>
<p>Maksud dari kaidah ini adalah bahwasanya boleh dilakukan ta’dil terhadap seseorang secara mujmal (global), akan tetapi apabila datang jarh secara mufasar (terperinci) maka yang lebih didahulukan adalah jarh tersebut.</p>
<p>Berdasarkan hujjah di atas, maka bentuk ta’dil dari Syaikh Ibn Jibrin yang masih bersifat mujmal, dan akan berhadapan dengan jahr dari Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Al-Muhadits Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, Syaikh Abdullah Al-Ghadyan, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamid Al Abad Al-Badr, Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi, Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, dan masih banyak lagi yang kesemuanya diturunkan dengan perincian sebab-sebab jarh pada Sayyid Quthb rahimahullah.</p>
<p>Ketiga<br />
Bahwasanya pujian dari Syaikh Ibn Jibrin tetap tidak dapat dijadikan dalil untuk kita mengambil perkataan Sayyid Quthb dan menerimanya secara ilmiyah diniyah, meskipun pujian itu kita anggap sebagai bentuk tazkiyah (pembersihan nama) sekalipun. Hal ini dikarenakan bentuk pujian (tazkiyah) tersebut diturunkan dengan bentuk yang mujmal (global). Al-Hafizh Ibn Hajar berkata :</p>
<p>“Dapat diterima tazkiyah yang menyebutkan sebab-sebab (tazkiyah) tersebut dari orang yang mengetahuinya meskipun ia hanya satu orang” [8]</p>
<p>Kaidah ini tidak berlaku bagi Sayyidh Quthb karena bentuk tazkiyah yang diterimanya adalah dalam bentuk yang mujmal (global) tanpa penjelasan sebab-sebab tazkiyahnya. Wallahu ‘alam</p>
<p>[Disalin dari buku Menyingkap Syubhat Dan Kerancuan Ikhwanul Muslimin Catatan Dan Bantahan Atas Buku Al-Ikhwan Al-Muslimun : Anugerah Allah Yang Terzalimi, Penulis Andy Abu Thalib Al-Atsary, Penerbit Darul Qalam]<br />
_________<br />
Foote Note<br />
[1]. Siyar A’lam an Nubala VII/361, 371<br />
[2]. Al-Hasan bin Shalih bin Hayyi dilahirkan pada tahun 100H dan meninggal pada tahun 178H. Ia termasuk salah satu pembesar Syi’ah Zaidiyah, dan ulama Zaidiyah. Ia juga menjadi pendiri firqah dalam Syi’ah yakni Al-Butriyah. Lihat Al-Farqu Bainal Firaq oleh Al-Baghdady (42)<br />
[3]. Lafal Al-Jama’ah disini bermakna Jama’ah Ahli Hadits<br />
[4] As-Sunnah Lidh Dhalal, 136<br />
[5]. Thabaqah Hanabilah I/58<br />
[6]. Silahkan lihat : Al-Kamal Lii Ibnu Adiy (II/722), Siyar A’lam An-Nubala VII/361, Tahdzib Al-Kamal VI/181. Lihat Bara;atul Ulama Al-Ummah, hal 10, 13 bagi yang menghendaki<br />
[7]. An-Nukat Ala Nuhzatin Nadhar Fii Taudhihil Nuhbatul Fikra, Tahqiq Syaikh Ali Hasan, hal 193<br />
[8]. An-Nukat Ala Nuhzatin Nadhar Fii Taudhihil Nuhbatul Fikra, Tahqiq Syaikh Ali Hasan, hal 189</p>
<p>Sumber : <a href="http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&amp;article_id=1131&amp;bagian=0">http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&amp;article_id=1131&amp;bagian=0</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ikhwanmuwahid.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ikhwanmuwahid.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ikhwanmuwahid.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ikhwanmuwahid.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ikhwanmuwahid.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ikhwanmuwahid.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ikhwanmuwahid.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ikhwanmuwahid.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ikhwanmuwahid.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ikhwanmuwahid.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ikhwanmuwahid.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ikhwanmuwahid.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ikhwanmuwahid.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ikhwanmuwahid.wordpress.com/168/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikhwanmuwahid.wordpress.com&amp;blog=7017694&amp;post=168&amp;subd=ikhwanmuwahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/2010/02/01/latar-belakang-pujian-syaikh-ibnu-jibrin-kepada-hasan-al-banna-dan-sayyid-quthb/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0b62982a37de1e8daca30551caffcd2f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ikhwanbiasa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bantahan Syubhat-syubhat sekitar Pemilu</title>
		<link>http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/2010/02/01/kitabah-bantahan-syubhat-syubhat-sekitar-pemilu/</link>
		<comments>http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/2010/02/01/kitabah-bantahan-syubhat-syubhat-sekitar-pemilu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 16:32:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ikhwanbiasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/?p=164</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu, 20 Maret 2004 &#8211; 22:20:20, Penulis : Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al Imam Kategori : Kitabah Bantahan Syubhat-syubhat sekitar Pemilu SYUBHAT KELIMA PEMILU TERMASUK MASHALIH AL MURSALAH Kami terjun ke dalam pemilu karena ia termasuk mashalih al mursalah, begitu kata mereka. Maka jawabannya : 1. Mashalih al mursalah bukanlah salah satu pokok [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikhwanmuwahid.wordpress.com&amp;blog=7017694&amp;post=164&amp;subd=ikhwanmuwahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sabtu, 20 Maret 2004 &#8211; 22:20:20, Penulis : Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al Imam Kategori : Kitabah Bantahan Syubhat-syubhat sekitar Pemilu</p>
<p>SYUBHAT KELIMA<br />
PEMILU TERMASUK MASHALIH AL MURSALAH</p>
<p>Kami terjun ke dalam pemilu karena ia termasuk mashalih al mursalah, begitu kata  mereka.</p>
<p>Maka jawabannya :<span id="more-164"></span><br />
1. Mashalih al mursalah bukanlah salah satu pokok agama yang wajib diamalkan namun ia merupakan washilah (sarana perantara) yang bila telah terpenuhi syarat-syaratnya baru boleh diamalkan. Para ulama ushul menyebut mashalihul mursalah setelah pembahasan masalah qiyas dan saat membahas al istihsan.<br />
2. Definisi maslahat ialah perkara yang tidak ada nasnya secara langsung berupa pengharaman atau yang mewajibkan namun berada di bawah hukum pokok yang umum. Definisi lain yang disebutkan oleh para ulama ushul, maslahat adalah suatu keadaan yang tidak ada ketetapannya dari sisi syar’i.<br />
Para shahabat telah mengambil mashalih mursalah. Begitu pula tabi’in dan atba’ut tabi’in. Termasuk maslahat mursalah adalah mengumpulkan Al Quran hanya pada naskah yang dipilih oleh Utsman, mengarang kitab fiqih dan kitab-kitab bahasa Arab serta kitab ilmu hadits dan mencampakkan selainnya.</p>
<p>Sebagaimana telah disebutkan di depan bahwa mashlahat al mursalah tidak termasuk dalam hukum-hukum pokok namun ia termasuk perkara ijtihadiyah yang pendapat seseorang bisa salah dan bisa benar. Syariat secara keseluruhan datang dalam rangka merealisir kemaslahatan manusia, menghilangkan kesusahan dan kesempitan sebagaimana dikatakan Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Miftah Darus Sa’adah (2/23).<br />
Dari pemaparan singkat di atas dapat kita simpulkan bahwa syariat datang untuk mewujudkan kemaslahatan manusia. Atas dasar ini mashlahat al mursalah mempunyai syarat-syarat yang wajib dijaga apabila syarat-syaratnya terpenuhi maka boleh diambil. Maka, apakah kalian menjaga syarat-syarat tersebut? Dan akan kita bawakan syarat-syaratnya setelah menjelaskan syubhat kelima belas, Insya Allah.</p>
<p>Berkata Imam Asy Syathibi dalam kitabnya Al Muwafaqat (4/ 210) :<br />
“Mengambil mashalih mursalah adalah benar dengan syarat mampu dan memaksakan.”<br />
Mashalih mursalah adalah perkara-perkara yang tidak ada ketetapannya di sisi syariat. Di antaranya perkara-perkara yang bersifat umum dan khusus. Adapun pembahasan kita (pemilu) maka mafsadat-mafsadatnya telah lalu kita sebutkan yang mana orang berakal tidak ragu lagi menggolongkannya ke dalam mafasid al muharramah (mafsadat-mafsadat yang haram) sebagai ganti dari mashalih mursalah.</p>
<p>SYUBHAT KEENAM<br />
PEMILU DAN HIZBIYYAH ADALAH PERSOALAN ARTIFISIAL BUKAN SUBSTANSIAL</p>
<p>Mereka mengatakan, kami tidak mendapati dalam Al Quran dan As Sunnah seujung kuku nash yang menyinggung permasalahan pemilu ini.</p>
<p>Kami katakan, perkataan kalian bahwa perkara ini adalah perkara artifisial dan bukan substansial adalah kesalahan yang sangat fatal.<br />
1. Bagaimana mungkin ia merupakan perkara artifisial sementara terkandung di dalamnya penghamburan harta, pergumulan dengan musuh, masalah al wala’ wal bara dan pendekatan diri kepada Allah (politik adalah ibadah, ed.) sebagaimana yang kalian dakwakan. Juga kalian memandang diri kalian dengan pemilu tersebut sebagai para pembela kebenaran dan memandang wajib bagi kaum Muslimin untuk ikut bergabung bersama kalian di dalam hizbiyyah.<br />
Kalau ini semua adalah perkara artifisial lantas apa yang substantif menurut  kalian?<br />
2. Bagaimana mungkin semua ini merupakan masalah yang artifisial padahal zahir keadaan kalian, baik perkataan maupun perbuatan menunjukkan bahwa ia (hizbiyyah) adalah satu-satunya manhaj dan pilihan yang tepat untuk menegakkan agama Allah? Apakah kalian telah bersikap jujur pada diri kalian sendiri? Jika kalian mengatakan ya, lantas adakah artifisialitas pada masalah terpenting dalam agama yakni mengokohkan tauhid di muka bumi?<br />
Jika kalian mengatakan :<br />
“Tidak, kami tidak percaya ketika kalian mengatakan hal tersebut.”<br />
Maka cukuplah kalian sendiri yang akan menanggung akibatnya. Wallahul musta’an.<br />
Islam seluruhnya adalah substansi yaitu akidah lurus yang menancap di dalam hati, tauhid yang uniyersal, al wala’ wal bara’ dan sikap tunduk kepada kebenaran. Tidak ada masalah-masalah kulit seluruhnya adalah isi.<br />
3. Artifisialisme telah dicampakkan oleh Islam karena ia merupakan perbuatan orang munafik, menampakkan sesuatu yang berbeda dari apa yang mereka sembunyikan, mengatakan sesuatu yang berbeda dengan yang mereka perbuat, dan berbuat yang menyelisihi apa yang diperintahkan Allah kepada mereka.</p>
<p>Allah Azza wa Jalla berfirman :<br />
“Mereka menjadikan sumpah mereka sebagai perisai lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al Munafiqun : 2)<br />
Senjata kaum munafik adalah sikap yang tampak karena ini Allah Ta’ala berfirman  tentang shalat mereka :<br />
“Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An Nisa’ : 142)<br />
Dan semua kegiatan agama mereka seperti ini. Inilah artifisialisme yang telah dicampakkan oleh Islam. Semua ini membahayakan pelakunya dan dapat membuatnya terperosok ke jurang neraka yang paling bawah.<br />
Allah Azza wa Jalla berfirman :<br />
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman.” (QS. An Nisa’ : 145)<br />
Allah mengajak hamba-Nya untuk bersikap jujur dan ikhlas dalam beribadah kepada-Nya, mencintai-Nya dan takut dari azab-Nya, ridha terhadap hukum-Nya dan pasrah terhadap syariat-Nya, dan waspada terhadap perintah dan larangan-Nya, tawakkal dan percaya kepada-Nya dan mendengarkan perkataan-Nya. Ini semua adalah substansi dan Islam seluruhnya mendorong kepada hal ini.<br />
4. Tampaknya kalian banyak bergelut dengan istilah-istilah. Kalian telah siap sedia untuk memenuhi dunia ini dengan istilah-istilah serta menyibukkan masyarakat dan para penuntut ilmu dengan segala istilah itu. Lalu kalian mempopulerkannya dan kalian menipu manusia sampai batas waktu tertentu. Hukum-hukum pun telah “dipersiapkan” agar sesuai dengan sistem dan hawa nafsu kalian. Kompromi adalah hal yang masyru’ (disyariatkan), kompromi antara yang haq dan yang batil selama dalam hal itu ada kemaslahatan yang terwujud bersama hizbiyyah dalam pandangan kalian. Demi Allah kami katakan ini bukan sebagai celaan namun sangat memprihatinkan bahwa ini adalah kenyataan. Hak Muslim terhadap Muslim lainnya adalah jujur dan jelas dalam memberi nasihat dan kami telah menyinggung permasalahan ini dalam berbagai majlis.<br />
Kami tidak melihat adanya jawaban bahkan kami melihat kalian terus menerus menyelisihi syariat dan bersungguh-sungguh dalam memojokkan Ahlus Sunnah. Maka menguatlah dorongan pada diri kami untuk mengajukan bantahan dan sanggahan ketika kalian menampakkan penyelisihan terhadap al haq.</p>
<p>Allah Yang Maha Mengetahui segala yang berada di balik tujuan dan Dia-lah tempat  meminta tolong dan perlindungan.</p>
<p>SYUBHAT KETUJUH<br />
KAMI BERNIAT BAIK<br />
Mereka hendak mengatakan bahwa :<br />
“Kami tidak berdosa karena niat dan tujuan kami yang baik. Keinginan kami tidak  lain adalah menolong Islam.”<br />
Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan namun tidak bisa menggapainya. Kebaikan tidak akan terwujud dengan semata-mata bermodalkan niat yang baik dan mengabaikan kebenaran.<br />
Sudah terang &#8211;laksana matahari di siang bolong&#8211; bahwa seluruh amalan tidak akan diterima di sisi Allah kecuali dengan dua syarat yakni :<br />
1. Ikhlas yakni seseorang beramal mencari keridhaan Allah Azza wa Jalla dan<br />
2. Selaras dengan syariat Allah sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah.<br />
Apabila hilang salah satu dari dua syarat di atas tidaklah diterima amalan tersebut di sisi Allah. Kami menganggap bahwa kalian memang menginginkan kebaikan. Namun itu tidaklah cukup. Amalan shalih harus sesuai dengan syariat dalam bilangan, tata cara, sifat dan bentuk, mula dan akhir, dalam pokok dan cabang hukum, serta dalam tempat dan waktu.</p>
<p>Dalil-dalil tentang hal itu adalah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa  Sallam bersabda :<br />
“Barangsiapa yang mengada-adakan amalan baru dalam urusan kami ini (agama Islam) maka ia tertolak.” (Muttafaq ‘alaihi dari Aisyah radliyallahu ‘anha)<br />
Dan dalam Shahih Muslim :<br />
“Barangsiapa yang beramal dengan amalan yang bukan dari agama kami maka itu  tertolak.”</p>
<p>Lafazh man termasuk lafazh-lafazh yang umum. Perbuatan apapun yang mengada-ngada ini seluruhnya tertolak. Maka otomatis ibadahnya ahli bid’ah tertolak. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah bersabda :<br />
“Sesungguhnya Allah menghalangi taubat pelaku bid’ah hingga dia meninggalkan bid’ahnya.” (Riwayat Thabrani, Baihaqi, dan Adh Dhiya dari Anas radliyallahu ‘anhu)<br />
Ahli ibadah ini memacu jiwanya dan bersemangat dalam beribadah kepada Rabb-nya. Namun Allah tidak menerima sedikitpun amalan yang ia lakukan kendati dia sangat mengharapkan pahala dari sisi Allah. Keikhlasannya dalam beramal tidak dibarengi dengan mengkaji sumber syariat amalan tersebut.<br />
Tiap kali dia sungguh-sungguh bertaubat, taubatnya senantiasa tertolak meski niatnya baik dan tujuannya agung. Hal ini tidak menyelamatkan pelakunya dari kesalahan-kesalahan sama sekali.</p>
<p>Diriwayatkan dalam Shahihain dari hadits Usamah bin Zaid, beliau mengatakan :<br />
[ Saya pernah mengejar seorang musyrikin bersama seorang Anshar ketika kami hampir membunuhnya dia mengatakan Laa Ilaha Illallah. Temanku mengurungkan niatnya dan saya memenggalnya hingga tewas. Lantas saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tentang hal itu, beliau menjawab :<br />
“Apakah kamu membunuhnya setelah dia mengucapkan Laa Ilaha Illallah?” Saya berkata : “Wahai Rasulullah, dia mengucapkan demikian hanya untuk berlindung diri.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam balik bertanya : “Apakah kamu telah membelah hatinya? Lantas apa yang akan kamu lakukan dengan kalimat Laa Ilaha Illallah apabila telah datang hari kiamat?”<br />
Usamah mengatakan, beliau terus mengulang-ngulangnya sampai saya berandai-andai bahwa saya belum masuk Islam kecuali pada hari ini. ]</p>
<p>Lihatlah Usamah dan maksudnya yang baik untuk menolong Islam. Apakah dia bermaksud jahat? Tidak! Meski demikian, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mencela perbuatannya dan tidak memaafkan dengan sebab tujuannya yang baik.<br />
Demikian pentingnya masalah ini hingga para ulama pun telah mengarang banyak  kitab yang memperingatkan umat dari bahaya bid’ah.<br />
Adapun bid’ah adalah beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Lihatlah kitab Al I’tisham karya Asy Syatibi. Dengan sangat baiknya beliau berbicara tentang bahaya bid’ah, jenis-jenis dan cabangnya.</p>
<p>Seandainya orang-orang yang mengatakan, “niatku baik dan tujuanku baik” dapat dibenarkan tentu hal ini akan menyebabkan banyak orang melakukan pembunuhan lantas berlindung di balik alasan “niatku baik”.<br />
Orang yang mengkonsumsi minuman keras akan berkata “niatku baik”. Yang seperti ini banyak dan kerap terjadi karena menyangkut aktifitas hati. Kita tidak mampu untuk menetapkannya dan kita tidak bisa mengambil faidah kecuali dengan dalil yang menyertainya dari luar (hati).</p>
<p>Allah telah membimbing kita untuk mengambil lahiriah berbagai perkara dan Allah-lah yang menguasai urusan yang tersembunyi. Oleh karena inilah Umar berkata sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan lainnya :<br />
“Sesungguhnya wahyu telah terhenti dan sesungguhnya kami menghukumi kalian dengan hal-hal yang tampak bagi kami dari perbuatan kalian. Barangsiapa yang nampak bagi kami kebaikannya maka kami berikan keamanan dan rahasianya bukanlah urusan kami sedikitpun. Allah yang akan menghisab rahasia-rahasia mereka. Barangsiapa yang nampak bagi kami kejahatannya, kami tidak akan memberikan jaminan keamanan dan tidak akan mempercayainya meski dia mengatakan :<br />
‘Sesungguhnya hatiku berniat baik.’<br />
Sesungguhnya kami tidak bersedia untuk menerima orang yang mengaku hatinya baik. Kami memiliki dalil-dalil yang menunjukkan bahwa zhahir yang baik adalah bukti atas batin yang baik dan rusaknya zhahir merupakan bukti atas rusaknya batin.</p>
<p>Rasulullah bersabda :<br />
‘Sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal daging, bila ia baik maka baiklah seluruh jasad, bila ia rusak maka rusaklah seluruh jasad.’” (Muttafaq ‘alaihi dari Nu’man bin Basyir)</p>
<p>Orang yang sudah diketahui kebaikannya lalu terjadi padanya kekeliruan dalam perkataan maupun perbuatan maka mungkin kekeliruan tersebut dilakukan atas dasar tujuannya yang baik. Dan mestinya dia diingatkan dari perkara-perkara yang keliru. Adapun orang yang sudah diketahui sebagai orang yang menyimpang dari syariah dan tidak mau menerima kebenaran maka kekeliruannya tidak mungkin ditolerir. Yang saya pahami, sebagian tokoh pergerakan Islam telah mengetahui bahwa pemilu adalah haram. Namun mereka terus ikut serta apapun keadaannya. Dan kami berbaik sangka bahwa mayoritas mereka menginginkan hal itu dalam rangka menolong Islam. Akan tetapi “betapa banyak orang yang mencari kebenaran tidak bisa menggapainya”. Bila memang benar kita ingin menolong agama Islam maka sebaik-baik petunjuk adalah petuniuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Seperti kata Imam Malik :<br />
“Umat terakhir tidak akan bisa baik kecuali dengan sesuatu yang telah membuat  baik umat pertama.”<br />
Wallahu musta’an.</p>
<p>SYUBHAT KEDELAPAN<br />
MENDIRIKAN NEGARA ISLAM<br />
Para pemikir Islam mengatakan :<br />
“Kami terjun dalam pemilu dalam rangka mendirikan negara Islam.”</p>
<p>Persoalannya adalah bagaimana mungkin orang yang di awal langkahnva menginjak-nginjak Islam dapat menegakkan negara Islam dan menerapkan hukum syariat sementara dia sendiri adalah orang yang pertama kali mengalah dalam perkara syariat? Bukankah undang-undang pemilu adalah bagian dari UU sekuler yang diimpor dari Eropa?</p>
<p>Jawabnya :<br />
Tentu sebagaimana telah lalu.<br />
Bila mereka benar-benar ingin menegakkan negara Islam sesuai dengan ucapan mereka, kenapa mereka tidak memulainya dengan menolak pemilihan umum? Dan mengatakan, kami tidak menerima pemilu karena ia adalah sistem thaghut. Kami tidak pernah mendengar seorang pun dari mereka membantah bencana ini. Bahkan dengan tunduknya mereka kepada UU (barat) dalam perkara pemilu berarti mereka telah siap untuk berkompromi setiap kali mereka hendak memperbaiki hukum-hukum demokrasi. Bagaimana mungkin mereka ridha diatur oleh hukum ala barat lalu mengatakan, kami akan menegakkan hukum Allah? Ini semua hanya slogan kosong belaka.</p>
<p>Dan ini kami anggap sebagai sikap merendahkan diri dan memang mereka selalu  mengalah. Sekedar contoh, mereka mengatakan :<br />
“Kami akan menegakkan negara Islam.”<br />
Dan mereka terus menggembar-gemborkan kalimat ini dalam beberapa masa kemudian kita tidak mendengar apapun melainkan mereka telah memiliki slogan baru yakni :<br />
“Sesungguhnya kami tidaklah menginginkan kecuali perbaikan sesuai dengan kadar  kemampuan.”</p>
<p>Mereka mengalah dari rencana menegakkan negara sampai akhirnya menghendaki perbaikan menurut kadar kemampuan mereka. Padahal tidak diragukan lagi bahwa wajib bagi tiap kaum Muslimin untuk memperbaiki apa yang mereka mampu. Ayat ini adalah ucapan Nabiyullah Syuaib Alaihis Salam pada asalnya. Lantas mereka menjadikan agama dan ayat semata-mata hanya sebagai kumpulan slogan omong kosong.</p>
<p>Slogan terakhir yang mereka serukan merupakan bukti dari sekian banyak sikap mengalah mereka. Bisa diambil kesimpulan bahwa mereka telah gagal dalam memberikan gambaran yang lemah sekitar penegakkan daulah Islam. Dan mereka terus meniti tangga-tangga untuk mengalah. Kami sangat khawatir mereka akan menghilangkan yang masih tersisa pada mereka yakni Islam karena penyimpangan-penyimpangan dimulai sedikit demi sedikit hingga lepas semua. Maha Benar Allah yang telah berfirman :<br />
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar.” (QS. An Nur : 21)</p>
<p>Perhatikanlah akhir dari “orang yang menginginkan perbaikan menurut kemampuannya”, ia memerintahkan untuk menyelisihi syariat dengan dalih kemaslahatan. Dan dia mengalah dari satu kebenaran merupakan sebab diturunkannya azab Allah di dunia dan di akhirat.<br />
Allah Azza wa Jalla berfirman :<br />
“Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia.</p>
<p>Dan kalau Kami tidak memperkuat(hati)mu niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun terhadap Kami.” (QS. Al Isra : 73-75)<br />
Kalau begitu, apa artinya mengalah dan manfaat apa yang bisa diambil bila sikap mengalah ini mendatangkan azab Allah yang buruk di dunia dan di akhirat?</p>
<p>Firman Allah Azza wa Jalla :<br />
“Dan pastilah azab di akhirat lebih pedih dan lebih kekal.” (QS. Thaha : 127)<br />
Juga firman Allah lainnya :<br />
“Dan sesungguhnya azab di akhirat lebih hina sedangkan mereka tidaklah  ditolong.” (QS. Fushilat : 16)<br />
Orang-orang kafir di sini tidak menuntut kepada Nabi kita agar meninggalkan agamanya karena mereka tahu bahwa Nabi tidak akan melakukan hal itu. Namun mereka menuntut Nabi agar mengalah (memberi konsesi) meski dalam sebagian kecil kebenaran. Rabb kita telah menganugerahkan kepada Nabi kita dengan anugerah kebaikan dan pemahaman yang lurus serta ketegaran dan perlindungan ketika menghadapi orang-orang musyrik. Ayat ini memberikan faidah bahwa menggaet tokoh pimpinan dan penguasa agar mereka menjadi pelopor terdepan dalam barisan dakwah dalam takaran dakwah kepada Allah tidaklah diperbolehkan karena mengalah dalam perkara agama ini walau dengan dalih untuk mewujudkan kemaslahatan dakwah tidaklah diperbolehkan.</p>
<p>Allah Azza wa Jalla telah berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia :<br />
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah) maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.</p>
<p>Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin.” (QS. Al Maidah : 49-50)<br />
Al Quran Al Karim telah memperingatkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dari sikap mengalah kepada siapapun dan kekuasaan manapun, baik di bawah kendali orang-orang yahudi maupun musyrik. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam diminta untuk tidak keluar dan tidak goyah berhukum dengan hukum Allah Azza wa Jalla bahkan Allah mengancam Nabi-Nya dengan ancaman yang sangat keras dan siksa yang sangat menyakitkan apabila terjadi padanya kelancangan dalam menisbatkan hukum yang tidak difirmankan dan disyariatkan oleh-Nya.</p>
<p>Allah berfirman :<br />
“Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.” (QS. Al Haqqah : 44-46)<br />
Sungguh rugi orang yang menyangka bahwa dia akan hidup dengan selamat sementara pada saat yang sama dia banyak mengalah dalam perkara-perkara yang berkait dengan Islam. Padahal dia menempati kedudukan sebagai da’i, ulama, dan figur yang diteladani. Dan mereka belum juga berhenti dan terus menerus mengalah dalam berbagai perkara keislaman. Kepada Allah-lah tempat mengadu.</p>
<p>SYUBHAT KESEMBILAN<br />
MENEGAKKAN SYARIAT SECARA BERTAHAP</p>
<p>Terhadap orang yang mengatakan kepada mereka : “Kalian tidak merealisasikan  apapun selama ini.”<br />
Maka mereka menjawab &#8211;dalam rangka pembelaan diri&#8211; : “Menegakkan syariah itu  harus dengan cara bertahap.”<br />
Ucapan ini tidak benar karena beberapa hal.<br />
1. Menegakkan syariat bisa dilakukan secara bertahap dengan jalan yang syar’i  bukan dengan sistem barat.<br />
2. Perkataan ini diucapkan oleh muballigh-muballigh propagandis pemilu dengan tujuan agar manusia mau menerima pemilu dan berkecimpung di dalamnya tanpa ada beban sedikitpun. Sedangkan para anggota majelis perwakilan dari kalangan kaum Muslimin bukanlah orang-orang yang berupaya menegakkan Islam secara bertahap dan tidak juga dengan cara lainnya. Sebagai bukti, tiap kali ada hukum (dari luar Islam) yang datang kepada mereka pasti mereka setujui kecuali orang-orang yang dirahmati Allah Azza wa Jalla meskipun di dalamnya terdapat begitu banyak penyimpangan syar’i. Ini apabila mereka dimintai pendapatnya maka bagaimana apabila hukum tersebut diputuskan tanpa mereka? Alangkah miripnya keadaan mereka dengan orang yang dikatakan oleh seorang penyair :<br />
Urusan tuntas tatkala kekacauan telah hilang<br />
Mereka tidak dimintai izin padahal mereka para saksi<br />
3. Kenapa kalian tidak memaparkan secara bertahap ini? Bahkan kalian meninggalkannya secara terbuka. Tujuannya kalau nanti ada yang mempersoalkan hal ini maka kalian bisa menjawab : “Kami berpendirian bahwa penerapan syariah itu harus dilakukan secara bertahap.”<br />
Kuat sangkaan saya dan Allah Yang Maha Mengetahui bahwa kalian akan senantiasa berkata begini. Sampai kiamat kalian tidak akan menerapkan kaidah ini.<br />
Kalian tidak memiliki satu pun hukum yang terealisir kecuali yang berasal dari orang-orang sekuler. Kalian tidak memiliki apa-apa walau jumlah kalian banyak. Janganlah berkhayal karena kalian menguasai undang-undang yang “mengekang” kalian sendiri. Bertakwalah kepada Allah! Jadilah orang-orang yang jujur! Atas dasar ini, klaim kalian bahwa kalian akan menegakkan syariah secara bertahap adalah omong kosong belaka tidak ada hakikat dan buktinya. Demi Allah, saya khawatir kebaikan-kebaikan yang masih tersisa pada mereka malah mereka sia-siakan dengan dalih bahwa mereka sedang meniti tahapan.</p>
<p>Allah Azza wa Jalla telah berfirman :<br />
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (QS. Ash Shaff : 2-3)</p>
<p>(Dikutip dari buku, judul Indonesia :&#8221; Menggugat Demokrasi dan Pemilu, Menyingkap Borok-borok Pemilu dan Membantah Syubhat Para Pemujanya&#8221;. Karya Ulama dari Yaman, Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al Imam, pengantar Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi&#8217;i Rahimahullah, Ulama Yaman. Judul asli Tanwir Azh-Zhulumat bi Kasyfi Mafasid wa Syubuhat al-Intikhabaat. Penerbit : Maktabah al-Furqan, Ajman, Emirate. Sumber http://www.assunnah.cjb.net.)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ikhwanmuwahid.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ikhwanmuwahid.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ikhwanmuwahid.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ikhwanmuwahid.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ikhwanmuwahid.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ikhwanmuwahid.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ikhwanmuwahid.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ikhwanmuwahid.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ikhwanmuwahid.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ikhwanmuwahid.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ikhwanmuwahid.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ikhwanmuwahid.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ikhwanmuwahid.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ikhwanmuwahid.wordpress.com/164/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikhwanmuwahid.wordpress.com&amp;blog=7017694&amp;post=164&amp;subd=ikhwanmuwahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikhwanmuwahid.wordpress.com/2010/02/01/kitabah-bantahan-syubhat-syubhat-sekitar-pemilu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0b62982a37de1e8daca30551caffcd2f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ikhwanbiasa</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
